Nineteen : Painting

1.5K 196 49
                                        

Halo, saya ingin mengingatkan kembali kalau chapter ini penuh dengan narasi dari pada dialog nya. Itu saja. Selamat membaca.

Nineteen : Painting

Kasar dan tebal, tali menjuntai di tarik dengan susah payah. Jerami-jerami tajam itu menggores telapak tangannya yang kasar, menciptakan luka baru. Bukan suara erangan karena menahan beban, namun isakan yang memenuhi ruangan.

Kenapa?

Darah atau tetesan air matanya yang lebih dulu jatuh ke tanah? Lemas tak bertenaga, jantung yang berpacu itu seolah turun keperut. Entah karena menarik beban yang beratnya hampir dua kali lipat dari tubuh mungil nya, atau karena melihat mayat suaminya yang tergant---

Bugh!

Benda tebal dengan sampul coklat tua itu di tutup dengan kencang. Segera setelah tarikan nafas panjang yang terdengar penuh beban itu dilepaskan, Karina memejamkan matanya. Membawa dirinya ambruk pada kasur empuk yang beberapa bulan ini selalu menjadi pelepas penatnya.

Sial, pake salah pilih buku lagi...

Setelah ini, mungkin butuh sehari-- ah tidak, mungkin seminggu untuk Karina melupakan apa yang di bacanya. Ah, seharusnya dia tetap mengikuti saran Rowa yang selalu memberinya rekomendasi buku bertema romansa dan bukannya mencoba hal baru.

Kening yang tertutup beberapa helaian rambut itu sedikit mengkerut saat telinganya menangkap suara gemuruh. Oh, sebenarnya itu sudah terdengar sejak beberapa menit lalu. Hanya saja suaranya semakin saling sahut-bersahutan.

Iris mata gadis itu membulat, terbelalak saat cahaya kilat menyambar, ruangan yang remang itu sejenak memutih. Dentuman yang membahana mulai kembali menggema, hingga menjalar jauh di kegelapan.

Gelap?

Oh ini baru pukul setengah 6 sore, atau malam? Tapi seharusnya langit tidak segelap ini.

Ranjang sedikit berderit saat Karina kembali duduk, menatap kembali buku itu.

Membaca buku adalah menghirup kata-kata seperti udara segar dalam dunia huruf, jika yang di baca adalah kalimat-kalimat penuh untaian kata menegangkan, lantas yang dihasilkan ruang di kepala cantiknya itu tentu perasaan mencekam yang mencekik.

Ah, ini alasan Karina benci cerita dengan jenis seperti ini. Tapi melihat bagaimana Sadie, pelayan yang Karina senangi untuk menjadi teman barunya, dengan excited menyarankan buku ini membuat Nona muda itu tergerak membaca nya.

"Gak mungkin kan tiba-tiba muncul mayat gantung diri?"

Karina menggelengkan kepalanya, dan terkekeh-kekeh dengan nyalinya. Mengambil kembali buku itu dengan enteng penuh wajah mengejek. Sebenarnya Karina cukup berani, hanya saja tidak suka dengan perasaan tidak nyaman yang mulai menguasai nya.

Apaan, cuman cerita doang karangan otak man---

Mata gadis itu kembali terbelalak saat menatap halaman terakhir.

Based on true story

Anjir kisah nyata Cok!

"Loh nona? Saya pikir anda sudah tidur."

"Rowa?"

Rowa menutup kembali pintu dibelakangnya saat dia berjalan ke arah jendela untuk merapatkan tirai.

"Ya nona? Ah, astaga ada apa dengan cuaca hari ini? Bukan hujan, namun hanya gemuruh, pasti para pendosa diluar sana membuat Tuhan kita murka."

Karina memperhatikan pelayan berambut oranye itu melipat tangannya, seolah bermonolog sendiri menatap ke arah luar jendela sebelum menutup tirainya.

1928Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang