Keduapuluhempat

141 16 0
                                        

                     Happy Reading 🕊️

Arsya mengendarai mobilnya dengan cepat, napasnya terengah-engah, tak peduli jalan yang dilalui semakin gelap. Ia terus mencari jejak Milka, berharap menemukan tanda-tanda keberadaannya. Di sisi lain, Wulan, Grecia, Natasya, Sintia, Glova dan Diva tak kalah cemas. Mereka bergerak bersama, menyusuri jalanan sekitar hotel, bertanya pada orang-orang yang mereka temui, namun Milka tak kunjung ditemukan.

"Udah hampir pagi, kita harus nemuin dia," kata Wulan dengan suara tegang, matanya tak henti-hentinya memeriksa sekitar.

"Iya, tapi gue yakin dia nggak jauh dari sini," jawab Sintia, mencoba memberi harapan.

Arsya yang terus menambah kecepatan mobil nya dengan kecepatan yang lebih cepat, semakin merasa terdesak. Hatinya semakin gelisah dengan setiap menit yang berlalu tanpa kabar dari Milka. Ia teringat percakapan mereka tadi dan betapa besar perasaan Milka yang mungkin terluka karenanya.

Sementara itu, Milka yang duduk di bangku taman, akhirnya bangkit setelah sekian lama terdiam. Ia merasa pusing dan tubuhnya lemas, namun tak bisa menahan perasaan yang terus menggumpal di dada. Milka berjalan perlahan, mencoba mencari jalan pulang meskipun tubuhnya semakin terasa berat. Setiap langkah terasa seperti beban yang semakin menekan, dan dalam kelelahan yang semakin menjadi, Milka merasa dunia mulai berputar.

Ketika langkah Milka mulai goyah dan ia terjatuh di pinggir jalan, tubuhnya langsung tak mampu bertahan lagi. Milka pingsan di sana, tanpa ada yang menyadari keadaannya.

Arsya memacu mobilnya semakin cepat, tubuhnya hampir tak terkontrol oleh gelisah yang menyelimuti. Setiap detik yang berlalu semakin mengikis ketenangannya. Pikirannya penuh dengan gambaran Milka yang terluka,gambaran dari kata-kata yang telah ia lontarkan, dan betapa ia telah mengabaikan perasaan Milka. Dengan harapan yang semakin menipis, Arsya mulai kehilangan arah dalam pencariannya.

Tiba-tiba, di salah satu tikungan jalan yang sepi, ia melihat sebuah taman yang cukup sepi dan melihat sesuatu yang membuat hatinya serasa berhenti sejenak. Di pinggir taman dia melihat seorang wanita terbaring lemah, tubuhnya tampak goyah. Tanpa berpikir panjang, Arsya menginjak rem dan berhenti dengan terburu-buru. Mobilnya hampir meluncur ke trotoar saat ia melihat lebih jelas sosok yang terbaring itu.

"Milka..." Arsya mengucapkan nama itu pelan, Ia segera keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri Milka yang tampak semakin lemas, tubuhnya terkulai di samping bangku taman. Dengan hati yang nyaris tak tertahan, Arsya meraih tubuh Milka, mencoba membangunkannya, namun  Milka tak kunjung sadar.

"Milka, Sayang," suara Arsya penuh dengan kepanikan, mengguncang bahunya dengan lembut. "Bangun Milka Sayang, tolong jangan buat aku panik!"

Namun Milka tak kunjung membuka mata. Arsya merasakan ketakutan yang luar biasa merayapi dirinya. Ia meraih ponselnya dengan gemetar, menghubungi Wulan yang sejak tadi terus mencarinya.

"Wulan! Gue nemuin Milka! Dia... dia pingsan!" Arsya berteriak, napasnya tercekat di tenggorokan. "Cepetan kesini kita harus segera membawa dia ke rumah sakit,!"

Dalam kebingungan dan kepanikan yang semakin besar, Wulan yang mendengar teriakan Arsya langsung berlari ke arah teman-temannya yang sudah menunggu di depan mobil "Cepat, kita ke taman! Milka ada di sana, dia pingsan!" teriak Wulan dengan panik.

Sekejap, mereka semua bergegas menuju taman. Sintia, Natasya, Glova, dan Diva yang ikut dalam pencarian, langsung bergegas masuk kedalam mobil di belakang Wulan dan Grecia disamping nya. Saat mereka tiba di tempat yang sama, mereka melihat Arsya yang memegangi Milka, tubuh Milka terkulai lemah di pelukan Arsya, semua teman-temannya langsung merasa cemas.

Perfect CoupleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang