Zeyu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru jalan namun tetap tidak menemukan lieza disana. la terus berjalan menelusuri jalanan malam yang sepi, dan akhirnya menemukan lieza disana tengah duduk ditepi jalan. Zeyu berjalan perlahan menghampiri lieza, saat ini dihatinya merasa bersalah karena sudah berbicara seperti tadi kepada lieza.
"Za" panggil zeyu saat dia sudah berada disamping lieza. Lieza menoleh kemudian tersenyum kecil. Zeyu duduk disamping lieza.
"Kenapa zey?" tanya lieza melihat ekspresi zeyu yang tidak biasa.
"Gue minta maaf"
"Untuk?"
"Untuk.. Yang tadi gue omongin." ucap zeyu ragu. Lieza tertawa renyah. "Kok lo ketawa?" tanya zeyu yang merasa aneh dengan tanggapan lieza.
"Aneh aja liat lo minta maaf." ucap lieza masih dengan tawanya. Zeyu mendengus kesal. "Santai aja kali, gue gakpapa kok." ucap lieza meyakinkan.
"Bohong."
"Gue serius. Ya, cuman yang bikin gue sakit hati adalah kenyataan yang memang harus gue terima." ucap lieza.
"Maksud lo?"
"Semua yang lo omongin itu bener zey, semua gak ada yang salah," ucap lieza. "Dan lo gak usah minta maaf, karena yang lo omongin itu fakta bukan opini." sambung lieza. Zeyu diam.
Lieza bangkit dari duduknya kemudian berjalan menelusuri jalanan malam yang sepi.
"Mau kemana?" tanya zeyu saat melihat lieza pergi begitu saja. Lieza menoleh lalu tersenyum.
"Nikmatin jalanan malam aja." ucap lieza dengan senyumnya. Zeyu akhirnya mengikuti kemana lieza pergi.
•••
"Kita mau kemana sih?" tanya lieza saat tadi zeyu menyuruhnya untuk mengikuti kemana dia pergi. Zeyu tidak menjawab, dia masih Fokus dengan langkahnya menelusuri jalanan kota yang sedikit sepi. Lieza menghentikan langkahnya. Zeyu menoleh kebelakang, menatap lieza yang disana.
"Kenapa?" tanya zeyu. Lieza diam. Zeyu menghampiri lieza yang jaraknya agak jauh darinya. "Kenapa za?" tanya zeyu kembali.
"Gue... G-ue inget sesuatu." ucap lieza terbata-bata. Zeyu membulatkan matanya.
"Lo inget apa?" tanya zeyu penasaran.
Ingatan lieza
Lieza melirik jam yang berada di ponselnya. Sudah menunjukkan pukul 20:56. Lieza mempercepat langkahnya kemudian langkahnya terhenti saat menemukan seorang lelaki yang yang tergeletak di jalanan. Lieza menghampiri lelaki itu walaupun dia sedang terburu-buru sekarang.
"Hei! Lo gapapa?" tanya lieza pada lelaki itu namun llelaki itu masih pingsan. Lieza menepuk-nepuk pipi lelaki itu, namun lelaki itu tak kunjung bangun.
"Hei! Bangun!" ucap lieza membangunkan lagi. Lieza kembali melirik jam yang ada di ponselnya 21:05. Lieza berdecak pelan, dia sudah telat.
Lieza membuka jaketnya kemudian memakainya untuk menutupi badan dari lelaki itu.
"Sorry ya, gue udah telat." ucap lieza lalu kemudian
meninggalkan lelaki itu pergi.
___
"Itu yang gue inget barusan. Tepat disini gue nolongin cowok itu," ucap lieza setelah bercerita panjang kepada zeyu. "Dan lo tau, cowok yang gue tolong itu? Itu-"
"Itu gue." potong zeyu "Iyakan?"
Lieza mengangguk. "Gimana lo bisa tau?"
"Setelah gue denger cerita lo tadi, gue jadi inget saat gue pingsan dulu disini. Waktu itu gue pingsan gara-gara gue ketabrak mobil. Terus gue pingsan, dan pas gue bangun udah ada jaket yang nutupin badan gue." ucap zeyu panjang lebar. "Dan ternyata orang yang nutupin gue pake jaket itu lo." sambungnya dengan tawa renyahnya.
"Kenapa gue baru inget sekarang ya?" tanya lieza.
"Mungkin karena kita ketempat dimana dulu lo kesini." jawab zeyu. Lieza mengangguk setuju. "Ahhh! Berarti yang kita perlu cuman pergi ketempat dimana lo dulu pergi." usul zeyu.
"Lo bener juga ya. Tapi gue gak tau, kemana aja gue pergi dulu." ucap lieza terdengar pasrah.
"Hmm.. Iya sih. Tapi tenang aja lama lama lo juga inget kok." ucap zeyu meyakinkan. Lieza mengangguk pelan.
"Eh, eh zey. Tapi di ingatan gue itu, gue mau kemana ya kok buru-buru banget gitu." ucap lieza. Zeyu memikirkan apa yang lieza ucapkan barusan.
"Gak tau"
•••
"Zey Tungguin gue napa!!" teriak lieza dilorong sekolah yang sepi karena hari ini zeyu berangkat lebih pagi dari biasanya. Lieza sedikit berlari untuk menyelaraskan langkahnya dengan zeyu. "Tungguin gue ihh!" kesalnya saat sampai disamping zeyu, zeyu hanya mendelik tidak peduli. "Ehh gue malah di delikin."
"Apaan sih lo, ngikut-ngikut mulu." ucap zeyu dingin. Lieza hanya nyengir lebar. Lieza mencolek bahu zeyu menggoda, zeyu menghiraukan godaan dari lieza. Terlihat didepan sana xinlong yang tengah berjalan berlawanan arah dengan zeyu. "Diem. Nanti orang liat gue kayak orang gila lagi, ngomong sendiri." ucap zeyu sedikit berbisik.
"Marah mulu lo!" cibir lieza kemudian kembali mencolek bahu zeyu
"Diem! Lieza!" bentak zeyu
Xinlong menghentikan langkahnya saat tepat berpapasan dengan zeyu dan lieza. "Apa lo bilang?" tanya xinlong
Zeyu ikut menghentikan langkahnya. Kemudian menoleh kebelakang, menatap wajah xinlong. "Kenapa?" tanya zeyu
"Tadi lo bilang siapa? Lieza?" tanya xinlong kembali. Xinlong melangkahkan kakinya mendekat kepada zeyu
"Dimana lo tau nama itu?" tanya xinlong
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beautiful Ghost
Casuale"Gue mohon, jangan pergi dulu." ucap zeyu sambil menghapus air matanya. Ini pertama kalinya dia menangis karena seorang wanita, kecuali ibunya. Gadis itu benar-benar akan menghilang. Zeyu merasakan hatinya sakit kali ini. Kenapa hatinya sadar saat w...
