Bab 54 : Hamil

874 64 9
                                        

"Bi, tolong buatin bubur ya buat Mala sama bawakan obatnya sekalian "

"Non Mala sakit tuan?"

"Dari tadi pagi mual-mual terus, makasih ya bi"

"Iya tuan"

Tok...tok...tok...

"Non Mala, ini bibi"

"Masuk bi!" Mala beralih duduk menyandarkan tubuhnya.

"Ini buburnya non dan ada obatnya juga, bibi dengar  dari tuan, non Mala sakit"

"Cuma masuk angin biasa, makasih ya bi. Makanannya tolong ditaruh meja aja"

"Sama-sama non, kalo gitu bibi lanjut ke dapur lagi" pamit bi Inah meninggalkan kamar Mala.

   Mala mengambil bubur putih itu, diaduknya perlahan karena sedikit panas. Belum sempat ia menyuapkan ke mulutnya, perut Mala kembali bergejolak. Melihat bubur yang terlihat encer itu membuat Mala kembali ke kamar mandi berusaha memuntahkan isi perutnya.

"Huek...huek..."

Mala mengingat-ingat kembali apakah dirinya salah makan, Mala rasa tidak ia tidak memakan makanan yang aneh.

Sepulang kerja, Raka langsung menghampiri Mala yang tengah tertidur. Mengelus rambutnya dengan lembut.

"Euhhh...." lengkuhan Mala yang terusik dari tidurnya.

"Gimana sayang, masih sakit?" tanya Raka melihat Mala yang membuka mata.

"Kamu udah pulang? Kepala aku sedikit pusing Rak"

"Ke rumah sakit sekarang ya, aku khawatir sama keadaan kamu La!" Mala menggeleng pelan ia yakin hanya masuk angin biasa. Lagi pula Mala juga takut jika harus ke rumah sakit, jujur saja ia takut jarum suntik.

"Ya udah kalo gitu kamu istirahat lagi" Raka mengalah karena ia tau Mala yang keras kepala akan terus menolak dibawa ke rumah sakit.

"Tapi kalo sampai besok kamu belum sembuh, kita ke rumah sakit. Ga ada penolakan!"

****

Pasangan muda itu tengah memasuki rumah sakit, berniat ingin memeriksakan sang istri

"Raka aku udah gapapa, kenapa kita kerumah sakit?"

"Gapapa gimana, suara kamu udah lemas gitu dari kemarin juga kamu ngeluh pusing!" Raka tak habis pikir dengan istrinya.

"Selamat pagi tuan dan nona, bisa saya periksa dulu ya" Dokter menuntun Mala untuk berbaring.

Dokter itu memeriksa Mala dengan sangat telaten.

"Baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tuan..." ucap dokter terpotong.

"Dokter ini gimana, tidak ada yang perlu dikhawatirkan?! Lihat istri saya sudah lemas begitu dari kemarin!" sungut Raka.

"Raka sabar dengerin dulu penjelasan dokter" ucap Mala menenangkan suaminya.

"Begini tuan dan nona, kondisi nona Mala memang wajar dialami oleh wanita yang sedang hamil trimester awal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan selagi mual, muntah dan pusing yang tidak berlebih" jelas sang Dokter menjelaskan keadaan Mala.

"Ha-hamil? Apa benar saya sedang hamil Dok?" tanya Mala lagi memastikan ia tak salah dengar.

"Benar nona Mala, anda sedang hamil untuk usia kandungannya baru menginjak 4 minggu" kata Dokter menjelaskan kembali.

Mala meneteskan air mata, mengelus perut yang masih rata. Ia tak percaya ada nyawa didalam perutnya, perasaannya campur aduk antara bahagia dan tidak percaya.

"Kita akan punya anak sayang!" Raka tak kalah bahagia mengetahui Mala tengah mengandung anaknya.

"Baik untuk kehamilan trimester pertama ini, anda harus ekstra menjaga nona Mala. Karena di trimester pertama ini sangat rentan mengalami keguguran, jadi pastikan peran suami lebih penting" imbuh sang Dokter.

"Baik Dok, saya pasti akan menjaga istri dan calon anak saya" jawab Raka penuh keyakinan.

"Juga pastikan nona Mala meminum vitaminnya, jangan beraktivitas berlebih dan pastikan nona Mala selalu happy, karena sangat berpengaruh untuk janinnya" pesan Dokter sembari tersenyum.

"Baik Dokter. Terimakasih" jawab Raka yang juga diangguki oleh Mala. Dan meninggalkan ruang periksa.

"Raka...." Mala menangis dan langsung memeluk suaminya.

"Selamat sayang, kamu akan menjadi ibu" Raka membalas pelukan Mala lebih erat.

"Selamat juga buat kamu akan menjadi ayah" Mala mengusap air matanya, refleks mencium pipi Raka.

   Raka terkejut, tapi baguslah sepertinya Mala mulai tidak canggung degannya. Kini ia yakin hubungannya dengan Mala akan baik-baik saja.

"Kita beri kejutan buat yang lain, pasti mereka senang" kata Raka bersemangat sembari mengelus perut Mala, sedang tangan satunya tengah memegang setir.

Bersambung....

Jangan lupa votenya🤗

AMALA  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang