Bab 63 : Duka

571 51 5
                                        


   Selesai bersih-bersih Mala merebahkan dirinya di kasur. Layaknya sedang mengetik, jari telunjuk Mala sejak tadi menunjuk-nunjuk perut yang mulai buncit itu. Walaupun ocehannya tak mendapat respon, tetap saja ia tak menyangka didalam sana ada nyawa yang tengah berkembang.

Mirip siapa kira-kira anak pertamanya nanti?

   Ditrimester ke dua ini perubahan memang Mala rasakan. Kadang sedikit mual tapi Mala lega tak semual trimester pertama. Terlebih dari itu, ia penasaran apa jenis kelamin buah hatinya dengan Raka itu. Jika boleh berharap, Mala ingin sekali anak pertamanya perempuan. Bukan tanpa alasan, karena bagi Mala bayi perempuan lebih banyak pernak-pernik lucu yang bisa dipakaikan.

"Apa didalam sana kamu nyaman? Semoga kamu tidak menyesal lahir ke dunia nantinya. Mama memang belum berpengalaman, tapi tenang saja Papa mu pasti akan menjaga mu dengan baik dan kita bisa belajar sama-sama" tutur Mala berbicara dengan bayinya.

   Sedari tadi Raka memperhatikan aktivitas Mala didepan pintu kamar mereka, ia tersenyum melihatnya. Raka datang menghampiri dan memberikan susu kepada Mala. Sedikit demi sedikit Mala meminumnya.

   Raka menempelkan telinganya diperut Mala "Hallo sayang, ini Papa. Kamu sehat-sehat didalam sana, jadi anak yang baik jangan terlalu merepotkan Mama. Dan satu lagi, Papa bahagia kamu ada diperut Mama" ucapnya sembari mengelusnya. Mala mengelus rambut Raka dan terus tersenyum saat bayinya bergerak seperti merespon suara Raka.

Kringg...

    Kenyamanan mereka terganggu karena suara dari ponsel Raka. Ia segera beranjak mengambil dan mengangkat panggilan itu. Cukup lama Raka hanya mendengar orang yang berbicara diseberang telepon sana "Raka ke sana sekarang!" ucapnya sebelum menutup sambungan telepon.

   Mala memperhatikan wajah Raka yang terlihat panik.

"Oma drop. Kita kerumah sakit sekarang" setelah mendengar itu Mala bergegas menganti piyama dengan baju hangatnya. Malam hari ini sedikit lebih dingin dari biasanya.

****

   Kabar sang oma yang tiba-tiba drop, membuat Raka sangat panik, pikirannya kalang kabut tidak bisa berpikir jernih kalau-kalau terjadi sesuatu dengan omanya. Dapat Mala rasakan tangan yang ia gengam kini terasa dingin, karena hanya dengan beberapa langkah lagi kakinya akan sampai diruangan tempat orang tua itu.

"Mas.." Mala menatap wajah Raka yang mengenggamnya dengan erat. "Kamu yang tenang ya" ucap Mala menenagkan Raka yang belum juga tenang.

   Keduanya tengah berdiri bersama dengan yang lain yaitu kedua anak Oma Atlana, Om Bagas dan Om Pras. Disamping pintu ruangan tempat Oma dirawat. Raka membiarkan kedua tangannya saling meremas gelisah.

"Tenang Mas, Oma pasti baik-baik aja" Mala mengusap bahu Raka, mencoba membuatnya tenang.

Tak lama pintu ruangan terbuka "Dengan keluarga pasien?" dokter keluar dengan wajah serius. Membuat semua orang berdiri mengelilingi sang dokter.

"Pasien terkena serangan jantung" semua orang tambah gelisah mendengar penuturan dokter, terutama Raka yang sampai mengeluarkan keringat dingin di dahinya.

"Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan ibu saya Dok!" Bagas membuka suara.

"Cucunya yang bernama Raka dan istrinya, apakah ada?" lanjut Dokter bertanya. "Saya Dok" Raka maju mendekat. "Pasien ingin berbicara" lanjutnya.

   Raka menarik lengan Mala, mununtunnya untuk ikut masuk ke dalam.

"Cucu oma.."

"Iya Oma" Raka datang dan mengengam tangan sang Oma, diusapnya tangan wanita tua itu dengan memandangnya diiringi senyuman.

AMALA  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang