Waktu berlalu jam kini telah menunjukkan pukul 9 malam ketika Henry terbangun dari suntikan bius nya, diam memandang langit langit ruang rawatnya Henry bisa merasakan genggaman tangan lembut di tangan kirinya.
Dan tanpa perlu melihat Henry sudah tau betul siapa itu, Henry pun membalas genggaman itu lembut penyampaian diagnosa siang tadi kini mulai kembali berputar di otak nya.
"Lumpuh permanen huh, " Bisik Henry dengan nada yg jelas jelas hancur dan terluka, setetes air mata mengalir di sudut mata kirinya Henry hanya bisa diam membiarkan air matanya berlomba keluar dari pelupuk matanya.
Alex yg tertidur telungkup di sisi ranjang Henry terjaga ketika merasakan tangan nya di balas genggaman oleh Henry, Alex bangkit dan dia bisa melihat kekasihnya hanya diam menatap atap ruangan namun air mata itu terlihat jelas mengalir menetes dari mata yg akan selalu menjadi favorit Alex itu.
"Hey hey hey baby shuss shuss , " Ujar Alex menunduk membawa Henry pada pelukan lembut nya, tak lupa dia sematkan kecupan di daun telinga Henry.
"Alex, " Bisik Henry lemah memeluk tubuh Alex menyembunyikan wajahnya di bahu kekasihnya, di mana kemudian suara tangisan keluar dari bibir Henry.
"It's okay baby, it's okay, I'm right here, I'm right here," Balas Alex memeluk erat Henry, dan mengelus punggung kekasihnya itu.
Tak dapat menahan nya lagi Henry pun menangis kuat sembari memanggil nama Alex, tangisan yg begitu pilu dan terluka terdengar dari bibir pemuda berambut blonde itu.
Alex hanya bisa memeluk Henry menguatkan nya dengan bisikan bisikan kasihnya di telinga Henry, Alex tak menghiraukan dirinya yg juga mulai menangis dalam diamnya itu.
Alex tak pernah merasa sehancur ini melihat bagaimana Henry, yg dia tau begitu kuat dan tegar menjadi begitu hancur dan rapuh.
Alex tau benar seberapa terluka dan hancur nya Henry saat ini, tak ada yg bisa di lakukan Alex selain memeluk dan menguatkan Henry.
Mereka sama-sama rapuh dan hancur saling memeluk dan menangis di pelukan satu sama lain, beruntung di ruangan itu hanya tersisa Alex dan jg Henry.
Beberapa menit berlalu Henry kini sudah mulai tenang dengan tangisan nya, dia meringkuk dalam pelukan Alex yg ikut berbaring di ranjang pasien Henry.
Alex tentu dengan senang hati memeluk kekasihnya, menyematkan kecupan kecupan kecil di kepala Henry.
Mereka hanya diam berusaha saling merasakan ke beradaan satu sama lain, lewat pelukan lembut dan hangat di antara mereka.
"Alex, " Bisik Henry sembari mengelus lembut dada bidang Alex, yg di balas 'hmm,' lembut oleh Alex sembari merebahkan Kepala nya di atas kepala Henry.
"Will you still love me?" Ujar Henry berbisik dengan telunjuk yg menggambar pola aneh di dada bidang Alex, menunggu jawaban dari bibir Alex.
Alex yg mendengar nya tentu terkejut bagaimana bisa Henry masih mempertanyakan hal itu, karena jika Alex bisa dia ingin untuk memberitahukan seluruh dunia sekarang bahwa dia begitu mencintai pria dalam dekapan nya ini.
Alex menarik nafas nya lembut meraih tangan Henry yg ada di dadanya, membawanya untuk dia beri kecupan lembut penuh kasih.
"Of course I will always love you, after everything you're still half of my soul, and nothing can change that, " Balas Alex mengangkat wajah Henry untuk menatap nya, dan mengecup kedua kelopak mata Henry, lalu ujung hidup nya dan berakhir di belah bibir manis Henry.
Henry memejamkan matanya membiarkan dirinya lebur menyatu pada ciuman lembut Alex, setitik air mata terlihat jatuh dari mata biru itu ketika dia memejamkan matanya.
Memiliki keluarga yg mencintai dan selalu mendukung nya adalah hal yg begitu di syukuri Henry, namun kini kata syukur saja tidak cukup untuk menggambarkan betapa beruntung dia memiliki Alex sebagai sosok orang terkasih nya.
Di sayangi, di kasihi dan di cintai sedalam ini Henry merasa tak perduli sebesar apa cobaan yg di terimanya dalam hidup, selama dia memiliki Alex dalam pelukan nya di tau bahwa dia akan dapat melewati nya.
Saling memeluk dan berbagi ciuman lembut Alex dan Henry menghabiskan malam bersama hanya dengan diam, dan menikmati kehadiran satu sama lain memeluk untuk menghalau dingin nya malam.
Tak ada yg tidur di antara mereka namun tak ada juga yg berbicara mereka benar-benar hanya dia dan saling mengelus, dan entah untuk alasan yg tak dapat mereka jelaskan mereka hanya merasa begitu beruntung bisa memiliki satu sama lain dalam pelukan mereka kini.
Pagi datang dan kebetulan hari ini Alex memiliki sift hingga siang nanti, menyematkan kecupan dan juga bisikan cinta Alex pergi untuk sedikit menyegarkan dirinya di kamar mandi ruangan Henry lalu lanjut untuk pergi mengisi sift nya hari ini.
5mnt setelah Alex pergi adik Henry datang dengan pepper bag yg berisi sarapan pagi, di mana isinya hampir semua adalah favorite Henry.
"Selamat pagi kakak, " Ujar Bea dengan senyum melepas cout nya dan meletakkan nya di sofa ruangan Henry, melepaskan juga syal nya Bea berjalan mendekat ke kasur Henry dan memberi cuman di pipi kakak nya itu.
"Pagi , " Balas Henry dengan senyumnya itu dan Bea bisa melihat jelas bahwa kakaknya sudah mulai baik baik saja.
"I can see everything when right, " Ujar Bea balas tersenyum, dan mengelus lengan atas kakaknya lembut.
"Every thing was great, " Sahut Henry masih dengan senyum lembut nya itu, memandang adik manisnya itu.
"Good, then now it's time for your breakfast then, " Ucap Bea berjalan mendekati meja di dekat sofa, mengeluarkan kotak kotak makanan, dari pepper bag yg di bawanya membuka tutup nya meraih salah satu kotak berisi bubur dan membawa nya mendekati Henry.
"Is that what I think it is right? " Ujar Henry sedikit bertanya melihat bubur favorit nya itu.
"Yeah bubur daging sapi, " Ujar Bea duduk di kursi dekat ranjang pasien Henry, mulai menyendok bubur untuk di siapkan pada kakaknya itu.
Dengan senyum Henry membuka mulutnya menerima suapan dari adiknya itu, selama 15mnt mereka hanya diam tanpa ada yg berbicara.
Dan ketika bubur yg di pegang Bea habis dan Bea memberikan segelas air yg terletak di nakas dekat ranjang pada Henry, kakak laki lakinya nya itu pun tiba tiba berkata.
"How is Mom and dad? " Tanya Henry dengan suara pelan yg sudah hampir seperti berbisik itu, membuat senyum yg awalnya tersemat di bibir Bea perlahan menghilang.
"Drink first, " Ujar Bea tidak menjawab pertanyaan kakak nya dan hanya memberikan sedikit senyum yg terlihat agak di paksa itu, dengan tangan yg memberikan segelas air pada kakak nya itu.
Henry meraih gelas itu dari tangan Bea dan meminum air nya, lalu meletakkan kembali gelas itu di nakas di samping ranjang nya.
"Just tell me, " Ujar Henry menatap tepat kemata adiknya itu, berusaha membuat Bea untuk bicara.
Soon...
KAMU SEDANG MEMBACA
The Military Heart (End!?)
FanfictionDokter muda dengan senyum jahilnya itu, dengan tanpa di duga jatuh hati pada seorang perwira muda dengan mata hezel dan jangan lupakan senyum manisnya itu. Datang sebagai dokter militer pulang sebagai kekasih hati sang perwira, takdir yg mengikat d...
