TMH 18

152 17 1
                                        

P. S
Don't forget the vote and comment enjoy the story guys, <3<3<3.

Bea menarik nafas panjang dan menatap wajah Henry, jika bisa dia hanya ingin saudara nya bersikap seperti tak ada yg terjadi dan melupakan saja.

Tp Bea tau benar seperti apa kakak nya itu jadi dia memilih untuk menatap wajah kakaknya, dalam diam dan menghela nafas kecil.

"Do you want me to tell you the lie or the truth? " Tanya Bea dengan wajah yg datar memandang mata Henry.

"You know I still gonna know if you tell me the lie, " Balam Henry menatap balik adiknya itu.

"It's just one words then they still and always will, " Ujar Bea memandang kakaknya tepat di matanya, dengan senyum kecil dan tetesan airmata yg mulai keluar itu.

Henry pun menarik lembut tangan adiknya itu dan membawa Bea pada pelukan nya, dalam diam gadis itu mulai menangis Henry hanya diam tak berbicara.

Sedangkan di tempat Alex sendiri dokter berkulit tan itu baru saja menyelesaikan penanganan pada salah satu pasien, menghela nafas dia memijat belakang lehernya sembari berjalan menuju ruang istirahat karyawan rumah sakit.

"You look tired, " Ujar salah seorang dokter yg ada di ruang istirahat itu, ketika melihat Alex masuk dan mengambil tempat untuk duduk di sofa yg ada di ruangan itu.

"Yeah it's been quiet a day, " Ujar Alex menghela nafas menengadah kan Kepala nya bersandar, pada sandaran sofa yg tengah dia duduki itu.

"Right as always, " Balas dokter salah satu teman Alex itu, dan duduk di sisi lain sofa ruang istirahat sembari meletakkan segelas kopi di hadapan Alex di mana dia sendiri memegang sebuah mug dengan kopi yg sama.

"At least I just got the regular pasien not the consult, " Ujar Alex bangkit dan meraih kopi yg di taruh di meja di hadapan nya, menyesap pelan isi nya.

"Good then, the two consult I get was a quiet pain in the ass, " Balas teman Alex yg juga meminum kopi yg ada di mug nya itu.

"Well at least we do earn more money from that one Josh, " Sahut Alex pada dokter dengan mata biru dan rambut blonde nya itu.

"Never say no to extra money did we, " Ujar Josh dengan smirk nya itu, kembali menyesap kopi nya.

Alex pun hanya bisa tertawa kecil sembari menggelengkan Kepala nya, mendapat balasan yg lumayan terdengar 'matre'.

Mereka pun diam sembari menikmati kopi yg ada di gelas mereka masing-masing, dengan Alex yg terlihat berusaha untuk menghilangkan rasa lelah nya juga.

"Anyway I heard about your boyfriend, " Ujar Josh tiba tiba sembari menatap mug nya, tanpa mengalih kan pandangan nya untuk menatap Alex.

"I think all of the hospital did, " Balas Alex merenggang kan tangan nya pada sandaran sofa, dan bersandar menengadahkan Kepala nya sembari memejamkan mata.

"Already becoming public secret, " Ujar Josh kini mengalihkan pandangan nya untuk menatap Alex, yg masih diam memejamkan matanya itu.

"Well at least it's help me to get rid of the fly, " Ujar Alex ngangkat Kepala nya dari sandaran sofa dan memandang Josh, dengan sedikit senyum kecil di ujung bibir nya itu.

"Right, " Balas Josh dengan sedikit senyum jg, dan beralih untuk meminum kopi di mug yg di pegangnya itu.

"Just so you know, if you need advice I'll have the free time for you, " Ujar Josh yg kemudian bangkit meletakkan mug nya di konter meja ruangan itu, dan pergi untuk melanjutkan sift nya.

Alex hanya diam memandang dan menghela nafas nya pelan, dan beralih lebih gelas kopinya untuk dia genggam.

Robert mungkin adalah salah satu teman baiknya di rumah sakit itu, tapi Josh dia lebih dari sekedar teman walaupun lahir dari ibu yg berbeda Josh tetap saudaranya nya mengingat mereka memiliki darah yg sama dari ayahnya.

Satu satunya anggota keluarga yg benar-benar dekat dengan Alex, pertama mengenal Josh sebagai kakak nya ketika umur nya menginjak tujuh tahun.

Alex tidak pernah lagi hanya menyimpan masalah untuk diri nya sendiri, karena dia tau dia punya Josh untuk berbagi segala ceritanya.

Karyawan di rumah sakit ini tak ada yg tau mengenai hal ini karena Josh dan Alex, selalu begitu profesional dan hanya saling berbicara mengenai pekerjaan antara satu sama lain.

Ketika dia akan di kirim sebagai dokter volunteer malam hari setelah berita pengumuman Josh menghubungi dirinya, mereka berbicara hampir tiga jam lebih sebelum akhirnya Josh mengucapkan selamat malam dan good luck untuk nya.

Ketika Alex kembali ke rumah sakit dia menjadi lebih sibuk dari yg dia kira sehingga dia jarang bertukar sapa dengan Josh, mengingat kakak nya itu adalah dokter utama di ruang rawat pasien lantai dua dan tiga rumah sakit tentu mereka jarang bertemu.

Alex juga tak memiliki kesempatan untuk bercerita mengenai Henry pada Josh, hingga kejadian kecelakaan besar dan segalanya Alex beruntung Josh adalah orang yg cukup pengertian.

Dan tidak menuntut banyak penjelasan juga tidak secara tidak jelas marah karena Alex tidak memberi tau nya atau pun satu orang dari keluarga mereka mengenai Henry.

Josh mengerti karena dia beberapa kali melewati ruang perawatan Henry dan melihat adiknya duduk, menemani pasien koma semua kabar yg dia dengan dari suster di rumah sakit itu yg suka bergosip.

Josh pun pergi bertanya langsung pada Robert dan mendapat penjelasan, dia pun mengerti kenapa hingga hari ini Alex belum mengatakan apa pun padanya selaku kakak nya itu.

Selesai dengan istirahat singkat nya Alex keluar dari ruang istirahat, dan melanjutkan sift nya yg tersisa 4jam lagi.

Sedangkan di tempat Henry kekasih Alex itu terlihat tengah berbincang santai dengan adiknya,  setelah sedikit momen emosional berlalu mengenai kabar ayah dan ibu mereka.

Bea tiba tiba saja mendapatkan telfon dari salah satu rekannya di tempat kerja gadis itu, di mana ada beberapa hal yg harus di tangani gadis itu sekarang juga.

"It's okay Bea, you can go Alex will be done with his sift, in one hour, " Ujar Henry ketika melihat adik nya itu bingung antara setuju untuk pergi, atau tetap di sini untuk menjaga kakak nya itu.

"Really? " Tanya Bea yg masih ragu itu, tapi dia tau betul jika pekerjaan ini cukup penting juga mengingat ini untuk rapat tahunan perusahaan besok pagi.

"Really it's okay, " Ujar Henry meyakinkan dengan senyum dan menggenggam tangan adiknya untuk meyakinkan gadis itu.

"Okey if you say so, " Ujar Bea kemudian bangkit membereskan barang yg akan dia bawa dan memindahkan barang yg, dia bawa unyu Henry ke meja nakas pasen dekat kasur Henry.

"Tell Alex I said hi, " Ujar Bea setelah menyematkan satu ciuman di pipi kakak nya itu, dan pergi dari ruangan Henry ketika telah mendapat balasan senyum dan anggukan dari Henry.

Beberapa waktu ketika Bea keluar dari ruangan nya Henry menghela nafas dan mulai menyandarkan tubuhnya kebelakang, beberapa pemikiran mulai datang dan sedikit mengganggu Henry.

Memandang tembok ruangan di hadapan nya pikiran Henry begitu kalut, segala kejadian yg menimpanya hingga kini Henry tak bisa lagi membendung air mata yg menumpuk di pelupuk matanya itu.

Dalam diam Henry mulai menangis dan meringkuk memeluk dirinya sendiri, dengan menghadap kejendela ruang rawat memunggungi pintu masuk ruang rawat nya.

Soon...

The Military Heart (End!?) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang