Mendung

65 3 0
                                        

Pagi ini langit mendung, siap untuk menumpahkan air yang ingin cepat-cepat ia keluarkan hingga langit kembali berwarna biru. Zeyu memasukan buku-bukunya yang ada di atas meja belajar, setelah selesai ia turun menuju lantai bawah.

Zeyu meraih kunci mobilnya yang berada di atas nakas, kemudian melangkah keluar rumah. Saat sampai diluar, zeyu melihat lieza yang berdiri di samping mobilnya.

"Udah siap, zey?" tanya lieza saat zeyu sudah berada dihadapannya.

"Udah." jawabnya, kemudian masuk ke dalam mobilnya. Lieza mendongak kelangit, ia yakin pasti hujan akan turun tak lama lagi. Saat lieza kembali menatap kearah depan, zeyu sudah tidak ada.

"Zey, lo bawa payung?" tanya lieza. Zeyu menggeleng menyalakan mesin mobilnya. "Langitnya mendung loh, dari parkiran ke lorong sekolah kan lumayan jauh. Pasti lo kebasahan." sambungnya.

"Hujan paling siang." ujar zeyu sudah siap untuk melajukan mobilnya. "Mau ikut ke sekolah gak?"

"Tunggu sebentar," Lieza berbalik lalu menghilang begitu saja. Zeyu menghembuskan nafasnya pelan, diliriknya jam yang melingkar ditangan kirinya, sudah menunjukan pukul setengah tujuh.

Zeyu mengambil tasnya yang ia taruh di jok belakang, lalu mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas. sibuk menggeser-geser jarinya di layar ponsel, sampai-sampai tidak menyadari bahwa lieza sudah duduk disampingnya.

"Serius amat." ucap lieza yang berhasil membuat zeyu kaget, zeyu menatap lieza kesal, lieza terkekeh pelan. "Abisnya lo serius banget, sampe-sampe gak sadar gue disini. Biasanya kan lo nyium bau gue aja lo udah peka." ujar lieza.

Zeyu hanya mendengus kesal, lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya.

•••

Sepanjang perjalanan zeyu hanya diam. Begitu juga dengan lieza,yang sibuk memerhatikan jalanan kota yang cukup ramai pagi ini. Tak lama, setetes demi setetes hujan turun. Lieza menoleh pada zeyu "Tuh kan zey, hujan," lieza menunjuk keluar jendela "Untung gue ambil payung sama jaket tadi." sambung lieza.

Zeyu melirik sekilas ke arah jok belakang mobilnya, disana ada sebuah payung dan jaket berwarna hitam milik zeyu yang lieza bawa tadi. Zeyu menatap sekilas, karena harus kembali fokus menyetir.

"Xiexie" ucap zeyu. Lieza mengangguk.

"Zey," panggil lieza pelan. Zeyu hanya berdehem "Lo beneran pengen gue cepet pergi?" tanya lieza. Zeyu terdiam sejenak, kemudian menganggukkan kepala.

"Iya."

"Tapi lo harus bantuin gue."

"Apa?" tanya zeyu

"Ingatan gue itu, gue harus inget itu semua." jawab lieza. Zeyu kembali diam.

"Gak ada cara lain?" tanya zeyu setelah diam beberapa saat.

Lieza menggeleng pelan."Gue gak tau."

"Kita pikirin cara lain, biar lo bisa cepet-cepet pergi." ucap zeyu. Mata lieza mulai memanas, kepalanya menunduk.

"Nanti kalau gue pergi lo sama siapa?" tanya lieza
m

asih menundukan kepalanya.

"Bokap gue ada."

"Tapi bokap lo jarang pulang" ujar lieza

"Gapapa." Zeyu terus fokus kearah sedangkan lieza terus menunduk.

Lieza mengangkat kepalanya, lalu menatap zeyu. "Awas ya lo, kalau nanti gue gak ada lo kangen!" lieza menunjuk zeyu.

"Gak akan, tenang aja. Baik-baik aja lo di alam lo nanti." ujarnya. Lieza meremas tangannya, air matanya akhirnya jatuh. Zeyu melirik sekilas kearah lieza.

"Nangis lo?"

"Enggak!" elak lieza.

"Sedih lo mau pisah sama gue?" tanya zeyu. Iya bego!  Batin lieza

Lieza menggeleng. "Biasa aja."

"Terus itu kenapa nangis?" tanya zeyu sedikit mengejek. Lieza memalingkan wajahnya kearah lain, tidak ingin menatap zeyu. "Jangan-jangan lo suka ya sama gue?"

"Enggak! Banyak nanya banget sih lo,  biasanya lo kebanyakan diem juga." ujar lieza sedikit membentak.

"Siapa tau aja lo suka sama manusia gitu. Tapi jangan ya, pasti sad ending ceritanya."

"Gak bakalan gue jatuh Cinta sama manusia es kayak lo!"

My Beautiful Ghost Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang