ELEVEN

302 27 1
                                        

HAPPY READING!

***

Setelah memberikan rentetan penjelasan dan pemahaman yang sangat panjang untuk Maureen, akhirnya dia mau mengerti. Walau pada awalnya Maureen sama sekali tidak mengerti apa yang aku jelaskan dan beritahukan kepadanya, namun Maureen ingin mencobanya.

Aku menyuruh Maureen untuk melakukan sesuatu hal dengan waktu sebulan, aku memberikan dia tantangan untuk menaklukkan hati Vernon dengan perubahannya, aku menyuruh dan menjelaskan bagaimana Maureen harus bertindak.

Aku juga mengatakan kepadanya untuk lebih tegas lagi, agar yang di lakukannya nanti dapat membuahkan hasil seperti yang aku inginkan dan Maureen inginkan.

Setelah memberikan rentetan penjelasan kepada Maureen, aku menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat. Aku juga sudah memberitahukan kepada guru yang mengajar di kelas Maureen perihal Maureen yang pulang duluan.

Dan karena kejadian tadi aku sampai melupakan Daksa, meninggalkan Daksa dengan keadaan kantin yang begitu riuh akibat ulah Maureen sendiri.

Aku akui tindakan Maureen tadi tidak di benarkan, karena Maureen datang mengacau disaat semua orang sedang tenang-tenangnya terlebih meja Vernon dan teman-temannya, yang awalnya tentram dan damai harus diusik oleh kedatangan Maureen yang tidak santai.

Tipikal antagonis yang sesungguhnya, yang tidak ingin melihat orang lain bahagia.

Dan sekali lagi aku bisa mengerti perasaan Maureen dengan tingkahnya tersebut, aku hanya berharap akan ada perubahan yang luar biasa setelah ini.

Kembali ke diriku sendiri yang sudah memikirkan banyak hal, saat ini kakiku melangkah ke kelas sementara Aerin sudah kembali ke kelas sejak bel pertanda masuk berbunyi.

Belum selangkah aku melewati pintu kelas, aku di kejutkan dengan Daksa yang berlari keluar dengan wajah panik membawa tas yang ia sampirkan di bahu kanan.

Aku terus memperhatikan kepergian Daksa sampai punggung tegap laki-laki itu menghilang, ada dorongan yang begitu kuat sehingga aku ingin mengikutinya. Jadi kuputuskan untuk menerobos saja dan bolos, lagipula tujuanku kembali ke sekolah kan memang untuk Daksa.

Dan yah aku berlari mengikuti Daksa tanpa membawa tas, bahkan aku melupakan Aerin yang sudah memanggilku sedari tadi.

Aku mengikuti Daksa di belakang dengan jarak yang cukup jauh, dengan aku yang mengendarai mobil dan Daksa yang setia dengan sepedanya.  Ayunan kakinya terlihat tergesa-gesa, sepedanya melaju kencang tanpa memikirkan beberapa kali dirinya hampir terjatuh dan hampir menabrak pejalan kaki yang kerap lewat.

Aku tetap mengikuti Daksa dengan kening yang mengerut dalam, kenapa Daksa begitu terburu seperti itu? Tidak tahuka yang ia lakukan sekarang sangat berbahaya?

Aku tetap mengikuti kemana Daksa mengayuh sepedanya, sampai pada akhirnya Daksa berhenti di salah satu gedung yang ramai oleh orang yang hilir mudik.

"Tempat ini lagi" aku menatap ke arah depan dimana berdiri sebuah gedung kokoh bertuliskan rumah sakit jiwa, tak salah lagi alasan mengapa Daksa ke tempat ini.

Berbekal ingatan samar-samar yang aku lihat dalam mimpi, aku masuk ke dalam. Tempat yang di penuhi oleh orang-orang yang memiliki gangguan mental yang parah, aku mengatakan demikian karena RSJ ini memang di khususkan untuk pasien yang sulit di sembuhkan.

Aku segera berjalan cepat, mengikuti insting mencari di mana ruangan yang akan Daksa temui. Karena sekarang laki-laki itu sudah tidak ada dalam pandanganku, menghilang begitu cepat seakan ada yang mengejar dirinya.

Tak lama aku berjalan dan mencari ruangan yang ingin aku datangi, aku pun sampai dan telingaku langsung di suguhkan oleh teriakan seseorang dari dalam ruangan tersebut. Aku langsung bisa mengetahui siapa orang di dalam sana karena mengingatnya di dalam mimpiku.

Teriakan yang terdengar frustasi bercampur marah sangat jelas di pendengaranku.

***

Rambut panjangnya bergerak seirama dengan larinya yang terburu-buru, manik matanya memancarkan kekhawatiran yang begitu dalam. Ketika dirinya membuka pintu sebuah ruangan, netranya di suguhkan oleh ruangan yang berantakan dan suara teriakan yang begitu kencang serta beberapa perawat yang sedang berada di ruangan tersebut tengah menangani satu pasien.

"Kenapa dengan mama saya sus?" Laki-laki yang tak lain adalah Daksa bertanya khawatir, melihat bagaimana kondisi mamanya yang begitu memprihatinkan.

"Sepertinya pasien mengalami mimpi buruk, karena saat bangun pasien sudah berteriak dan melempar barang-barang yang ada" jelas salah satu suster menjawab pertanyaan Daksa, sementara suster lainnya tengah kesusahan menenangkan mama Daksa yang bergerak lincah.

"PERGI! PERGI KALIAN! KALIAN SEMUA PENGHIANAT!" teriakan frustasi itu membuat dada Daksa terasa di remuk, melihat sang mama yang sudah tidak seperti dulu membuat tumpuan hidupnya hilang.

"Ma, ini Aksa" Cowo tinggi dengan tatapan sayu itu mendekat, menghampiri sang mama yang sulit di tangani.

Wanita dengan rambut berantakan dan tubuh yang mulai menyusut itu menatap Daksa, tatapan lembut di arahkan untuk Daksa, tangan kurusnya bergerak ingin menggapai wajah Daksa. Pun Daksa mengambil tangan sang mama untuk di arahkan ke pipinya.

"Ini Aksa ma" suara pelan itu bergetar, menatap wajah sang mama yang tidak seperti dulu. Mamanya yang ceria, mamanya yang selalu tersenyum, dan mamanya yang selalu menceritakan dongen dengan ceria saat ia kecil dulu.

Tapi seakan takdir tidak berpihak untuknya, dalam sekejap kebahagiaan itu hilang.

"Aksa" suara cicitan dari wanita yang memegang pipi Daksa itu terdengar, tatapannya menyiratkan rasa rindu yang dalam, namun seperkian detik tatapan itu berubah menjadi amarah.

Plak!

"PERGI! AKU TIDAK INGIN MELIHAT WAJAHMU!"

Daksa menatap mamanya terkejut seraya memegang pipinya yang perih akibat tamparan tersebut, ia tidak sadar jika sudut bibirnya sudah berdarah. Namun Daksa tidak memperdulikan hal itu, karena sekarang atensinya beralih ke mamanya.

Daksa sudah tahu jika akan seperti ini, mendapat tamparan serta pukulan sudah biasa ia rasakan semenjak mamanya masuk ke RSJ. Namun tetap saja rasa terkejut dan tak percaya senantiasa menemaninya, ia seperti tidak percaya jika mama yang dulu begitu lembut dan menyayanginya akan bersikap kasar kepadanya.

Daksa yang masih belum bergeming di tempatnya tidak menyadari jika mamanya sudah tertidur akibat suntikan yang beliau terima, rasa terkejut itu masih ada.

"Pasien sudah saya suntik dengan obat penenang, saat ini pasien sedang tidur. Kalau begitu kami keluar dulu" tiga suster yang tadi menangani mama Daksa kini beranjak keluar, meninggalkan Daksa yang sudah menguasai kesadarannya.

Kaki Daksa bergerak, melangkah pelan dengan tatapan sayu menatap mamanya yang tertidur dengan tenang. Ia mendudukkan dirinya ke kursi samping ranjang mamanya, memegang telapak tangan mamanya yang kurus itu.

"Ma, cepat sembuh. Aksa nggak mau sendiri" kepala Daksa menunduk, cairan bening dari kedua matanya keluar saat itu juga.

Terlihat tubuh itu bergetar, menumpahkan segala rasa sakit hati yang ia rasakan.

****

OMAIGAT AKSAAA HIKSSS

Beautiful Dream Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang