Skip
Sekarang orang tua mereka sudah sampai dirumah masing-masing dan akan segera memberi tahu kepada Milka dan Arsya tentang rencana perjodohan mereka yang memang sudah dijanjikan sejak dulu oleh orang tua mereka.
"Assalamu'alaikum" ujar mamih Nana dan papih Dewa bersama.
"Wa'alaikumussalam mih, pih, kalian sudah pulang"jawab Milka yang sedang menonton TV diruang tamu.
" iya sayang kami baru saja sampai"ujar mamih Nana.
"Oh iya sayang ada yang mau kami bicarakan sama kamu" ujar papih Dewa.
"Ada apa mih, pih,? " tanya Milka kepada kedua orang tuanya.
"Jadi gini sayang kan tadi mamih sama papih pergi untuk bertemu dengan teman lama papih dan kami bertemu untuk menetapi janji yang sudah kami buat sejak dulu" ujar papih serius.
"Memang nya janji apa pih,? " tanya Milka pada sang papih.
"Janji untuk menjodohkan kamu dengan anak teman papih"ujar papih yang mampu membuat Milka terkejut dan membulat kan kedua matanya.
" HAH DIJODOHIN, papih bohong kan pih"ujar Milka yang menganggap papih nya bercanda.
"Gak sayang, papih serius kamu akan dijodohkan dengan anak teman papih" ujar papih Dewa yang mampu membuat Milka membeku dan syok.
"Sayang, maafin mamih sama papih ya kalo keputusan kami ini membuat kamu bingung mamih sama papih cuman mau yang terbaik buat kamu nak, " ujar sang mamih sambil mengelus rambut panjang Milka dengan lembut.
"Tapi kenapa harus dijodohin mih, pih, " ujar Milka pada kedua orang tuanya.
"Sayang,kan kamu sekarang udah besar mamih sama papih juga udah ga muda lagi kita cuman mau ada yang melindungi kamu, menjaga kamu, dan selalu menemani kamu dalam keadaan apapun" ujar sang mamih yang masih setia mengelus rambut putrinya.
"Dan mamih sama papih yakin kalo anak dari teman papih itu yang terbaik buat kamu, jadi kamu setuju ya" ujar mamih Nana sambil tersenyum dan menengkup kedua pipi Milka sambil sesekali mengelus nya.
"Yaudah kalo memang itu keputusan mamih sama papih Milka setuju dan Milka yakin pilihan mamih sama papih pasti yang terbaik buat Milka" ujar Milka memegang tangan sang mamih yang masih berada di kedua pipinya sambil tersenyum manis.
"Terimakasih ya sayang udah mau nurut dan ngerti" ujar mamih Nana yang membawa Milka kedalam pelukan hangatnya.
"Iya mih sama-sama" ujar Milka yang berada dalam pelukan hangat sang mamih.
Di Kediaman Keluarga Arsya.
"Assalamu'alaikum" ujar mamah Dewi dan papah Lucky bersama.
"Wa'alaikumussalam mah, pah, " ujar Arsya yang baru keluar dari kamarnya.
"Arsya ada yang mau mamah sama papah omongin sama kamu" ujar papah Lucky pada anaknya.
"Ada apa mah, pah, kok mukanya serius banget" ujar Arsya yang melihat wajah orang tuanya sangat serius.
"Kamu akan papah dijodohkan dengan anak teman lama papah" ujar papah Lucky yang membuat Arsya terkejut.
"APA DIJODOHIN, GA GA ARSYA GA MAU" ujar Arsya yang menolak perjodohan nya dengan mentah-mentah.
"Arsya nak, ini udah janji papah kamu sama temannya waktu dulu" ujar mamah Dewi.
"Tapi Arsya ga mau mah, Arsya aja ga kenal siapa anaknya teman lama papah" ujar Arsya pada orang tuanya.
"Kalo masalah perkenalan nanti kita atur waktu sayang, yang penting sekarang kamu setuju dulu, mamah sama papah ngelakuin ini untuk kamu, biar ada yang mengurus kamu, merawat kamu, menemani setiap langkah kamu, mamah tau mungkin ini terlalu terburu-buru untuk kamu tapi kamu sekarang sudah dewasa dan harus mempunyai pasangan jadi kamu mau kan terima perjodohan ini? "ujar mamah Dewi berusaha untuk menjelaskan kepada Arsya agar Arsya bisa menerima perjodohan ini.
"Yaudah kalo memang sudah menjadi keputusan papah sama mamah Arsya nurut" ujar Arsya yang sudah mau menerima perjodohan ini.
"Makasih ya sayang udah mau mengerti,mamah yakin kok dia gadis yang cantik dan yang terbaik untuk kamu" ujar mamah Dewi lembut sambil mengelus tanggan putranya.
"Iya mah aku percaya kok, kan ga mungkin mamah sama papah mau menjodohkan aku dengan gadis tidak jelas" ujar Arsya tersenyum hangat sambil menggenggam tangan mamahnya yang mengelus lembut tangannya.
"Makasih ya sayang, kamu sudah mau menerima keputusan mamah sama papah" ujar mamah Dewi sambil tersenyum manis pada Arsya.
"Iya mah sama-sama" ujar Arsya yang tersenyum sangat manis untuk kedua orang tuanya.
Skip malam hari sekarang waktunya Milka bertemu dengan para sahabat nya disebuah cafe langganan mereka sewaktu SMA cafe TAMARA. Sekarang mereka sedang asik mengobrol sambil menunggu Milka.
"Haiiii Guyssss" ujar Milka yang baru sampai.
"Hai mil, " jawab mereka bersama.
"Mil, kenapa lo kok kayak nya murung banget" ujar Wulan yang melihat Milka sedari tadi murung tak seperti bisanya.
"Gue dijodohin guys" ujar Milka pada para sahabatnya.
"WHAT DIJODOHIN SERIUS LO" teriak para sahabat nya yang terkejut mendengar bahwa Milka dijodohkan.
"Berisik bego" ujar Milka menoyor satu persatu kepala sahabatnya.
"Ya maap maap tapi serius lu dijodohin" ujar Grecia.
"Iya mil, lo ga bercanda kan" ujar Glova.
"Sumpah mil, bercanda lo ga lucu" ujar Natasya.
"Tau lo mil, kalo ngomong jangan ngaco deh" ujar Sintia.
"Iya mil, serius nih lo dijodohin" ujar Diva karena memang mereka semua menganggap Milka sedang bercanda.
"Serius lah, masa gue bercanda soal beginian" jawab Milka pada para sahabatnya.
"Jadi lo beneran dijodohin" tanya Glova memastikan.
"Iya guys gue serius" ujar Milka.
"Emang nya lo dijodohin sama siapa? " tanya Sintia pada Milka.
"Gue juga ga tau, gue baru besok ketemuan sama dia dan keluarga nya" ujar Milka.
"Yaudah lo sabar aja ya mungkin orang tua lo mau yang terbaik buat lo" ujar Natasya sambil mengelus punggung Milka.
"Iya mil, gue setuju sama Natasya kan ga mungkin orang tua lo mau jodohin lo sama cowok ga jelas" ujar Grecia.
"Iya guys makasih ya kalian emang sahabat yang selalu ada disaat gue sedih maupun senang" ujar Milka sambil tersenyum manis pada sahabat nya dan merentangkan tangannya seolah dia meminta sahabatnya untuk masuk kedalam pelukan nya, dengan senang hati mereka masuk kedalam pelukan Milka.
Bersambung
See you next part guys jangan lupa komen dan vote ✨
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Couple
Teen FictionWelcome Happy Reading... Tentang dua orang yang saling mencintai tapi banyak halangan nya langsung baca yukkk To Be Continue
