Dara sedang mematut diri di depan meja rias. Siang hari ini Raga akan mengajak Dara bertemu dengan orang tuanya. Perasaan bimbang kembali menyusupi benak. Menjadi kerikil tajam yang membangkitkan rasa was-was dan khawatir. Dara merasa salah dengan keputusan ini. Tapi tidak cukup berani untuk berhenti. Ayahnya yang terus mendesak, dan kebaikan Raga yang menjadi pertimbangannya untuk berlanjut.
Awalnya Dara menjadikan hubungannya dengan Raga sebagai tumbal untuk statusnya bersama Gabriel. Sebagai bentuk negosiasi agar ayahnya berkenan memberi Gabriel kesempatan untuk didekati. Namun, seiring berjalannya waktu, semua terasa tidak sebanding. Perasaan Raga yang pada akhirnya akan terluka, dan hubungan baik di masa lalu yang sudah pasti rusak setelahnya.
Dara menghela napas. Riasan natural tampak cocok di wajahnya yang oriental. Blus warna gading dipadu dengan rok plisket putih melekat pas di tubuhnya. Dara menambahkan aksesoris gelang emas di tangan kanannya, dan cincin solitaire di jari manis. Rambutnya sebahu dibiarkan tergerai. Terakhir, Eleanor Medium hadiah ulang tahun dari Gabriel menjadi pelengkap pundaknya.
"Siap?" Raga tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya. "Kamu cantik!" Pujinya.
Dara menarik sudut bibirnya ke atas. "Terima kasih atas pujiannya. Tapi aku nggak punya receh, btw!"
Senyum keduanya berubah menjadi gelak kencang. Seperti biasa, Raga akan membukakan pintu mobil untuk Dara dan memastikannya duduk dengan benar, setelah itu dia akan berjalan memutari kendaraannya bagian depan dan merangsek di kursi kemudi.
Jika biasanya Dara tidak terlalu memperhatikan penampilan Raga, namun kali ini Dara merasa fokus matanya tidak berhenti menoleh ke samping, hanya untuk menatap sosok tersebut. Wangi parfum Raga juga tak kalah menguji iman. Menggelengkan kepalanya, pengaturan otak Dara pasti sudah konslet, membuat segalanya menjadi tak sejalan.
"Kamu kenapa?" Tanya Raga saat menyadari ada sesuatu yang tak biasa dari perempuan di sebelahnya. "Kok geleng-geleng gitu."
"Nggak ada apa-apa kok! Tadi barusan teringat sesuatu, terus aku coba tepis." Semoga alasannya kali ini terdengar masuk akal.
"Apa tuh?" Tanya Raga lebih lanjut. "Bukan karena mau ketemu sama Mama-Papaku kan?"
"Ya nggaklah! Itu, tadi kan aku sebelum mandi sibuk masak di dapur. Kebiasaan aku suka pikun lupa matiin kompor. Tapi setelah aku ingat-ingat, aman kok. Kalau nggak, pasti sudah heboh dari pas aku lagi di make-upan tadi." Dara menoleh sembari tersenyum manis.
"Astaga, ngeri banget!" Beo Raga. "Memangnya sering gitu, kelupaan matiin kompor? Bahaya itu, Dara."
Dara meringis, semua hanya alasan.
"Kalau gampang lupa, sebaiknya ditungguin sampai kelar. Jangan ditinggal." Raga memperingatkan. "Kamu ini lucu banget. Nyeritain pengalaman yang bikin bulu kuduk berdiri tapi ekspresimu santai kayak nggak terjadi apa-apa."
Sori, Ga. Semua memang tidak benar-benar terjadi. Semua hanya karangan fiksi. "Nanti ada Mbak Aina juga kan?" Lebih baik Dara mengganti topik.
"Aina lagi ada acara di Jakarta. Fashion show. Tadinya mau mundurin ngajaknya kamu ke rumah, tapi Mama bilang nggak ada Aina juga nggak masalah. Kamu bisa ketemu dia lain kali." Tutur Raga yang membuat Dara manggut-manggut.
"Iya, bisa ketemu lain kali." Ulangnya. "Sama siapa ke Jakarta? Suaminya?"
Raga menatapnya sejenak lebih lama, sebelum berkata, "Aina sudah cerai sama suaminya. Dari saat dia mengandung Rania. Suaminya selingkuh."
Informasi barusan jujur saja membuat Dara kaget, tidak bisa berkata-kata.
"Makanya selama ini tiap ada waktu lowong, aku lebih banyak habisin sama keponakanku. Aku nggak tega lihat keponakanku tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya." Lanjut Raga dengan paras sendu.
"Mbak Aina gimana?" Seorang istri yang mengalami ujian seperti yang terjadi pada Aina pasti tidak mudah. Tidak jarang Dara mendapati berita istri bunuh diri karena suaminya tega berkhianat dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil. "Pasti nggak mudah berada di posisi Mbak Aina yang mengurus anak tanpa suami."
"Aina strong sih." Ujar Raga. "Nggak banyak perempuan seperti dia. Aku dan keluarga cukup salut sama dia." Raga tergelak di ujung kalimatnya. "Justru sekarang mantan suaminya yang kelimpungan karena nggak dibolehin ketemu anaknya. Aina punya power untuk melakukan itu pada mantan suaminya. Dia tidak tanggung-tanggung membeberkan bukti-bukti penyelewengannya, hingga kasus KDRT."
"Wah, keren! Mbak Aina bisa kuat ngumpulin bukti-bukti itu. Hatinya mungkin saja hancur, tapi hasil yang dipetik nggak akan sia-sia. Aku juga salut."
Kendaraan Raga berhenti di depan pelataran rumah yang luas. Sejenak Dara menatap bangunan megah bertingkat di depan sana, sebelum turun dari mobil saat Raga sudah membukakan pintunya. Dara mengambil oleh-oleh berupa kue basah yang ia buat dengan tangannya sendiri di bagasi belakang. Lalu keduanya beriringan masuk ke dalam rumah.
"Cantiknya, Ya Allah. Lama banget loh nggak ketemu." Ibunya Raga masih persis seperti yang Dara ingat. Cantik, baik, dan ramai. Dara langsung disambut dengan hangat. Dipeluk, dan digiring menuju ruang keluarga yang luas, dengan meja yang sudah dihidangi dengan banyak camilan. "Dara, sudah berapa lama ya nggak ketemu? Puluhan tahun? Tante pangling loh. Dara makin cantik."
Dara merebahkan pantatnya di sofa, tepat di samping ibunya Raga. Ayah Raga muncul sesaat kemudian dan langsung bergabung di sofa lain. Ayah Raga juga tidak kalah seru.
"Dar, Om seneng banget pas tahu kamu sekarang sudah jadi spesialis jantung. Nanti Om lebih gampang berobat."
"Papa ini gimana sih? Jangan aji mumpung gitu dong!" Tegur ibunya sambil menyentuh tangan Dara.
"Ya nggak apa-apa dong! Sama calon mantu sendiri. Ya nggak, Dar?!"
Dara hanya bisa tersenyum malu-malu. Raga yang duduk tak jauh darinya belum mengucapkan sepatah katapun.
"Bapak sehat ya, Dar?" Tanya ibu Raga.
"Sehat, Tante. Alhamdulillah. Mungkin ada keluhan kecil-kecil efek usia." Tutur Dara.
"Bapakmu itu usianya di bawah Om, Dar. Karena rumah orang tua kita bertetangga, meskipun nggak satu sekolahan, Om cukup dekat sama Bapakmu."
"Ohya? Tapi Om sama Tante kelihatan awet muda banget loh."
Ibu Raga tiba-tiba menatapnya sendu. "Tante turut berduka cita atas kepergian ibumu, Nak. Semoga kamu diberikan kesabaran dan ibumu mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah."
Dara menanggapi doa tersebut dengan senyum tulus. "Terima kasih, Tante. Memang sudah jalannya, pasti yang terbaik. Ibu sudah nggak lagi ngerasain sakit. Aku nggak tega tiap lihat ibu habis kemo dan kehilangan banyak rambut. Itu masa-masa tersulit sih, Tan."
Hening. Suasana menjadi sendu.
"Mama ini, malah bikin sedih!" Celetuk Ayah Raga mencoba mencairkan suasana. "Kita makan-makan saja yuk, Dar. Mamanya Raga sudah masakin banyak makanan loh. Kamu harus icip-icip. Coba kasih nilai berapa untuk masakannya menyambut menantu."
Yang sejenak lalu hening, menjadi tawa bahagia di detik berikutnya. Tanpa sadar, Dara merasakan kenyamanan berada di tengah-tengah keluarga ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terikat Janji (TAMAT)
RomanceSebuah kisah yang menceritakan tentang pengorbanan seorang lelaki untuk gadis yang dicintainya, tapi tidak mendapatkan balasan yang sepadan.
