Part 20

8 3 0
                                        

*Alera Sea Madhiaz

Bumi dan Sea

Sejauh apapun mereka saling pergi, pada akhirnya semesta merotasi waktu buat mereka kembali temu. Bersatu. Bumi dan Sea, gak akan terpisahkan. Sekalipun badai menghantam laut buat pergi, nyatanya Bumi mampu mendekap tuk tetap bertahan. Bumi dan Sea, untill forever. Happy to time of the end.

( E n d )


TAMAT

.

.

Haahh…
Gue bernapas lega.

Akhirnya… selesai tepat waktu. Bumi dan Sea berakhir bahagia, dalam cerita. Sementara dalam realita… hmm bahagia juga dong pastinya.

Gak kerasa waktu berlalu begitu cepat. Sangat cepat sampai gue baru menyadari kalau gue telah melewati proses yang begitu panjang. Iya. Sangat panjang hingga akhirnya Bumi dan Sea ‘sampai’ pada ‘bintang’ nya.
.

Gue dan Ka Bumi, telah sampai di akhir cerita.
.

Gue dan Ka Bumi, telah sampai di gerbang mimpi. Di sebuah awal baru untuk kehidupan bahagia yang baru.
.

Iya.

Mimpi gue tergapai.
Mimpi gue terwujud.

Kita tinggal nunggu jawaban dari penerbitnya. Setelah itu…
“Kita bakalan sukses beneran Sea!” kata Ka Bumi di samping gur. Hari ini dia mengajak gue ke mal. Mau memberi gue sesuatu katanya. Karena gue berhasil produktif. Gue berhasil menepati janji gue. Gue berhasil memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya. Gue berhasil buat gak merusak mimpi gue sendiri– mimpi kita– lagi.

Gue tersenyum lebar, “iya kak! Ya ampun, udah berapa kali lo bilang gitu coba? Dari kita jalan dari rumah gue sampai jalan muterin mal gini lo gak ada bosan-bosannya bilang gitu,” timpal gue diakhiri kekehan kecil. Dan dia tertawa renyah.

“Serasa di alam mimpi banget tau gak? Gue masih gak nyangka kalau ini kenyataan. Kalau hari ini gue udah bangun dari tidur. Kalau mimpi gue memang akan terealisasikan. Udah terlihat di depan mata, tinggal gue genggam…!”

“Iya, gue tau kok perasaan lo… Perasaan gue juga sama. Gak nyangka banget akhirnya selesai juga. Perasaan baru kemarin kita rancang part awal, eh udah ending aja. Hahah!”

“Dan perasaan gue baru kenal lo sebentar, ber-partner dengan lo sebentar, eh mimpi gue udah jadi kenyataan aja! Gak salah gue pilih lo jadi teman seperjuangan gue, haha!”

Dan kita terus bicara soal keberhasilan kita sepanjang jalan. Sepanjang gue melangkah pelan di sampingnya, dan sepanjang dia merangkul gue dengan santainya.

OMG… gue baru sadar kalau Ka Bumi melakukan apa yang biasanya dilakukan Sky– merangkul gue sepanjang perjalanan…!

Glek. Gue jadi inget Sky.
Udah lama kita gak berjalan berdampingan; gak main gombal; gak boncengan di motor; gak makan mi ayam bareng sepulang sekolah; gak baper-baperan; gak healing ke pantai; gak video call; dan gak yang lainnya.
.

.
Gue baru sadar…
Gue melewatkan banyak waktu gue buat Ka Bumi, bukan buat Sky. Gue disibukkan dengan merancang part, membuat kejadian, menuliskan apapun yang gue pikirkan untuk menyelesaikan projek. Ya, gue lebih sering dengan Ka Bumi. Seseorang yang akhir-akhir ini banyak berbuat manis ke gue.
.

.
Sky… gue gak banyak waktu buat dia. Bahkan belajar bareng pun udah jarang.  Sepanjang ujian sekolah–yang kini udah terlewati–gue masih asyik memperjuangkan mimpi. Sampai, waktu belajar aja gue pakai buat ngetik naskah, bukan buat baca buku, apalagi skype dengan Sky buat belajar bareng.
.

Dream, Or You?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang