Happy Reading 🕊️
Milka diam sejenak, merasakan hangat genggaman tangan Arsya di tangannya. Ada perasaan yang sulit dijelaskan rasa yang campur aduk antara luka, kebingungan, dan sedikit harapan. Dia tahu bahwa waktu akan menjadi penentu, tapi kadang, waktu juga bisa membuat segalanya semakin rumit.
“Aku nggak tahu,” kata Milka pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada Arsya. “Kadang aku merasa, meskipun kamu janji akan berubah, apa bisa aku percaya lagi sama kamu?”tanya Milka pada Arsya
Arsya menundukkan kepala, merasakan berat pertanyaan itu. “Aku tahu, Sayang. Aku ngerti kamu merasa itu. Aku juga tahu ga ada yang bisa memaksa kamu untuk percaya sekarang. Tapi aku janji, aku nggak akan nyerah. Aku cuma butuh kesempatan buat menunjukkan kalau aku bisa berubah.”ujar Arsya pada Milka.
Milka menghela napas, mencoba menenangkan pikirannya. Dia merasa lelah dengan semua yang terjadi, namun hatinya juga masih menginginkan adanya perubahan. “Tapi bukan cuma janji, Mas. Bukan cuma kata-kata. Tapi Itu semua harus dibuktikan,aku cuma mau kamu percaya sama aku” ujarnya dengan tegas, meski suaranya agak gemetar menahan tangisannya.
“Aku paham,” jawab Arsya, sesungguhnya ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakan untuk meyakinkan Milka lebih jauh. “Aku tahu, dan aku siap buktikan. Setiap langkah, aku akan tunjukkan kalau aku serius.”ujar Arsya pada Milka.
Milka menatapnya dengan tatapan tajam, seolah mencari tahu apakah Arsya benar-benar bisa melakukan apa yang dia katakan. “Oke, kita lihat saja nanti. Tapi aku butuh waktu. Dan aku ga janji akan segera bisa maafin kamu, Mas”ujar Milka pada Arsya.
Arsya tersenyum pahit, mengangguk pelan. “Aku ga akan maksa kamu, Sayang. Aku akan sabar. Aku hanya berharap kamu bisa melihat perubahan aku nanti.”ujar Arsya pada Milka sambil mengelus lembut pipi Milka.
Teman-teman Milka yang sedari tadi hanya terdiam,mulai memandang satu sama lain, memberi isyarat agar mereka memberi ruang untuk berbicara lebih lanjut tanpa terganggu. Masing-masing dari mereka mulai keluar satu-persatu, mereka semua tahu jalan yang harus dilalui Milka dan Arsya masih panjang dan penuh ketidakpastian. Namun, setidaknya ada sedikit cahaya di ujung terowongan bahwa keduanya masih ingin mencoba untuk memperbaiki segalanya.
Milka menatap Arsya, untuk pertama kalinya sejak lama, dengan pandangan yang lebih tenang, meskipun masih ada keraguan. “Aku akan berusaha, memaafkan kamu, tapi aku butuh waktu Mas” ujarnya perlahan, seakan memberikan sedikit harapan yang mungkin bisa membuat semuanya lebih baik.Arsya mengangguk dengan penuh harapan,
"Sekali lagi aku minta maaf sama kamu, aku gatau kalau semuanya malah menjadi rumit seperti ini"ujar Arsya pada Milka sambil menundukkan kepalanya.
"Aku ga marah sama kamu tapi aku kecewa sama kamu Mas, aku ga nyangka kamu bisa berpikir serendah itu tentang aku, kamu tau aku kan, kita udah kenal bukan satu hari dua hari Mas, harusnya kamu tau aku seperti apa, bahkan kita udah janji kan untuk saling percaya satu sama lain apa kamu lupa"ujar Milka pada Arsya dengan air mata yang kembali menetes.
Flashback On.
"Kamu janji ya kalaupun nanti ada yang berusaha mau menghancurkan rumah tangga kita dengan cara apapun itu kita harus saling percaya ya"
"Iya sayang kamu tenang aja aku pasti akan percaya sama kamu"
"Janji"
"Janji sayang"
Flashback Off.
Arsya terdiam, wajahnya penuh penyesalan. Kata-kata Milka terus terngiang di telinganya, membuatnya semakin merasa hancur. Dia ingat betul saat mereka mengucapkan janji itu, saat mereka berdua percaya bahwa tak ada hal apapun yang bisa merusak hubungan mereka. Tapi kenyataan berkata lain. Kini, janji itu terasa seperti sebuah mimpi yang jauh dan mulai pudar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Couple
Teen FictionWelcome Happy Reading... Tentang dua orang yang saling mencintai tapi banyak halangan nya langsung baca yukkk To Be Continue
