"Istrinya Raka ya?" sapa seorang wanita yang jika dilihat-lihat usianya sama dengan usia mama Mala.
Mala yang dipanggil pun kemudian berdiri "iya" jawabnya tersenyum.
"Ga banget, dandanannya aja begini" gumam wanita itu yang masih dapat didengar telinga Mala.
"Maaf tante siapa ya?" tanya Mala menyelidik.
"Tantenya Raka" ucapnya memperkenalkan diri.
"Oh, hai tante saya Mala" sahut Mala mengulurkan tangan, tapi tidak ada balasan.
"Anaknya mana?" tanya wanita itu kembali.
"Maaf tan, Mala belum punya anak" jawab Mala canggung dan suasana menjadi tidak enak.
"Padahal nikahnya udah lama tapi belum hamil juga? Mandul ya??" sarkas wanita itu yang membuat Mala bungkam. Dan langsung pergi begitu saja setelah mengatakannya.
Raka kembali dengan dua gelas air minum ditangannya "ini sayang" Raka memberikan satu gelas kepada Mala.
"Raka, kita pulang sekarang ya. Aku capek" pinta Mala tersenyum getir.
Raka sedikit heran tapi ia menyetujuinya "ayo sayang kita pulang sekarang"
Raka mengandeng Mala kembali menuju mobil, hingga didalam mobil, sunyi senyap tidak ada obrolan diantara keduanya. Raka sesekali melihat Mala lewat kaca dalam mobil, memperhatikan ada apa sebenarnya pada Mala yang terus membuang muka melihat keluar kaca.
"Sayang kenapa dari tadi diem aja?" Raka membuka obrolan, tapi nihil tidak ada jawaban dari Mala hanya gerakan-gerakan tangan mengusap matanya.
Raka menepikan mobilnya, diambilnya tangan Mala "hei sayang, kamu kenapa?" tanya Raka melihat Mala ternyata sedang menangis.
"Hiks..hiks...hiks..." tangis Mala tak terbendung. Raka langsung menarik Mala kedalam pelukannya.
"Kenapa sayang? Ada yang sakit?" tanya Raka mendapat gelengan dari Mala.
"Terus kenapa? Ada yang jahat sama kamu?"
"Hiks...A-aku tadi ketemu tante kamu, terus dia bilang katanya hiks...aku mandul karena belum hamil" tangisnya semakin pecah sembari menjelaskan.
"Tante siapa?" tanya Raka yang lagi-lagi mendapat gelengan dari Mala. Acara pernikahannya yang cukup private, kelurganya hanya mengundang orang-orang tertentu dan kerabat saja. Mungkin wanita itu berhalangan hadir hingga Mala baru pertama kali melihatnya.
"Tenang ya sayang, gapapa ga usah dipikirin nanti kamu sakit" Raka berusaha menenagkan Mala. Marah? Tentu saja Raka marah tapi ia tidak bisa melampiaskannya karena ia tak tahu tante mana yang Mala maksud.
Raka mencium kening Mala cukup lama, menenagkan Mala sebelum melajukan kembali mobilnya.
****
"Mala, sayang" Raka memanggil Mala, matanya menatap sekeliling ruangan mencari keberadaan istrinya.
"Sayang" panggilnya sekali lagi sembari menuruni anak tangga.
"Aku didapur!" sahut Mala dari arah dapur.
Raka melangkahkan kakinya menuju dapur, dilihat istrinya itu tengah meletakkan potongan apel kedalam mangkuk.
"Kenapa kok makan apel malem-malem?"
Mala melirik Raka, laki-laki itu selalu tampan ketika bangun tidur dengan rambut sedikit acak-acakan dan jangan lupa roti sobek yang terlihat dimatanya meski terbalut kaos.
"Ga tau pengen aja!"
"Makannya dikamar aja ya, temenin aku tidur" Raka sengaja menyuruh Mala makan buah dikamar. Ia mengantuk tapi tidak bisa tidur jika tidak ada Mala.
"Iya"
Mereka jalan beriringan menuju kamar, dengan Mala yang membawa mangkuk kecil berisi buah apel. Entah kenapa ia sangat menginginkan buah itu.
****
Dipagi harinya Mala merasa begitu mual, ia segera berlari menuju kamar mandi.
"Huek....huek...."
Raka yang tengah bersiap-siap pergi ke kantor, terkejut mendengar suara Mala.
Tok..tok..tok
"Sayang, kamu gapapa?" tanya Raka dengan wajah cemas berulang kali mengetuk pintu kamar mandi.
Sementara itu didalam kamar mandi Mala sedang memuntahkan seluruh isi perutnya, namun hanya cairan bening yang berhasil keluar.
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Mala dengan wajah pucat, kondisi berantakan serta tubuhnya yang lemas. Rasa mual itu benar-benar menguras energinya.
"Kamu kenapa La, kamu demam? Mana yang sakit, kita kerumah sakit sekarang ya?" tanya Raka bertubi-tubi.
Mala menggeleng "ga usah, aku cuma masuk angin, istirahat sebentar nanti juga sembuh kok" jawab Mala masih menampilkan sedikit senyuman.
Raka menuntun Mala, membaringkannya kembali ke ranjang.
"Kamu ga berangkat ke kantor?" tanya Mala melihat Raka yang duduk disampingnya dengan ekspresi cemas.
"Ga. Aku khawatir sama keadaan kamu" jawab Raka sembari mengelus rambut Mala serta terus memperhatikan wajah istrinya yang begitu pucat.
"Aku gapapa kok, kamu pergi ke kantor ya pasti banyak pekerjaan kamu" kini beralih tangan Mala yang tengah mengelus tangan Raka.
Raka berpikir sejenak " ya udah aku berangkat, kalo ada apa-apa langsung telpon aku" Mala mengangguk.
"Aku berangkat sayang, cepet sembuh" pamit Raka setelah menaikkan selimut dan mengecup kening Mala.
Bersambung...
Jangan lupa votenya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMALA
Teen FictionNigista Amala Pradivtha merupakan gadis cantik jelita dan penuh keceriaan. Tapi kehidupannya harus berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia menikah dengan cinta pertamanya. Seorang pria bernama Kalendra Raka Bimantara. Raka, sosok pria yan...
