Bab 60 : Sahabat Lama

573 49 5
                                        

"Huek..huek.."
  
   Rasa ngantuk bersamaan dengan mual menyiksa Mala pagi ini. Saking paginya, matahari masih enggan menampakkan diri. Jika biasanya jam segini Mala masih asik di dalam selimut, tidak dengan hari ini. Rasa tidak enak tiba-tiba bergejolak diperutnya memaksa Mala untuk terbangun dari tidurnya dan berlari ke kamar mandi. Mala menyenderkan tubuhnya, rasanya lemas.

"Minum dulu sayang" Mala membuka matanya dan melihat segelas air mineral berada tepat didepan mata. Mala menoleh, kini tatapannya tertuju pada sosok pria yang tidak lain adalah suaminya. Sejak kapan pria itu ada di dalam kamar?

   Istrinya yang marah dan susah dibujuk, membuat Raka harus tidur di kamar lain. Mala yang enggan ribut mengambil gelas itu, lalu meneguk air hangat pemberian Raka hingga setengah.

   Tenggorokan yang awalnya tercekat, kini kembali sejuk. Dirasa cukup Mala memberikan kembali gelas itu kepada Raka. "Kamu mual? Kenapa ga bangunin aku sayang?"

"Buat apa bangunin kamu!" Alih-alih merasa kesal dengan jawaban Mala, pria itu justru merengkuh tubuh munggil sang istri ke dalam dekapannya. Tidak ada penolakan, Mala menerima pelukan hangat dari Raka dan cukup lama mereka berpelukan.

"Ngapain kamu disini? Kamu kan udah ga sayang aku lagi!" Mala kembali ngomel, tangannya tak sungkan memukul dada bidang milik Raka. Apa yang Mala katakan memang seperti yang ia rasakan dari kemarin.

"Maaf sayang, aku cuma bercanda. Aku ga ada niatan bikin kamu sedih dan aku juga sayang banget sama kamu. Kalo perlu kita beli restorannya, biar kamu bisa makan rujak sepuasnya" jelas Raka dengan sabar dan hati-hati.

"Kamu mau aku sakit dan gendutan karena kebanyakan makan? Terus kamu bisa sama Bella gitu?!"

"Ga gitu sayang, aku kan pernah bilang kalo Bella itu udah kaya adik aku sendiri. Masa kamu cemburu?"

"Terserah"

"Bantuin Papa bujuk Mama kamu biar ga marah terus sayang. Biar Papa bisa jenguk kamu" tangan bebas Mala mencubit kecil pinggang Raka. Sampai pria itu mengadu kesakitan. Walaupun rasanya perih, tawa Raka tetap saja terdengar puas di telinga Mala.

****

"Hari ini ke kantor atau ketemu Bella?" sarkas Mala melontarkan pertanyaan.

"Bagaimana dengan kamu sayang?"

Tangan Mala berhenti mengoles selai. Tatapannya tertuju pada pria yang duduk disampingnya. Menyebalkan. Apa pantas pertanyaan dibalas pertanyaan?

Melihat wajah Mala yang berubah, Raka tertawa "ini masih pagi sayang, jangan marah terus. Tentu saja aku ke kantor, karena masih banyak pekerjaan. Kamu mau ikut?"

"Ga. Aku mau belanja"

"Mau dianter?" Mala menggeleng dan memilih melanjutkan mengolesi roti tawar dengan selai coklat, bukan untuk nya tapi untuk Raka. Setelah selesai, roti itu ditaruh di piring. Berbeda dengan Raka yang makan lahap, sedang Mala tidak nafsu makan.

Keheningan terjadi saat Mala membiarkan suaminya menikmati sarapan. Sebetulnya ia tidak ada agenda kemana-mana, malas pergi juga. Hanya saja ia perlu merefresh pikirannya dengan jalan-jalan keluar.

Setelah lama menghabiskan waktu di meja makan dan mengantar Raka, serta memastikan mobil Raka telah pergi. Mala tak langsung masuk ke dalam, tetapi ia duduk di teras sembari memperhatikan Bi Inah yang sedang merapikan tanaman.

"Non Mala mau dibuatkan sesuatu?" lamunan Mala buyar, tatapannya beralih ke sebelah kiri tepat disampingnya Bi Inah berdiri sambil menatapnya teduh.

"Ga Bi, Mala ga mau apa-apa. Oh iya, bagaimana kesan Bibi bekerja disini? Apakah Bibi nyaman?"

Beberapa detik terdiam, wanita paruh baya itu menjawab "senang sekali Non Mala. Bertemu dengan keluarga Tuan Raka membuat harapan Bibi kembali terang. Kalian berdua orang baik, Bibi tidak menyesal bertemu dengan kalian"

Jawaban simpel namun sukses membuat Mala terenyuh. Baru ingin menjawab, suara klakson mobil serta gerbang yang dibuka mengalihkan fokus Mala. Siapa yang datang? Apa mungkin Raka kembali untuk mengambil barang yang tertinggal? Mala tak langsung beranjak, ia menunggu orang di luar sana masuk. Bukan hanya Mala, Bi Inah pun ikut penasaran siapa yang bertamu.

"Hai Mala"  Mala menyipitkan matanya, memastikan siapa yang datang.

"Dewi!" teriak Mala yang langsung berdiri menyambut sahabatnya.

"Gue kangen banget sama lo, La"

"Gue juga" keduanya terus ber pelukan, melepaskan kerinduan masing-masing.

"Lo apa kabar Dew?"

"Gue baik dan lo..." Dewi tak melanjutkan ucapannya melihat perut Mala "Lo hamil?!" sambungnya yang mendapat anggukan dari Mala.

   Lama sudah mereka lost contact, Dewi yang melanjutkan pendidikannya keluar negeri dan handphone nya yang sempat hilang membuatnya harus berganti nomor. Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Melanjutkan perbincangan mereka dengan secangkir teh dan beberapa cemilan.

"Sorry La, gue ga pernah ngehubungi lo. Gue udah cari-cari nomor lo, tapi ga pernah dapet dan akhirnya hari ini gue bisa langsung ketemu lo"

"Iya Dew, gue juga seneng bisa ketemu lo lagi" mereka kembali berpelukan.

"Oh ya, lo hamil berapa bulan La?" mata Dewi berbinar melihat sahabatnya yang bahagia, ia juga bisa ikut merasakannya.

"Lima bulan" Mala mengambil tangan Dewi untuk menyentuh perutnya.

"Gue ga sabar banget punya keponakan" ucap Dewi merasa gemas membayangkan dirinya yang bermain bersama anak sahabatnya itu.

"Lo kapan nikah?" tanya Mala melontarkan candaan.

"Dua bulan lagi"

"Serius?!" tanya Mala kaget.

"Iya Mala, gue kesini juga mau kasih tau lo kabar ini. Gue akan nikah sama orang Malaysia, pestanya diadakan disana dan gue harap lo bisa dateng nanti"

"Gue ikut seneng denger kabar ini Dew, tapi gue ragu apakah nanti gue bisa dateng sementara kandungan gue udah besar dan pasti Raka juga ga ngijinin"

"Gapapa kalo lo ga bisa dateng, gue ikut seneng lo baik-baik aja sama kak Raka dan bentar lagi gue dapet keponakan" sebenarnya Dewi sangat mengharapkan kehadiran Mala di pesta pernikahnnya nanti, tapi kondisi Mala yang memang tidak memungkinkan perjalanan jauh membuat Dewi paham.

   Kurang lebih setengah jam menghabiskan waktu di ruang tamu berbincang-bincang membicarakan hal random, Dewi pamit untuk pulang dan Mala kembali sendirian.

Bersambung...

AMALA  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang