masa lalu Garvin

13.8K 135 1
                                        

Kini malam telah tiba, Rea dan Rafka sedang berada di kamarnya. Namun Garvin tak kunjung pulang, mungkin dia lembur

"Rea, tolong buatkan aku teh hangat"

"Oh, sebentar"

Rea pergi ke dapur kemudian membuatkan secangkir teh hangat untuk sang suami setelah selesai membuat teh Rea langsung kembali ke kamarnya

"Ini..."

"Terimakasih"

Rafka mengambilnya kemudian menyeruput sedikit teh itu.

"Rafka"

"Ya?"

"Dimana orang tua Garvin? Selain orang tuamu, aku juga belum pernah melihat orang tua Garvin"

"Garvin itu yatim piatu, dulu ibuku sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri, tapi setelah ibuku melihat kelakuan kita, ya... Yang tadi aku ceritakan. Aku dan Garvin di buang. Dan kami bekerja keras sendiri sampai akhirnya memiliki perusahaan masing-masing." Jelas Rafka seraya menatap Rea

"Oh, sejak usia berapa Garvin kehilangan kedua orang tuanya?"

"Sepuluh tahun, saat itu Hera berusia 7 tahun"

"Lantas ibumu juga menganggap Hera sebagai anaknya?"

"Tidak, Hera di rawat oleh paman dan bibinya"

"Hah?, kenapa Garvin tidak ikut dengan paman dan bibinya seperti Hera?"

"Paman dan bibinya membenci Garvin, Karna sat Garvin berusia tiga tahun, dia tidak sengaja membuat anak perempuan paman dan bibinya meninggal"

Rea menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat mendengar cerita dari Rafka. Sungguh masa lalu Garvin sangat kelam, tak salah jika Garvin menjadi pria nakal seperti ini.

"Sebenarnya Garvin juga terluka saat itu, Garvin jatuh dari atas kursi dan menimpa gina hingga anak kecil itu tak bernafas lagi"

"Bagaimana bisa Garvin terjatuh dari kursi? Dimana orang tuanya?"

"Orang tuanya sedang sibuk dengan bibi dan pamannya, mereka baru masuk ke ruangan itu setelah Garvin jatuh dan anak kecil itu meninggal dunia"

Rea mendengarkan dengan baik Seraya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Maka dari itu, seburuk apapun Garvin. Aku tak akan membencinya apalagi sampai menjadikannya sebagai musuhku, Garvin tak punya siapapun lagi selain aku, bahkan Hera. Adiknya sendiri pun membencinya"

"Ya Rafka, sekarang aku mengerti."

"Jika Garvin menginginkan kita untuk kembali melakukan threesome... Apa kau bersedia?" Tanya Rafka yang membuat mata Rea membulat.

"Ah-tidak, maksudku..."

Rafka menggantung ucapannya kemudian menatap lantai

"Aku akan usahakan, jika kau mengizinkan aku di Sentuh oleh sahabatmu itu. Aku akan melakukannya"

Ya walaupun sebenarnya Rea sudah sempat melakukan hal itu di malam pertama-ah maksudnya Rea sudah melakukan hal itu di malam setelah dia dan Rafka selesai ijab kabul.

Rafka tersenyum kemudian mengusuk rambut Rea lembut yang membuat Rea membalas senyumannya. Detik selanjutnya bibir Rafka sudah memagut bibir Rea yang di balas pagutan lembut dari bibir Rea.

Saat mereka sedang asik berpagutan tiba-tiba Rea menjauh dan kembali merasa mual

Huekk...

"Rea, ada apa lagi? Kamu kenapa sayang? Kamu mual lagi?"

"Aku tidak tahu, akhir-akhir ini aku sering merasa mual saat berdekatan denganmu"

"Apa? Kenapa aku?"

Rea hanya menggelengkan kepalanya seraya mengangkat kedua bahunya.

"Kamu cek pakai testpack aja ya... Aku akan belikan"

"Tapi kata dokter aku tidak hamil Rafka"

"Apa salahnya jika kita mencobanya?"

Rea menghela nafas panjang kemudian menganggukkan kepalanya

"Baiklah..."

"Tunggu disini, aku akan segera kembali"

Rea hanya menganggukkan kepalanya, Rafka langsung pergi meninggalkan Rea di kamar sendirian, ia pergi membeli testpack untuk Rea. Harapan nya untuk Rea segera mengandung seorang anak sangatlah besar.

Tak lama setelah Rafka pergi dari rumah ke minimarket, Garvin sampai di rumah dan langsung menuju kamarnya. Membersihkan diri kemudian mencari Rafka.

Garvin langsung membuka pintu kamar Rafka dan melihat Rea yang sedang membersihkan kasur dan membuatnya sedikit menungging.

Garvin masuk ke dalam kamar kemudian mendekati Rea dengan sangat pelan dan berhati-hati.

Plaakk

"Aahhh!!!" Teriak Rea kencang

Garvin berhasil menampar bokong seksi milik Rea itu. Rea yang terkejut karena bokongnya Tiba-tiba di tampar langsung menoleh dan melihat Garvin di depannya.

"Apa apaan kau! Kenapa kau masuk tanpa seizinku?!!"

"Ya... Rea. Kau tau, ini kamar sahabatku, Rafka. Aku sering masuk kesini dan jika aku masuk ke sini aku tidak memerlukan izin dari siapapun"

"Ya, aku tau kau adalah sahabat Rafka, tapi Rafka adalah suamiku"

"Terserah kau saja Rea, aku hanya ingin menagih janjimu kemarin malam"

"Apa kau gila?!, bagaimana jika Rafka-"

"Sayang, aku pulang"

Rea menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah pintu kemudian kembali memandang Garvin. Detik selanjutnya Rafka sudah masuk ke dalam kamarnya.

"Oh, aku tidak menyangka ada kau juga disini"

Rea sedikit kesusahan untuk menelan Salivanya.

"A- e-Rafka, k-kau"

"Kenapa kau gugup seperti itu, jika kau mau memberikan jatah kepada Garvin. Lakukan saja, aku tidak apa apa. Ini testpack nya" ucap Rafka seraya memberikan sebuah plastik minimarket kepada Rea

"Tunggu? Testpack?"

"Ya, Rea mengalami mual sejak tadi pagi"

"Rea..."

Garvin meletakkan tangannya di kepala Rea seraya menatap Rea, sedangkan Rea hanya menatapnya.

"Apakah kau hamil?" Lanjut Garvin

"A-aku tidak tau"

"Garvin, biarkan Rea menggunakan testpack dulu"

"Oh, baiklah"

Garvin melepaskan tangannya dari kepala Rea, Rea langsung berjalan ke kamar mandi untuk memakai dan melihat hasilnya.

THREESOME Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang