Eps - 08a

27 2 0
                                        

Flashback On :

"Zaini, aku menyukai mu, bahkan aku begitu mencintaimu. Maaf, aku selancang ini. Aku hanya mencoba seperti Sayyidah Khodijah yang mengutarakan perasaannya terlebih dahulu."

"Maksud kamu, Sel?"

"Aku, mau kita menikah, Zain."

Zain membulatkan kedua bola matanya. Pasalnya perempuan cantik yang berdiri dihadapannya ini bukanlah perempuan biasa-biasa. Dia adalah Selma Putri Wirawan. Perempuan cantik, dengan puluhan prestasinya. Siapa yang tidak mengenalnya? Banyak sekali laki-laki diluar sana yang mengantri ingin bersanding dengan seorang Selma.

Mungkin, untuk seorang perempuan yang mengutarakan perasaannya terhadap Zain, itu sudah biasa. Tapi ini, mengajak menikah.

"Selma, apa kamu bercanda?" Tanya Zain.

Perempuan dihadapan nya menggeleng pelan. "Aku serius," ucapnya sungguh-sungguh.

Zain menatap Selma sekilas, hingga matanya ia alihkan ke langit yang terlihat begitu cerah.

"Saya akui, kamu cantik, baik, kamu mahasiswi terbaik di kampus kemarin, yang mengagumi kamu dan mencintai mu pasti begitu banyak, Sel."

"Aku tau, tapi.." Selma menatap Zain dalam, "yang aku mau cuma kamu, Zain."

"Zain, tolong terima ajakan aku ini, aku tau, kamu juga suka kan sama aku," ungkap Selma lagi.

Zain memalingkan wajahnya. "Saya baru   lulus kuliah, saya belum punya pekerjaan tetap, apa kamu mau hidup susah bersama saya?"

Selma terkekeh. "Bercanda kamu, Zai. Aku tau kamu, kamu itu anak laki-lakinya tuan Albirru."

"Jadi, kamu ingin menikah dengan saya, apa karena itu?"

Selma menggeleng kan kepalanya cepat. "Kamu lupa? Siapa Selma Putri Wirawan?"

"Saya tidak bisa, Sel."

Selma menangkupkan kedua tangannya di dada, matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku mohon, Zain. Kamu pertimbangkan dulu semuanya," ucapnya memohon membuat Zain menghela nafasnya berat.

"Saya butuh waktu." Ucapnya kemudian melenggang meninggalkan Selma disana.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya Zain memutuskan untuk mengajak ta'aruf seorang Selma.

"Mari berta'aruf dengan saya."

Ucapan Zain tersebut mampu membuat Selma tersenyum bahagia, dengan cepat ia mengangguk.

"Ayo, ini yang aku tunggu dari kamu."

Akhirnya mereka berta'aruf selama 3 bulan, hingga tiba dimana Zain mengkhitbah resmi seorang Selma.

Acara khitbahan diadakan dirumah Selma dengan megah. Mereka sama-sama dari keluarga berada membuat orang tua mereka sepakat untuk mengadakan acara besar-besaran.

Zena yang saat itu tengah hamil besar juga terlihat bahagia, karena sebentar lagi adiknya akan melangsungkan pernikahan. Bahkan Ibu Alya hampir setiap hari dia pergi berdua bersama Selma calon menantunya. Ia begitu excited dengan semuanya

Sesuai rencana, setelah khitbahan, pernikahan akan di adakan setelah satu bulan kedepan karena beberapa hal. Akhirnya semua nya sepakat akan rencana itu.

Hingga waktunya tiba, satu minggu sebelum akad. Semuanya telah selesai dipersiapkan tinggal menunggu hari-H. Selma memutuskan untuk mengajak jalan Zain dengan ditemani Ibu Alya.

"Ibu ke toilet dulu ya, nak,"

"Selma antar ya, Bu."

Ibu Alya menggeleng pelan. "Tidak usah, kamu tunggu disini ya, ibu cuma sebentar kok," tolaknya halus membuat Selma mengangguk patuh.

"Ibu, hati-hati," sahut Zain yang di angguki Ibu Alya.

"Zain, ada yang mau aku omongin sama kamu."

"Ini yang mau saya tanyakan. Bisa-bisanya kamu mengajak saya ketemuan disaat satu Minggu menuju hari H. Untung ibu mau menemani."

"Aku mau, kita batal nikah," ucap Selma lantang membuat Zain membulat kan kedua bola matanya.

"Maksud kamu?" Zain menggeleng tak percaya.

"Aku serius, kita batal nikah, Zain."

Zain seketika tertawa, dan tawanya terdengar sumbang. "Kamu jangan bercanda, Selma!" Tekan Zain.

"Aku bilang, aku ga bercanda! Aku serius."

Selma merogoh sesuatu didalam selempang nya. Ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berukuran sedang dengan satu kotak cincin.

"Ini," ucapnya menyerahkan barang tersebut kepada Zain.

Zain mengalihkan pandangannya dari Selma."Berikan saya alasan, Selma Putri Wirawan!" Seru Zain, ia ingin marah, tapi tidak bisa.

"Maaf, maaf dan maaf. Aku minta maaf," lirih Selma menunduk. Air matanya mengalir deras seketika dihadapan Zain.

Zain berdiri dari duduknya. Ia menghela nafasnya kasar. "Baik, kalo itu mau kamu. Pernikahan kita, batal."

Selma yang mendengarnya langsung berdiri, ia menatap Zain dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Zain, maafkan aku."

"Silahkan ambil, itu milikmu, meskipun kita batal, bukan berarti ini harus dikembalikan," ujar Zain dengan mendorong pelan kotak perhiasan tersebut ke hadapan Selma.

Sedangkan dari kejauhan, Ibu Alya mendengar dan memperhatikan semuanya. Dada nya tiba-tiba terasa sesak, dengan jalan tertatih-tatih ia menghampiri kedua nya.

"Za.." Zain menoleh, disana ia segera menghampiri sang Ibu yang terlihat tidak baik baik saja.

"Ibu.. ibu kenapa ya Allah.. Bu.." Zain merangkul sang Ibu, namun tiba-tiba.

"IBU!!!!" Ibu Alya pingsan, untungnya pingsannya tepat dipangkuan Zain.

"Bawa ke rumah sakit, Zain!"

Flashback Off

**

Bersambung....

KETEMU JODOHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang