Part 14

8 4 0
                                    

*Alera Sea Madhiaz

7 Februari 2023
Gue memandangi sederet tanggal itu yang gue catat tebal tebal di buku catatan gue. Bahkan tanggal itu gue lingkari di kalender mini yang bertengger di meja belajar gue. Tanggal spesial. Tanggal harusnya Sky menghubungi gue untuk mengantarnya tes fisik. Meminta gue buat menemaninya ke Semarang. Tapi… sampai sekarang belum ada kabar.

Gak ada satu pesan pun yang masuk ke hape gue dari dia. Gak ada notif apapun bahkan dari siapapun.
.
.
Haaahh
Pikiran buruk dengan lancangnya menghampiri kepala gue. Tentang, kenapa Sky gak menghubungi gue sedikitpun? Satu pesanpun?

Gue memutar kejadian kemarin siang di memori kepala gue. Dimana dia menatap gue dengan sorot getir, menatap gue kecewa, lalu beranjak duluan tanpa merangkul gue. Jelasnya lagi kalau dia kecewa, dia gak mengajak gue bicara apapun sepanjang perjalanan. Kita saling diam di motor. Dan itu bukanlah Sky, bukan Sky yang gue kenal. Bukan Sky yang rese, yang gak bisa berhenti bicara sekalipun jalan raya yang kita lalui bising banget.

Iya, Sky berubah.
Sky nya Sea gak seperti biasanya.

Sempet gue berpikir, apa Sky baper dengan tulisan gue yang dia baca kemarin? Apa dia mengira kalau cerita Bumi dan Sea itu nyata? Apa dia marah…?

Dia salah paham, lebih tepatnya. Gue belum sempat jelasin ke dia kalau projek itu udah gagal. Cerita yang dia baca itu udah gak ada gunanya. Cerita yang dia liat gak ada artinya sama sekali.

Tap.
Gue bangkit dari duduk. Gue rasa gue harus samperin dia, sekarang. Iya, gue harus meluruskan semuanya. Gue harus jelasin ke dia kalau projek gue dengan Kak Bumi udah gak berlanjut lagi sekarang. Dan dia gak perlu marah lagi. Issokeyy, gue harus ke rumah Sky. Lagipula, mungkin Sky gak menghubungi gue karena dia ingin gue peka. Ingin gue dateng tanpa dia yang minta duluan. Iya, gitu. Semoga aja gitu.

Gue bergegas berganti pakaian. Memesan ojol seperti biasa, lalu langsung on the way saat ojol datang. Cuma butuh sekitar 10 menit buat ke rumah Sky. Dan sekarang gue udah bisa melihat satpam rumah Sky yang kebetulan sedang menutup gerbang rumah. Gue menghampirinya cepat cepat, sebelum dia berlalu pergi.
"Pak…"

"Hallo, non," beliau menyapa gue ramah.

"Sky masih di rumah kan pak?" tanya gue langsung.

"Yah… sayang banget, non. Barusan banget den Sky nya keluar, bareng den Rion sama non Rain. Ada teman-temannya juga kalau gak salah, non. Katanya sih ke Semarang."

Hah!?
Dada gue tersentak, kaget. Dia… udah pergi? Tanpa menghubungi gue…? Tanpa memberi kabar…?

"Yah… yaudah deh makasih ya pak."
Gue beranjak pergi. Melangkah pelan menjauh dari pekarangan rumahnya. Pikiran buruk menyergap kepala gue, lagi.

Sky, dia pergi. Tanpa gue, tanpa memberitahu gue. Dia…beneran kecewa sama gue. Dia beneran baper dengan cerita Bumi dan Sea (?), agaknya. Dia pergi mengejar mimpinya tanpa gue. Sky, semarah itukah…?

Kemarin, di saat mimpi gue melambung tinggi dan mimpi dia tersendat, gue rela berhenti sejenak buat tetap bersama dia, supaya kita tetap berjalan bersama. Sekarang, di saat mimpi gue yang sedang terjatuh, di saat gue tersendat, dia justru melambungkan tinggi tinggi mimpinya tanpa gue? Dia meninggalkan gue?

Dia gak ada di saat gue yang terjatuh. Dia gak ada di saat gue sedang tertatih, di saat gue yang sedang terluka. Dia bahkan gak tau dan gak mau tau kalau gue, mimpi gue, sedang berada di titik terendah, bukan lagi dengan Kak Bumi seperti yang dia kira.
.
.
Mimpi gue udah gak tergenggam. Mimpi gue udah gak terpaut dengan Kak Bumi. Sea sedang gagal, yang sayangnya Sky anggap Sea sedang berjalan mulus.
.
Haaahh..
.
Sejahat ini dunia mempermainkan kita? Sejahat ini semesta membuat dia membentangkan jarak dengan gue? Semudah ini kita terjeda?
.
.
Gue mengusap kasar air mata yang baru aja lolos keluar dari mata gue. Sebisa mungkin menahan isakan karena gue sedang ada di pinggir jalan, di trotoar tepi jalan raya yang banyak pengendara berlalu lalang. Dikira gue orang gila nanti.

Dream, Or You?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang