Two : A man with serene ocean eyes

3K 398 31
                                        

Karina bertumpu kuat pada pegangan tangga. Kakinya lemas dan gemetaran. Ia sama sekali tidak mengenal siapa pria itu, diingatnya kembali bahwa ia sudah mengunci pintu. Bahkan dua kali putaran hingga berbunyi klek-klek.

Dilihatnya sekeliling, matanya menyipit heran. Bersih, ruangannya benar benar bersih, dan terlampau besar. Sama sekali tidak ada tumpukan barang yang berdebu. Tapi bagaimana ada orang itu disini?

Sepertinya pria itu sama sekali tak sadar akan kehadiran Karina disana. Lantas, haruskah Karina berbalik pergi?

Tidak-tidak!

Gadis itu menggeleng pelan. Bagaimana kalau ia menimbulkan suara dan membuat pria itu tersadar olehnya. Lelah berfikir dengan diri sendiri, hatinya mulai hanyut dengan alunan lagu yang dimainkan.

Kok dari tadi sedih mulu sih, buat hati ga enak aja.

Sorot mata gadis ini kembali meneliti. Siapa pun yang melihat, pasti akan tersentuh dengan penampilan pria itu saat ini. Jari-jarinya menari dengan indah di atas piano, matanya terpejam erat. Sangat jelas dari ekspresi wajahnya bahwa pria ini benar-benar menghayati permainan musiknya. Seolah-olah hatinya lah yang tengah berbicara.

Cahaya matahari yang masuk dari jendela, seakan menjadi pendukung suasana saat ini. Karina baru menyadari, penampilan pria ini sangat tidak masuk di akal sehatnya. Walau matanya terpejam saja, wajahnya sangat damai dan indah. Bulu matanya lentik, garis rahangnya tegas, bahkan hidungnya pun─── ah!

Karina tidak pernah melihat yang seperti itu! Tidak, tidak mungkin ada manusia yang seperti ini.

Apaan ini astaga?! Jantungku tenang lah! Kalem! Kalem please kalem!

Tentu saja jantung nya tak mau mendengarkan. Karina sangat kalut saat ini, antara ingin kabur dan mendekat. Karina masih belum tau, apakah pria ini manusia, atau hantu. Tapi apakah hantu bisa memainkan piano dengan cara yang indah seperti ini?

Karina memantapkan dirinya untuk mendekat. Kaki yang tak lagi selemas sebelumnya melangkah pelan, cukup pelan hingga tak terdengar. Namun, tiba tiba piano terhenti, Karina pun refleks ikut menghentikan langkahnya.

Sambil mendelik jantungnya mulai tak karuan lagi. Maniknya memperhatikan apa yang dilakukan pria ini. Matanya masih terpejam, jari-jarinya tak lagi menari di atas tuts piano. Sebaliknya, dibawanya kedua tangan indah itu untuk mengusap wajahnya. Terlihat sangat frustasi, pria itu menghela nafas yang panjang.

Gadis itu menelan ludahnya sendiri, nafasnya pun ganteng ya.

Beberapa detik, tidak ada pergerakan. Pria itu terlihat bertumpu dengan tangan kanannya yang menutupi kening. Menunduk kebawah, entah apa yang dilihat di sana. Karina yang mendadak tidak sabaran pun memutuskan untuk membuka suaranya terlebih dahulu.

"H-halo───"

?!

GUBRAKKK!

"God damn it!"

Pria itu meringis setelah memekik kaget. Makhluk indah itu terjatuh dengan tidak elok dari bangkunya. Karina yang merasa sangat bersalah buru-buru mendekat untuk membantu.

"Kamu ga──"

"FUCK?!!!"

Namun yang didapatinya, pria itu malah kembali berteriak kaget saat melihatnya. Karina pun ikut terduduk jatuh, gadis ini bingung setengah mati apa yang harus dilakukannya sekarang.

Keduanya saling menatap, menghabiskan beberapa detik berlalu. Kedua sorot mata yang saling beradu, dengan pikiran yang berbeda terlihat jelas di wajah mereka.

1928Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang