Gadis itu hanya diam dimeja belajarnya dengan tatapan kosong. Kemudian matanya melirik sebuah buku bersampul coklat dengan judul 'Gabriel' di cover buku itu.
Menarik nafas panjang sebelum akhirnya membuka lembaran-lembaran buku itu secara perlahan. Ia kembali merasakan sakit di dada kirinya, seolah ada yang mencengkram jantung miliknya.
Ia menutup buku itu dan kemudian mendongak sambil memejamkan kedua matanya. Airmata tanpa disuruh keluar membasahi pipinya, lagi.
“La, aku kangen...”
__________•°•__________
Suasana pagi hari itu menyapa hangat seluruh kota dengan sinarnya, tak terkecuali Callista yang masih asik bermain dengan bunga tidurnya.
“Kak bangun, sekolah.” Suara ketukan dari luar kamar mengganggu indra pendengarannya hingga ia membuka kelopak matanya perlahan.
“Iya, Rai.” Callista menyahut dengan nyawa yang masih setengah terkumpul. Gadis itu menoleh ke arah jam yang menunjukkan pukul 5 pagi.
Gadis itu segera beranjak dari kasur dan merapikannya. Setelah dirasa selesai, ia pun mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.
Selesai membersihkan dirinya, ia segera memakai seragam dan memoles wajahnya dengan riasan tipis. Setelah itu beranjak dan turun menemui seluruh anggota keluarganya yang tengah menikmati sarapan mereka.
“Pagi Mah, Pah.” Sapanya sembari mengecup pipi kedua orang tuanya.
“Dih, gua engga gitu?” Adiknya menatap sinis pergerakan kakak perempuan yang duduk disampingnya.
“Engga apaan? Mau gua cium juga lo?” Gadis itu turut menatap sinis ke arah adiknya. Sebelum mengalihkan pandangannya ke makanan yang tersedia di meja.
“Ga, najis.” Adiknya kembali menyantap sarapannya dengan perasaan dongkol.
“Udah, kalian ini kalo sehari ga berantem hampa banget ya hidupnya?” Ujar Sang ibu mencoba melerai pertikaian kedua putrinya.
“Kakak nanti mau bareng papah, atau sama Indira lagi?” Kini giliran Sang Ayah bertanya sambil menyesap kopi hitam di cangkir.
“Sama papah aja deh.”
“Yaudah, cepet habisin. Kita berangkat.”
“Iya.”
•
Di koridor sekolah, tampak seorang gadis tengah berjalan santai sembari bersenandung ria dengan perasaan bahagia.
“Pagi kak Gabriel.”
“Selamat pagi Geb.”
“Hai, Geb.”
“Hai, Selamat pagi semuanya.” Banyak sekali siswa maupun siswi menyapa dirinya disepanjang koridor, dan ia balas dengan sumringah.
Hei dia tidak gila oke? dia hanya ingin menebarkan energi positif kepada mereka semua.
“Pagi, Bub.” Seseorang menyapanya dengan tak kalah sumringah.
“Annyeonghaseo.” Gadis itu sedikit menunduk kemudian merangkul orang itu, dia adalah Amanda, sahabat sekaligus teman sebangkunya di kelas.
Mereka berjalan menyusuri koridor menuju kelas mereka dengan wajah berseri.
“Geb, lo udah ngerjain tugas Bu Mun lom? Liatin punya lo dong, gua belom.” Ujar Amanda saat sampai di meja mereka.
“Udah dong, gue mah anak rajin disayang Bu Mun.” Gadis bernama Gabriel itu membanggakan dirinya dengan nada sombong.

KAMU SEDANG MEMBACA
You're Precious
Romance"Aku selalu rindu kamu, dan sepertinya tidak akan pernah berhenti." -Callista A ________________________ "Tuhan sudah menggariskan takdir kita, Cal." -Gabriela A