Kondisi Henry kini mulai stabil walau pun sempat terjadi lonjakan detak jantung ketika dia sadar, tapi kini semuanya sudah stabil Bea adik Henry kini tengah pergi untuk menghubungi orang tua nya dan Henry untuk menyampaikan kabar gembira ini.
Jadi hanya ada Alex dan Henry di ruangan rawat perwira muda itu, Alex duduk di kursi samping ranjang pasien masih dengan mengenggam tangan kekasihnya.
"Did you miss me that much, untill u can't even let go off my hand, " Ujar Henry dengan nada lembut dan juga senyum manisnya, dia tunjukkan pada kekasih tampan itu.
"Of course I miss my military baby, " Balas Alex dengan menyematkan satu kecupan lembut di punggung tangan Henry.
"Military baby? Really? " Ujar Henry dengan sedikit tawa lembut nya itu, menganggap sebutan Alex terdengar begitu aneh.
"You're a military and you're also my baby to so yeah my military baby, " Balas Alex dengan mengerutkan hidung nya gemas, yg hanya dapat di hadiahi gelengngan kepala Henry yg sudah lelah dengan sikap cheesy Alex itu.
Yang walaupun cheesy tetap dapat memunculkan semburat merah, di pipi putih dan lembut perwira muda juga tampan itu.
Mereka pun berbincang mulai dari bagaimana Alex bisa menjadi begitu akrab dengan keluarga nya, karena ketika Henry sadar tadi dia bisa melihat bagaimana Bea bersikap pada Alex sudah seperti kakak laki laki nya sendiri.
Dan juga bagaimana segalanya berlalu selama dia berada dalam masa coma nya, dan di antara sesi bincang dan juga cerita mereka.
Orang tua Henry datang bersama adik pemuda itu mereka pun dengan bahagia saling berbincang dan berbaur, Henry yg berbaring di ranjang pasien nya tersenyum melihat bagaimana kekasihnya bisa begitu dekat dengan keluarga nya.
Henry pun menepuk kan tangan nya arah pahanya sembari memperhatikan interaksi Alex dan keluarga nya, dan untuk beberapa saat di sana Henry merasa sedikit mati rasa.
Henry pun mengernyitkan alisnya bingung melirik ke arah keluarga nya dan juga Alex, melihat tak ada yang memperhatikan Henry pun beralih berusaha menggerakkan kakinya itu.
Namun anehnya dia tak dapat merasakan apa pun Henry berusaha tenang dan menarik nafas nya pelan, kembali memandang Alex dan keluarganya Henry pun memilih untuk diam dia akan memberi tau kekasihnya nanti ketika mereka hanya tinggal berdua.
Waktu jenguk siang pun selesai Alex berkata tak apa dia yang akan menjaga Henry di rumah sakit untuk sekarang, dan membiarkan orang tua Henry dan juga adik Henry untuk pulang dan istirahat.
"We love you baby," Bisik ibu Henry lembut dan menyematkan kecupan lembut di kening Henry, Bea memberikan sebuah pelukan sedang ayah Henry memberikan tepukan lembut di kaki putranya itu.
Henry pun menganggu dan tersenyum dan untuk beberapa saat di sana rasa khawatir dan takut sedikit muncul di hatinya, karena dia tak dapat merasakan tepukan yang di berikan ayah nya tadi.
Namun Henry tak ingin membuat keluarga nya panik dan khwatir jadi dia hanya diam dan tersenyum, ketika seluruh keluarga Henry telah keluar dari ruang rawat Alex pun mendekat dan kembali duduk di kursi dekat kasur pasien kekasihnya itu.
Henry tersenyum ke arah Alex dan menggenggam tangan Alex, senyuman gelisah nya benar benar tak dapat di sembunyikan oleh Henry.
"Baby are you okay? " Tanya Alex yg melihat setitik kegelisahan di mata kekasihnya itu, Henry menatap Alex dalam awalnya dia ragu tapi dia tau dia tak akan dapat menyembunyikan apa pun dari kekasihnya dia tak dapat berbohong pada Alex.
"Alex... Aku ingin untuk kau tenang dulu sebelum aku mengatakan nya pada mu okey? " Ujar Henry menggenggam erat tangan Alex, di mana dengan bingung pemuda berambut keriting itu pun mengangguk setuju.
Henry diam sejenak menarik dan membuang nafas nya, dan memandang mata kekasihnya itu.
"Aku... Tak bisa.... Merasakan kakiku, " Ujar Henry dengan nada yang mengecil di akhir katanya itu.
"What!? " Alex tentu saja terkejut dia pun dengan cepat bangkit dari duduknya nya, dan menyingkap selimut Henry.
Dia bisa melihat tak ada bengkak atau luka apa pun di kaki kekasihnya itu, dia pun coba menekankan di beberapa bagian sembari bertanya apa kah Henry bisa merasakan nya.
Namun Henry menggeleng sebagai jawaban nya Kernyitan jelas terlihat di antara alis Alex, dia pun menarik pulpen di saku baju scrub nya dan merangsang telapak kaki kekasihnya di mana Henry tetap menggeleng.
"Aku akan memanggil Robert untuk melakukan pengecekan okey, tunggu sebentar, " Ujar Alex dan pergi dari ruangan Henry, tangan Henry terulur hendak meraih Alex tapi telat Alex sudah lebih dulu berlari pergi.
Henry pun menghela nafas dan menyandarkan punggung nya kembali ke ranjang pasien, dalam diam dia memandang kaki nya yg tidak tertutup selimut itu entah apa yang di pikir kan Henry karena dia hanya diam dan beralih memandang atap kamar rawat nya dalam diam.
Di mana tak lama dokter Robert pun datang bersama Alex dan juga dua suster asisten, melakukan pengecekan bukan hanya pada kaki tapi juga punggung dan beberapa sisi kepala Henry.
Robert pun menginstruksikan untuk melakukan beberapa pengambilan sempel untuk tes lab, dan juga full body MRI dan head CT.
"Kita masih belum dapat memastikan dengan tepat mengenai hal ini, kita masih harus menunggu hasil lab CT scan dan juga MRI untuk dapat dengan pasti menetapkan diagnosa, jadi aku harap kalian tenang lah dan berdoa semoga hasilnya tidak menuju ke arah yang tidak di ingin kan, dan Alex bisa kita bicara sebentar, " Ujar Robert berusaha menenangkan rekannya dan juga kekasih rekan kerjanya itu.
"Yeah tentu, " Ujar Alex menyetujui di mana di berpamitan pada Henry dengan satu ciuman di kening dan elusan lembut di pipi dan bisikan kata 'aku akan segera kembali okey' di lengkapi senyum manisnya itu.
Henry menganggu dengan senyum kecilnya dan Robert juga Alex pun keluar dari kamar rawat Henry, di mana kedua suster asisten tadi melanjutkan untuk pengambilan sampel untuk lab pada Henry.
Ketika Robert dan Alex sampai di Koridor rumah sakit yg sepi, Robert berhenti melangkah dan berbalik memandang Alex tepat di matanya.
"Aku tidak menyampaikan ini pada Henry Karena aku tau benar kau tak ingin untuk Henry mendengar nya, dan alasan kenapa aku lebih dulu menginformasikan pada mu sebelum keluarga nya, karena aku tau benar kau sudah paham betul maksud dari apa yg akan ku katakan pada mu, " Ujar panjang Robert ke pada rekannya itu, di mana dia tau betul bahwa ini menyalahi kode etik tapi dia juga tau benar bagaimana seorang Alexander Gabriel Clearmond-Diaz itu.
Jadi sebelum teman nya ini berakhir mendapat surat peringatan dari direktur rumah sakit, dia lebih baik memberi tahu kan rekannya itu.
"Pemeriksaan dasar yang kau lakukan kau tau benar ke mana diagnosa ini akan mengarah, dan Alex aku memiliki firasat ini tidak lah sementara, " Ujar Robert memandang tepat Alex di mata gelap pemuda itu.
Alex memandang Robert diam untuk beberapa saat di sana dia merasa telinganya berdengung, dan pikiran nya menjadi begitu kosong dalam sesaat.
soon...
KAMU SEDANG MEMBACA
The Military Heart (End!?)
FanfictionDokter muda dengan senyum jahilnya itu, dengan tanpa di duga jatuh hati pada seorang perwira muda dengan mata hezel dan jangan lupakan senyum manisnya itu. Datang sebagai dokter militer pulang sebagai kekasih hati sang perwira, takdir yg mengikat d...
