Pada senin pagi ini semua orang sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Ada yang tampak tenang menjalani hari, ada juga yang tampak grasak-grusuk karena merasa dikejar oleh waktu.
Gabriel sudah siap dengan motor kesayangannya yang ia beri nama 'Jeki'. Jeki sedang dipanaskan dan ia sedang berpamitan dengan Jojo.
“Jo, aku berangkat yaa. Kamu jaga rumah, sofa jangan dicakar-cakarin. TV nya juga, jangan dijatohin kaya yang udah-udah.” Ia mengelus kepala Jojo.
Jojo hanya mengeong-ngeong saja sambil mengeluskan kepalanya pada tangan gabriel.
Menganggap Jojo mengerti dengan kata-katanya, Gabriel mengangguk mantap dan berjalan keluar untuk pergi ke sekolah.
Sedangkan disisi lain..
“CALLISTA! RAISHA! AYO TURUN SARAPAN!”
“IYA MAH!!”
Suara teriakan terdengar menggelegar memenuhi isi rumah. Membuat dua saudari itu berjalan tergesa-gesa karena jam sudah menunjukkan pukul 6.45.
Mereka ke meja makan dengan gerakan cepat.
Callista sudah duduk manis dan memakan sarapannya. Sedangkan Raisha, ia masih sibuk menalikan dasinya sendiri. Membuat Mamah ikut membantu dengan menyuapinya.
“Aywo bwuuan abwisin (ayo buruan abisin)” Si bungsu berkata dengan mulut penuh.
“Dek, telen dulu itu. Kesedak nanti..” Papah menasihati sambil menyodorkan segelas air.
“Kita udah siap, Pah. Ayo berangkat.” Callista menenteng tas miliknya dan Raisha lalu berjalan menuju mobil.
•
Saat sampai di Koridor, Callista dan Raisha bertemu Gabriel dan Amanda yang berjalan tak jauh dari mereka. Mereka tampak sedang bernyanyi riang bahagia sambil saling merangkul.
“Huh! Heyyo wasap, fesbuk, instagram! Netes banyune kendi, Mariyadi tak fotokopi~”
“Ihik-ihik~”
Callista menatap Raisha seolah bertanya. 'Mereka kenapa?'
Paham dengan tatapan itu, Raisha mengedikan bahunya acuh. “Udah biasa begitu.”
Callista mengangguk pelan sambil terus menatap mereka yang masih asik bernyanyi tanpa peduli pandangan orang sekitarnya.
“Selamat pagi, Kak Gabriel!” Beberapa junior mereka menyapa Gabriel dengan semangat.
“Hai Sayang, selamat pagi.” Gabriel menyahut dengan senyum manisnya.
Callista melotot melihat kejadian itu. Sungguh! Ia tak suka! Apa-apaan si Alay itu?!!
Ia berjalan cepat menghampiri Gabriel dan–
DUKK!
“?????!!!!!”
“Mamam noh sayang!” Callista memukul kepala Gabriel cukup keras sampai si empu kepala terkejut dan mengaduh kesakitan.
“Aduh, Cal. Sakit anjir.” Gabriel mengeluh sambil mengelus kepalanya, semoga saja ia tidak gagar otak.
Callista mendahului Gabriel menuju kelasnya tanpa peduli tatapan pertanyaan dari Gabriel dan Amanda.
“Apaan dah tu bocah, aneh banget–Aduh Geb, ini berapa?” Amanda mengelus kepala Gabriel pelan dan menunjukkan kedua jarinya didepan wajah Gabriel.
“Lo kira gue buta.” Gabriel menepis tangan Amanda dan berjalan cepat menuju kelas.
“Cemburu itu kakak gue.” Raisha secara tiba-tiba berucap disamping Amanda.

KAMU SEDANG MEMBACA
You're Precious
Romance"Aku selalu rindu kamu, dan sepertinya tidak akan pernah berhenti." -Callista A ________________________ "Tuhan sudah menggariskan takdir kita, Cal." -Gabriela A