[Mafia Story]
Son Haerin menyimpan sesuatu di dalam otaknya hingga menjadi obsesi gila para mafia, termasuk suaminya sendiri yang bernama Antonio Sir Jeon. Ketika sedang terjebak dalam fase terhitam dari yang paling hitam dalam hidupnya, Son Haerin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍂🍂🍂
Valencia telah menunggu Jimin, pria itu harus pergi dan menitipkan Haerin pada Taehyung. Sebenarnya Jimin masih mencintai Haerin. Mau bagaimana lagi? Cinta itu sulit hilang, mengingat Jimin sudah memendam perasaan itu sejak Haerin remaja. Namun, kehadiran Taehyung membuatnya sadar dari keegoisannya. Jimin mulai sadar bahwa ia tak bisa memaksakan kehendaknya, apalagi menentang takdir sedarah itu.
Taehyung tahu hal itu, karena Jimin menceritakan semua yang dirasakannya, mulai dari perasaannya sampai hasratnya. Jimin butuh adaptasi dan Taehyung akan membantunya menghilangkan perasaan konyol itu.
Berbeda dengan Jungkook yang malah mendukung perilaku menjijikkan saudara sedarah itu agar mendapat restu Jimin, Taehyung justru ingin Jimin sadar bahwa perilakunya tidak bisa dibenarkan. Taehyung banyak memberi penjelasan pada Jimin tentang peran kakak laki-laki yang seharusnya melindungi adiknya, bukan malah merusaknya.
Jimin mendapat pelajaran baru. Ia mulai melakukan dan menerapkan apa yang disarankan Taehyung. Kini Jimin hanya ingin fokus untuk membesarkan Bora serta pembalasan dendamnya. Jimin juga berjanji akan membantu Taehyung memenangkan misinya. Singkatnya, mereka lebih pantas disebut sahabat seperjuangan dibanding saudara ipar. Mereka membentuk simbiosis mutualisme yang sehat. Jimin dan Taehyung sama-sama diuntungkan.
Jimin dan Taehyung berada di balkon kamar hotel. Mereka tak jadi menginap di mansion Sir Jeon. Taehyung akan datang besok pagi untuk menjadi bodyguard Haerin.
Sekarang sudah malam, langit tampak gelap dengan gemerlap bintang yang samar. Hotel itu berada di tengah kota Madrid dan menyuguhkan pemandangan kota yang sangat indah. Jimin terus menatap ke depan sambil menyeruput minumannya.
"Masih sakit?" tanya Jimin.
Taehyung mengembuskan asap rokok dari mulutnya. Ia menoleh ke arah Jimin. "Sakit apa?"
"Haerin menamparmu."
Taehyung tersenyum, mengusap pipinya yang agak membengkak. "Tamparan cinta, tentu saja tidak menyakitkan, Jimin-ah."