Eps - 07b

13 2 0
                                        

Pagi ini, Zain terlihat rapih dengan setelan kantornya. Hari ini ia ada jadwal meeting pagi bersama rekannya. Sebelum berangkat, ia memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu dirumah bersama kedua orangtuanya.

"Gimana soal ta'aruf kamu, Zain?" Tanya sang ayah.

"Alhamdulillah, untuk saat ini semuanya berjalan lancar," jawab Zain.

Ayah Albi mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya. "Segera diputuskan, jangan terlalu ditunda-tunda. Jangan sampai, kejadian kemarin terulang kembali," ucapnya seraya meninggalkan meja makan.

"Zain, usahakan."

Sedangkan ibu Alya hanya terdiam sambil menunduk, saat suaminya mengatakan itu, ia jadi teringat kembali dengan kejadian itu. Kejadian yang dimana membuat dirinya merasa trauma.

"Bu," dihampiri sang ibu yang duduk dihadapannya.

"Ibu jangan mikir yang macam-macam ya, percaya sama anak ibu. Semuanya akan baik-baik saja," ujar Zain menenangkan sang ibu.

Ibu Alya hanya tersenyum simpul mendengar penuturan Zain. "Ibu, gapapa," ucapnya kemudian bangkit dan meninggalkan Zain sendirian diruang makan.

**

"Mohon diingatkan untuk semuanya, hari ini kita bimbingan para guru tempat nya di TK Albirru ya," ucap Bu Dida selaku kepala sekolah.

Semua para guru mengangguk paham, namun tidak dengan Zaira, ia justru merasa terkejut.

"YES!!'

Zaira tersadar dari diamnya, ia menoleh ke arah Putri yang terlihat senang itu.

"Yes? Kenapa, put?"

Putri seketika tersenyum kikuk, "hehe gapapa," ujarnya seraya memasukan barang-barang nya kedalam tasnya.

Zaira mengerutkan dahi nya heran, aneh sekali pikirnya.

"Gimana kalo Bu Zena nanyain jawaban kak Zain, aku kan belum siap," lirih Zaira di dalam hatinya.

"Za, ayo berangkat!" Putri menepuk pundak Zaira pelan.

"Eh iya, ayo," diraihnya tas yang tergeletak di atas meja.

Kini Zaira, Putri beserta para guru lainnya pun berangkat menuju TK Albirru dengan kendaraan masing-masing. Kebetulan hari ini Zaira tidak membawa motor, alhasil dia ikut dengan Putri.

**

"Jadi gimana?" tanya Zena dengan tangan yang sibuk menyuapi Ruby, makan siang.

"Istikharah yang Zain lakukan,. jawabannya masih tetap sama."

"Bagus dong, terus hati dan pikiran kamu saling mendukung ga?"

Zain mengangguk, "yakin?" tanya Zena lagi.

Lagi, Zain mengangguk. "Insyaallah kak, semuanya sudah tepat. Zain tinggal menunggu jawaban Zaira."

"Alhamdulillah, nanti kakak bantu," ucap Zena.

"Maaf merepotkan, Kak."

Zena tersenyum, "dih kaya sama siapa aja kamu," ujarnya seraya bangkit dari duduknya.

"Sekarang, kakak titip Ruby, soalnya sekarang waktunya bimbingan guru-guru,"

"Kebiasaan kan," ucap Zain. Zena yang mendengarnya hanya mendelik kearah Zain.

"Eh ada Zaira juga?" Tebak Zain.

"Sepertinya." Zena meninggalkan Zain dan Ruby di ruangannya.

Tadi selesai meeting, Zain memutuskan untuk menemui Zena. Karena kebetulan jam kantornya juga sedang tidak padat.

"Om," panggil Ruby seraya mendudukan dirinya di samping Zain.

Anak usia empat tahun itu kini terlihat menggemaskan dengan kunciran dua di kepalanya.

"Yok om, ain luar om (mari om, main diluar om)," ucap Ruby seraya menarik narik tangan om nya agar segera berdiri.

"Kemana hmm? Diluar panas, cantik."

"Disini aja ya main nya, kita nonton YouTube aja, gimana?" lanjut Zain seraya mengeluarkan Handphone, mencoba untuk membujuk Ruby.

"Ndak mau om, uby mo nya di luar (tidak mau om, Ruby maunya diluar),"

Mau tak mau, Zain akhirnya menuruti permintaan keponakan tersayangnya tersebut.

Bimbingan para guru cukup lama, bisa 1 sampai 2 jam, sedangkan ini baru setengah jam. Dan di taman, Ruby terlihat kelelahan karena keasyikan bermain.

Ruby tertidur dipangkuan Zain yang terduduk di kursi taman TK. Keduanya tampak sama-sama terlelap hingga bimbingan para guru selesai pun mereka masih memejamkan matanya tanpa terusik sedikit pun.

Para guru yang berjalan melewati taman nampak tersenyum melihat pemandangan yang ada dihadapan mereka. Begitu pun dengan Zaira, yang baru saja keluar ruangan, matanya menangkap Zain dan Ruby disana.

"Emang boleh mereka selucu itu," lirih Zaira.

Zaira terdiam, matanya menatap lekat kepada dua insan di kursi taman sana. Meskipun fokus nya hanya kepada Zain saja.

"Ya Allah, kenapa hamba masih belum yakin atas jawaban yang akan hamba berikan. Tolong bantu Zaira ya Rabb,"

Zaira masih diam dengan mata yang terus menatap ke arah taman. Tanpa ia sadari, seseorang telah berdiri disampingnya, ikut memperhatikan objek didepan sana.

"Emang udah cocok jadi ayah."

Zaira terkejut mendengar penuturan itu, seketika ia menoleh ke arah sumber suara. Disampingnya Zena tersenyum menatap Zaira.

"Bu Zena," ucap Zaira.

"Benar kan ucapan saya?"

"Ma-maksudnya, Bu?" tanya Zaira sedikit kikuk.

"Iya, bahwa adik saya sudah cocok jadi seorang ayah," jawab Zena.

Zaira tidak tahu harus merespon seperti apa, seketika ia merasa gugup dengan ucapan Zena.

"Zaira, mari ikut saya sebentar," Zena menarik tangan Zaira menuju ke ruangannya. Mau tak mau, Zaira hanya pasrah dan menurut.

Zaira dan Zena duduk bersebelahan. Disana Zena terlihat ingin berbicara serius.

"Zaira, tolong dengarkan, saya mohon kamu jangan potong apapun dulu. Ada satu hal yang perlu kamu tau tentang masa lalu Zain."

Zaira menggigit bibir bawahnya, ia bingung harus bagaimana. "Tapi Bu Zena,"

"Apa? Kamu keberatan?"

Zaira menggeleng kuat, ia menundukkan kepalanya. "Maaf, tapi apa sebaiknya masa lalu cukup disimpan, tanpa diceritakan kepada Zaira," ucapnya pelan.

"Tidak Zaira! Kamu harus tau, saya mohon dengarkan ya sebentar," ucap Zena lagi, matanya terlihat memohon membuat Zaira mau tak mau mengangguk.

**
Bersambung....





KETEMU JODOHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang