Happy Reading!
***
Aku kembali ke perusahaan setelah bertemu dengan Daksa, niat hati ingin melihatnya di kelas namun kami bertemu dengan tidak baiknya. Aku yang menabrak Daksa karena kebodohan ku sendiri yang asik melamun tanpa memikirkan jika jalan yang kutapaki bukan jalan milik sesepuhku.
Aku kembali ke perusahaan bukan ke rumah, karena apa? Karena aku belum tau di mana letak rumah diriku yang sekarang ini.
Sudah kubilang tidak ada ingatan apapun yang menghantam kepalaku atau menyakiti kepalaku akibat ingatan pemilik asli, melainkan hanya ingatan milikku sendiri. Alhasil aku tidak tau harus kemana selain ke perusahaan sendiri.
Ingin bertanya kepada Reiner? Ooh skip dulu, takutnya dia mengiraku aneh karena tidak tau alamat rumah sendiri yang sudah di tempati selama dua puluh lima tahun aku hidup.
Dan disinilah aku sekarang, tengah membaringkan diriku di sebuah ranjang besar di dalam ruanganku.
Tidak tau lagi seperti apa pemilik tubuh ini, sifat dan sikapnya pun aku belum mengetahui seperti apa sebenarnya.
Bahkan ruangan kerjanya terasa lengkap seperti halnya sebuah rumah.
Jika dilihat dan di analisis sepertinya pemilik tubuh ini yang sangat mirip denganku itu gila kerja, bahkan kamar untuk tidurpun ada di sini.
Saat di perjalanan pulang dari sekolah, aku berpikir bagaimana caranya aku mendekati Daksa. Bagaimana caranya agar aku bisa terus di sisinya mengingat aku tidak masuk ke dalam mimpiku sebagai anak sekolah melainkan diriku sendiri dengan umur yang sama dan sudah bekerja, otomatis aku sudah tidak bersekolah dan bagaimana caranya aku terus bersama Daksa jika aku punya kehidupan sendiri yaitu perusahaan ini.
Namun otak cerdasku ini menyala terang.
Kenapa aku tidak memakai kekuasaan dan uang yang aku punya yah? Dengan begitu semua yang aku inginkan dapat tercapai dengan cepat dan mudah.
Ah, aku memang pintar.
Jadi yang menjadi tujuanku sekarang adalah...
MARI MENJADI ANAK SEKOLAHAN LAGI!
"Oke! Misi pertama yaitu kembali ke sekolah" aku menggenggam tanganku ke udara, berwajah tegas seraya tersenyum puas.
Aku pun segera beranjak dari rebahanku, mencari Esther, maksudku Aerin yang baru ku ketahui namanya itu.
Aku berencana ingin mengajaknya bersekolah bersama, karena setelah sadar jika aku datang ke dunia baru ini hanya Aerin yang pertama kali kulihat. Setelah mengulik informasi dirinya, aku baru tau jika dia sebelas dua belas dengan Esther. Hanya saja dia tidak bisa bersikap santai dan kurang ajar kepadaku karena aku adalah atasannya, bukan teman satu divisinya dan lagipun dia bukan Esther.
Setelah memanggil Esther dengan telepon perusahaan, bisa ku dengan suara pintu yang di ketuk dan tanpa pikir panjang aku langsung menyuruhnya masuk.
"Ada apa Miss mencari saya?" sopan sekali anak ini, tidak seperti Esther yang bar-bar.
"Ayo ke sekolah" aku langsung to the point mengajak Esther, walaupun umur kami sudah tidak layak bersekolah namun wajah masihlah cocok memerankan anak SD sekalipun.
"Apa ada masalah dengan adik anda lagi Miss?"
Huftt! Sepertinya Reiner sudah terkenal di perusahaan ini akan kenakalannya, bahkan menyebut kata sekolah saja langsung di sangkut pautkan dengan Reiner.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Dream
FantasyBiasanya mimpi itu cuma terjadi sekali dan setelahnya akan kita lupakan, mimpi selayaknya bunga tidur yang tidak akan pernah terjadi di kehidupan nyata. yah, mimpi tidak akan bertahan lama. Ketika kita sudah terbangun mimpi itu akan berganti dengan...
