BTY 12

33 2 0
                                    


.





,


"Nanti bawa anakmu ke rumah, Walter. Aku menunggunya," kata Willian bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiri Mikail. "Kamu sangat tampan dan cerdas, Nak. Kamu membuat Grandpa kagum. Nanti kita ketemu lagi yah," ujar Wiliam mengusap pipih Mikail lalu kepalanya.

"Aku Paman Antonio, Paman tidak menyangka memiliki keponakan sepertimu. Beruntung sekali Ayahmu." Melirik sekilas Walter. "Paman juga punya anak perempuan. Dia adik sepupumu, Dia pasti sangat menyukaimu. Datanglah kerumah dan bertemu dengannya" Lanjut Antonio menatap keponakannya.

Sekilas Mikail menatap Ayahnya, "Tidak perlu persetujuan Ayahmu, Paman akan menjemputmu nanti." Ujar Antonio lalu mengacak pelan rambut Mikail, "Aku duluan Dad," pamit Antonio.

Adam kini bangkit juga dari kursinya, "Kamu makan siang bersama Grandpa yah," Walter menatap jengkel Adam. Baru saja iya akan menjawab, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Walter menerima telpon tersebut, pembicaraan terjadi hanya sebentar dan itu dari Abraham.

"Paman Abraham ingin makan siang juga dengan Mikail, katanya akan menunggu di restoran biasa," ucap Walter tanpa melihat Adam. "Kai, Kakek ingin makan siang dengan kita. Tapi kamu duluan saja, nanti Ayah menyusul karena masih ada sedikit pekerjaan yang akan ayah selesaikan." Walter memberikan penjelasan pada Mikail.

"Baik Yah." Jawab Mikail.

Adam menggenggam tangan Mikail keluar ruangan sampai masuk mobilnya, betapa senang perasaannya akhirnya bisa bertemu dengan cucunya.

"Kenapa Mikaila tidak bersamamu, Nak?" tanya Adam.

"Dia sekolah, Grandpa."

"Bagaimana denganmu, apa ayahmu memaksamu kesini?" Kini Adam berpikir jangan sampai Walter memanfaatkan anaknya untuk membatalkan perjodohannya.

"Tidak, Ayah tidak melakukannya. Besok Aku akan mengikuti workshop selama dua hari, karena itu aku minta izin pada Mama untuk ikut bersama Ayah." Adam menatap cucunya bingung.

"Workshop?"

"Iya grandpa,"

Selama perjalanan Adam terus mengajak Mikail berbincang, bertanya seputar kegiatan, hobi dan sebagainya. Sedang di kantor Walter depatkan tamu mendadak yang tidak ada dalam jadwal pertemuannya.

"Apa maksudmu membawa Mikail kesini?" tanya Doni

"Itu bukan urusanmu."

"Tindakanmu sangat cerobo!". Walter menatap tajam lawan bicaranya.

"Dan kamu berhenti mencampuri dan mengurusi keluargaku. Berhenti mematai-matai istri dan anak-anakku," Doni menatap datar Walter.

"Tidak mungkin Aku melepaskanya pada orang bodoh sepertimu,"

"Aku suaminya. Dan Kamu hanyalah orang luar yang akan tetap asing. Berhenti mengurusi Kayla." Walter menatap tajam Doni.

"Asing?" Doni menyeringai mengejek.

"Aku sebenarnya ingin menonjok wajahmu dari dulu bahkan sampai saat ini, tapi mengingat Kamu selalu melindungi istriku. Aku berterimakasih untuk itu, tapi sekarang berhenti melakukan itu. Aku bisa melindungi istri dan anak-anakku, aku akan bertanggungjawab atas mereka."

Doni hanya diam menatap Walter. mereka saling diam cukup lama, lalu Doni beranjak pergi. "Apa Kayla masih menerimamu setelah tau jika Kamu akan menikah?" tanya Doni sebelum keluar dari ruangan Walter.

BACK TO YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang