Keduapuluhenam

129 12 0
                                        

                     Happy Reading 🕊️

Hari demi hari berlalu, sudah lima hari sejak Milka dirawat, dan selama itu pula Arsya setia menemani dan merawatnya. Arsya tidak pernah sekalipun meninggalkan Milka sendirian, meskipun terkadang sikap Milka masih terkesan dingin padanya. Meskipun demikian, Milka tetap menunjukkan perhatian kepada Arsya, meski dengan cara yang sulit untuk dibaca. Dia memang belum bisa sepenuhnya melupakan kesalahan Arsya, namun dia tahu Arsya tak pernah berhenti berusaha.

Pada hari kelima, dokter mengonfirmasikan bahwa kondisi Milka sudah membaik dan dia diperbolehkan pulang. Milka merasa lega, namun ada perasaan campur aduk di hatinya. Di satu sisi, dia ingin kembali ke rumah dan melanjutkan kehidupannya, namun di sisi lain, dia masih merasa bingung dengan perasaannya terhadap Arsya, yang nanya teman-teman Milka dan Arsya pada kemana mereka sudah pulang dari 2 hari yang lalu dikarenakan harus kuliah dan mereka juga sepakat untuk tidak melibatkan orang tua mereka dalam masalah ini.

Saat mereka berada di ruang perawatan, Arsya membantunya berdiri, siap membantu membawa barang-barang Milka.

“Sudah lebih baik?” tanya Arsya dengan suara lembut, meskipun dia bisa melihat bahwa Milka masih sedikit lelah.

Milka hanya mengangguk, tanpa mengatakan lebih banyak. “Terima kasih,” ucapnya singkat, berusaha menghindari pandangan Arsya.

Arsya tersenyum tipis, meski sedikit cemas. “Aku bantu kamu jalan ya”ujar Arsya sambil mengulurkan tangannya.

Milka terdiam sejenak, kemudian mengangguk dan perlahan menerima uluran tangan Arsya. Selama perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa hening. Milka duduk di kursi samping, memandangi pemandangan di luar jendela, sementara Arsya mengemudi dengan tenang.

Sesekali, Milka memerhatikan Arsya dari sudut matanya. Meskipun sikapnya dingin, hatinya terasa berat, seolah ada perasaan yang tak bisa dia ungkapkan. Milka masih menyimpan luka yang belum sepenuhnya sembuh, tapi di satu sisi, dia tahu Arsya telah berusaha keras untuk memperbaikinya.

Begitu sampai di rumah, Arsya membantu Milka keluar dari mobil. "Kamu pasti capek, kan?" tanyanya. Milka hanya mengangguk.

"Yaudah kamu istirahat dulu,aku antar kamu ke kamar ya"ujar Arsya pada Milka dengan lembut sambil memegang kedua bahu Milka dan Milka hanya mengikutinya saja.

"Terima kasih sudah membantu aku," ujarnya pelan sambil menunduk ketika sudah sampai di kamar matanya tak bisa sepenuhnya bertemu dengan mata Arsya. kemudian ia melangkah menuju ranjang.

Arsya mengikuti di belakangnya, sedikit mempercepat langkahnya untuk berjalan berdampingan. "Aku nggak akan kemana-mana, Sayang," katanya lembut. "Kamu nggak perlu khawatir, aku temani kamu disini ya"ujar Arsya dengan lembut.

Milka terdiam sejenak,tapi tak lama kemudian ia mengangguk. Meski masih ada jarak di antara mereka, entah mengapa, Milka mulai merasa sedikit lebih tenang.

Setelah Milka berbaring di ranjang, Arsya duduk di tepi tempat tidur, masih menatap Milka dengan penuh perhatian. Milka terbaring dengan mata tertutup, namun dia tahu Arsya tetap di sana, menjaga jarak dengan penuh kesabaran. Hening beberapa saat, hanya terdengar desah napas Milka yang perlahan mulai tenang.

"Kalau butuh apa-apa, panggil aku ya jangan sungkan" ujar Arsya, suaranya rendah dan lembut, seolah ingin memberi ruang bagi Milka untuk merasa nyaman.

Milka membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar. "Aku  merasa canggung," katanya dengan suara pelan, hampir berbisik. "Tapi, terima kasih sudah selalu ada untukku"ujar Milka dengan lembut.

Arsya tersenyum tipis, menyentuh tangan Milka dengan lembut dan menggenggamnya. "Aku nggak akan ke mana-mana, Sayang. Aku ada di sini untuk kamu. Bahkan kalau kamu butuh waktu lebih lama untuk menerima semuanya, aku akan tetap di sini," kata Arsya dengan tulus.

Perfect CoupleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang