19. Perayaan Mati Rasa.

462 60 18
                                    

Pagi-pagi buta, Gabriel bersiap dengan motornya hendak kembali ke rumahnya sendiri. Tak ada yang tahu gadis itu pergi meninggalkan rumah Callista selain Mamah. Karena hanya beliaulah yang telah terjaga untuk menyiapkan sarapan. Mamah sempat mencegah Gabriel untuk pulang serta mengajaknya ikut sarapan bersama. Tapi gadis itu menolaknya dengan alasan dia mencemaskan Jojo.

Akhirnya, sampailah Gabriel di rumahnya sendiri. Rumah yang terasa dingin karena suasana sepinya. Gabriel menghembuskan nafas kasar saat masuk ke dalam rumah, bayangan Derby seakan melekat pada sofa itu. Kata-katanya turut hadir dalam benak seolah mengulang adegan yang terjadi kemarin lusa. Memilih tak ambil pusing, gadis itu lantas berjalan menuju kamar.

Sesampainya di dalam ruangan gelap itu, ia menyalakan lampu remang di pojok kamar lalu duduk di atas kasurnya hanya untuk diam melamun beberapa saat.

Lagi-lagi gadis itu kembali memikirkan masalah yang kian menimpa dirinya. Apakah ia harus jujur pada kakaknya? Ataukah ia harus merelakan kekasihnya untuk kakaknya?

Dia sangat bingung, kedua pilihan itu sama-sama menyakiti hatinya.

Gabriel mendongak dan kembali membuang nafas kasar, berharap rasa yang mengganjal pada dirinya ikut terbuang. Gadis itu memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya beranjak dan membersihkan dirinya.

Setengah jam kemudian, Gabriel siap dengan kaos hitam dan celana olahraga sekolahnya. Benar, ia harus bertanding lagi hari ini. Selepas kemarin seharian penuh berbaring di atas ranjang, kini ia harus kembali berlomba dan membawa kelasnya untuk menjadi pemenang.

Memang dalam perlombaan itu kelasnya mengantarkan banyak atlit untuk berlaga, tapi rasanya sangat tidak enak saat ia harus duduk manis serta hanya menonton mereka bermain. Setidaknya ia ingin tetap berpatisipasi.

Gabriel berjalan menuju dapurnya untuk mengambil sebotol air dingin dan memasukkan beberapa buah-buahan ke dalam keranjang. Seusai semuanya telah dia rasa pas, gadis itu berjalan keluar menuju rumah seorang wanita berumur yang berada tepat di samping rumahnya.

Dia mengetuk beberapa kali pintu rumah itu serta menarik seutas senyum terbaiknya saat pemilik rumah membukakan pintu.

"Buk Sisca, terimakasih sudah menjaga kucing saya kemarin. Saya jadi nggak enak sama ibuk." katanya sambil mengulurkan keranjang buah itu.

Wanita bernama Sisca itu tersenyum ramah sambil menerima keranjang itu. "Kenapa nggak enak? Nggak pa-pa, toh ibuk malah seneng kalo kucingmu ada di rumah ibuk. Jadi ibuk nggak kesepian di rumah. Kamu mau sekolah kan? Biar dia sama ibuk dulu, gapapa.”

Gabriel mengangguk singkat sambil mencium punggung tangan wanita itu. "Makasih buk, kalo gitu saya berangkat dulu."

"Iya, hati-hati."

Selesai berpamitan dengan si Ibuk, Gabriel lantas mengambil langkah lebar kembali ke rumahnya untuk mengambil Jeki dan pergi ke sekolah.

Gabriel bersyukur memiliki tetangga baik hati seperti Ibu Sisca. Saat pertama kali beliau menjaga Jojo, Gabriel hampir menangis karena berpikir kucing itu hilang entah dicuri atau dia memang sengaja berkeliaran mencari janda prapatan komplek untuk berkembang biak.

Setelah Gabriel putus asa mencari Jojo, suara mengeong khas dari kucing itu menarik Gabriel untuk berjalan beberapa langkah ke rumah tetangganya. Jujur saja ia sempat menelan bulat-bulat pikirannya untuk mampir ke rumah itu. Sebab ia sempat takut pada bu Sisca karena.
*Ekhem (wajahnya terlihat galak).

Tapi benar kata orang-orang, don't judge a book by it's cover.

Bu Sisca orang yang sangat ramah. Terbukti saat Gabriel mengobrol dengan beliau, beliau kerap kali mengumbar senyum manis dengan nada bicaranya yang sangat-sangat lembut nyaris seperti sinden.

You're PreciousTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang