Happy Reading!
***
Brak!
"Uhuk" suara keras dengan tiba-tiba itu membuat Vaby tersedak, padahal baru mengunyah sekali sudah di kagetkan oleh suara entah darimana asalnya.
Dua tangan yang berbeda segera menyodorkan minuman ke arah Vaby, namun tangan besar sedikit kurus itu segera menarik tangannya kembali.
"Kalo makan tuh pelan-pelan" ucap Aerin yang tengah menepuk pelan punggung Vaby.
Agaknya Aerin sudah bisa berbicara santai dengan Vaby, walaupun ia masih dapat membayangkan wajah datar serta ketegasan atasannya tersebut.
Setelah Vaby merasa lega, ia pun mencari asal suara tersebut. Dan yah, sepertinya ia akan melihat adegan yang sama persis di dalam novel dan mimpi yang ia lihat.
"Bisa nggak sih lo jauhin Vernon? Lo nggak pantes sama Vernon. Sadar diri woy!" Antagonis di dalam mimpi Vaby yang tak lain adalah Maureen kini menatap nyalang tepat di depan wajah Eleena.
"Lo kenapa lagi sih, suka banget gangguin Eleena" Jaiden berdiri dari duduknya, menatap sinis dan tak suka ke arah Maureen yang notabene adalah adik yang tidak akan ia anggap.
"Dia nggak sadar diri kak, dia nggak pantes sama Vernon" Maureen menunjuk dengan tatapan kebencian ke arah Eleena.
Kenapa Eleena bisa dengan mudahnya mendapatkan Vernon, sedangkan dirinya? Cara baik dan cara buruk pun sudah ia lakukan tapi Vernon tidak pernah meliriknya.
"Lo yang nggak pantes buat Vernon, Lo yang harus sadar diri" nada dengan penuh tekanan itu keluar dari mulut Jaiden, Maureen rasanya ingin menangis namun ia tahan. Sudah banyak air mata yang ia tahan demi tak terlihat lemah di depan mereka semua.
Kemudian matanya kembali menatap Eleena dengan wajah merah padam, andai Eleena tidak ada di sini mungkin Eleena tidak akan mendapatkan perhatian dari semua orang. Andai Eleena tidak ada, mungkin hidupnya bisa tenang.
"LO! GARA-GARA LO..." Maureen maju mendekati Eleena yang sudah memundurkan diri, melindungi tubuhnya dari amarah Maureen.
"CUKUP!" Tangan Maureen tidak sempat meraih Eleena karena sudah di hempaskan begitu kuat oleh Vernon yang saat ini menatap dengan tak suka, dan tatapan yang tak mengenakkan lainnya yang Maureen lihat.
Tatapan itu sangat menghunus perasaannya.
"CUKUP REEN! UDAH CUKUP LO GANGGUIN ELEENA TERUS" Vernon menyugar rambutnya ke belakang, mencoba mengatur nafas agar tidak bermain kasar.
"Mau gimanapun gue nggak akan pernah suka sama lo, gue cinta sama Eleena. Dia yang gue mau, bukan lo" perkataan pedas itu sangat meremukkan hati Maureen, namun ia tak gentar. Ia akan terus menyakiti Eleena sampai cewe itu sendiri yang memilih pergi.
Pun dirinya tetap melangkah ingin menyerang Eleena, melihat itu kesabaran Vernon sudah diambang batas. Ia sudah tidak tahan melihat kebrutalan Maureen dalam menganggu kekasihnya.
"MAUREEN!"
BRAK!
Kejadian tersebut tak luput dari penglihatan penghuni kantin, mereka merasa mendapat tontonan gratis. Tapi tidak dengan Vaby yang sudah menerobos kerumunan dengan tatapan marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Dream
FantasyBiasanya mimpi itu cuma terjadi sekali dan setelahnya akan kita lupakan, mimpi selayaknya bunga tidur yang tidak akan pernah terjadi di kehidupan nyata. yah, mimpi tidak akan bertahan lama. Ketika kita sudah terbangun mimpi itu akan berganti dengan...
