Awan hitam yang membawa hujan turun kini mulai menghilang dari pandangan, berganti dengan langit malam membentang dengan setitik cahaya menghias kegelapan.
Gabriel dan Callista menyudahi acara bermain hujan mereka beberapa saat lalu, dan memilih untuk segera meninggalkan lapangan itu.
“Nih, ganti baju lo pake itu dulu.”
Gabriel memberikan hoodie abu-abu yang selalu ia bawa pada gadis didepannya.
Tangan dingin Callista terulur dan menerima hoodie itu dengan alis nyaris menyatu.
“Trus, lo pake apa?” tanyanya pada Gabriel yang berjongkok dibawah, melepaskan tali sepatu miliknya.
Saat Gabriel mendongak, Callista mendapati gadis itu tersenyum simpul. “Gue gabisa sakit cuma gara-gara hujan. Pake lo aja.” ungkapnya.
Setelah selesai melepas tali sepatu Callista, Gabriel beralih
memasangkan sandal selop miliknya pada kaki gadis itu.“Biar kaki lo ga keriputan. Lagian hujan-hujan kok pake sepatu.”
Callista memutar kornea matanya malas sambil mencela ucapan Gabriel, “minimal ngaca!”
Gabriel terkekeh mendengarnya, lalu mendorong Callista memasuki tempat ganti yang tersedia disana dan menutupnya dari luar.
Kepalanya tertunduk melihat badannya yang basah kuyup sambil menghela nafas pelan, “gabisa dipeluk kalo basah kaya gini mah.”
Salahkan ia yang berbicara tepat didepan pintu, membuat Callista mengurungkan diri untuk mengganti kaos basahnya.
Ceklek!
“Loh? Kok cepet bang– Apa-apaan! Buruan ganti!”
Gabriel melotot ketika melihat Callista masih mengenakan kaos yang masih basah.
“Gak pengen ganti.”
“Nggak ya! Ganti buruan! Nanti sakit!”
Gabriel menahan pintu dari luar agar Callista tidak bisa membukanya dari dalam.
Setelah menunggu tak terlalu lama, akhirnya Callista keluar dengan memakai hoodie Gabriel dan kaos basah ditangannya.
Gadis itu mengernyitkan dahinya melihat Gabriel tak lagi berdiri didepan pintu, melainkan sudah duduk rapi diatas motor.
“Ayo, Cal! Keburu ujan lagi!” Gabriel berteriak cukup keras sambil mengayunkan tangan, ketika mendapati Callista selesai berganti.
Mendengar itu, Callista segera berlari kecil dan menaiki motor Gabriel yang menyala.
Letak rumah Gabriel tak jauh dari lapangan itu hanya berjarak cukup 3-5 menit untuk sampai karena masih satu komplek.
Sebenarnya Gabriel sengaja memilih lapangan yang dekat rumahnya, dengan dalih dapat mengajak Callista untuk menginap. Dan ya, rencana nya berjalan dengan mulus.
Tenang saja, Gabriel bukan orang jahat kok.
Setelah menempuh perjalanan singkat itu, akhirnya mereka sampai di rumah milik Gabriel.
Rumah Gabriel tak kecil, namun tak besar pula, sederhana. Lebih dari cukup untuk ditinggali seorang diri. Didepannya terdapat beberapa tanaman hijau yang berjajar rapi, menambah kesan hidup pada rumah itu. Kalau melihat pada tembok di dekat garasi, disana terdapat ring basket juga.
Ketika Gabriel membuka garasinya, Callista cukup terkejut dengan isinya. Ia baru mengetahui jika Gabriel mempunyai satu unit mobil dan motor sport didalamnya. Karena setahunya, gadis itu tidak bisa mengendarai mobil. Dan selalu menggunakan Jeki–motor vario matic kemana-mana.

KAMU SEDANG MEMBACA
You're Precious
Romance"Aku selalu rindu kamu, dan sepertinya tidak akan pernah berhenti." -Callista A ________________________ "Tuhan sudah menggariskan takdir kita, Cal." -Gabriela A