"Lieza"
Lieza menghentikan langkahnya, siapa yang memanggilnya?
Lieza membalikkan tubuhnya perlahan, dan ternyata itu, li mei. Terlihat li mei yang tersenyum ramah ke arah lieza, dan senyum itu ikut menular pada lieza. Li mei berjalan mendekat.
"Kenapa, li mei?" tanya lieza saat li mei sudah sampai di hadapannya. Li mei menengok ke sekitar, tidak ada siapa- siapa, karena memang jam istirahat belum berdering. Li mei kembali menatap lieza lalu tersenyum simpul.
"Lo mau ikut ke rumah gue gak?" tanya li mei yang otomatis membuat kerutan di kening lieza.
"Buat apa?"
"Main aja gitu."
"Tapi gue bilang dulu, ya, sama zeyu?" ujar lieza. Seketika senyum li mei luntur, kenapa harus zeyu?
"Ohh, iya. Bilang aja dulu, takutnya dia nyariin lo." li mei kembali memaksakan untuk tesenyum. Lieza mengangguk setuju.
"Yaudah, kalau gitu gue mau ke kelas zeyu dulu." ucap lieza. Setelah melambaikan tangan singkat kepada li mei, lieza langsung menuju kelas zeyu.
Agar lebih cepat sampai, lieza menghilang saja dan sampai tepat di samping zeyu. Zeyu yang sedang memperhatikan guru di depan, sudah biasa jika lieza atau hantu lain tiba-tiba muncul.
"Zey?" panggil lieza sambil mencolek bahu zeyu pelan. Zeyu tidak menggubris panggilan dari lieza, dia masih fokus memperhatikan guru. "Zey!" panggil lieza sekali lagi, namun kini tepat didekat kuping zeyu.
Anjir! Zeyu mengumpat dalam hati, kesal sekali pada lieza. "Apaan!" zeyu menengok kearah lieza dengan tatapan kesal, kesal sekali.
Beberapa orang yang sedang fokus memperhatikan guru di depan, langsung menoleh kearah zeyu. Zeyu yang tau diperhatikan, hanya menatap mereka tajam. Orang itu kembali memperhatikan guru, takut dengan tatapan tajam zeyu.
Zeyu kembali menatap lieza kesal. "Apaan sih lo!" ucap zeyu sinis, namun kali ini sedikit menurunkan suaranya. Lieza nyengir lebar.
Cowok itu beralih menatap buku catatannya sambil memainkan pulpen.
"Zey, gue mau main ke rumah li mei boleh?" tanya lieza to the point dengan tujuannya menemui zeyu. Zeyu berhenti memainkan pulpennya sejenak, lalu memainkannya kembali.
"Terserah" ucap zeyu singkat. Lieza memanyunkan bibirnya sebal.
"Kok gitu respon lo, zey!" kesal lieza. Zeyu mengangkat kedua bahunya.
"Itu kan hidup lo." ucapnya santai, zeyu kembali memfokuskan dirinya pada guru di depan. Lieza ingin sekali menjambak rambut zeyu yang sedikit acak- acakan namun anehnya masih terlihat tampan!
Lieza mendengus kesal, membuang muka kearah lain.
"Kalau mau pergi, pergi aja. Gak usaha ijin sama gue." kata zeyu santai, matanya masih menatap ke depan. Lieza melirik zeyu kesal.
"Awas aja kalau lo kesepian gak ada gue!" sinis lieza, jari telunjuknya menunjuk zeyu. Zeyu membalas dengan kekehan kecil.
•••
Lieza tiada hentinya berdecak kagum melihat isi kamar li mei yang elegan dan begitu rapi. Nuansa warna putih yang mendominasi dinding, beserta barang-barang mahal yang terpajang, membuat siapapun yang melihat berdecak kagum.
"Kamar lo keren banget!" ucap lieza terkagum-kagum. Li mei hanya terkekeh kecil melihat kelakuan lieza yang sedikit agak norak menurutnya.
Lieza duduk di tepi ranjang. "Nyokap lo kemana?"
"Tadi sih katanya mau nganter adik gue ke rumah sakit." li mei menaruh tasnya di atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya.
"Sakit apa?"
"Gak tau. Kemaren ngomongnya gak enak badan."
Lieza mengangguk dan mengikuti lieza membaringkan tubuhnya.
"Za?"
"Hm." Jawab lieza sambil memejamkan matanya. Li mei menghela nafas panjang.
"Lo inget sesuatu gak?" tanya li mei, matanya menatap lurus kedepan.
"Inget apa?" lieza melirik li mei yang tidur di sampingnya.
Li mei diam sejenak, lalu berbicara. "Semua tentang ini." Lieza mengerutkan keningnya bingung. Li mei menengok ke samping, kini keduanya bertatapan. "Apa yang ada dalam fikiran lo sekarang tentang gue?" tanya li mei.
"Lo itu, temen gue." jawab lieza dengan tersenyum tipis. Lieza mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Lo memang temen gue kan?"
"Jawaban lo beda sama yang dulu, berarti memang bener, lo gak inget semuanya." ucap li mei. Lieza semakin dibuat bingung.
"Maksudnya ap-" perkataan lieza terpotong karena tiba-tiba ponsel li mei berdering nyaring. Li mei bangkit mencari ponselnya, dan menemukannya berada di atas nakas. Dengan cepat dia mengangkat panggilan itu, di sisi lain, lieza masih dibuat bingung dengan perkataan li mei tadi. Ingin kembali bertanya, tapi li mei sedang panggilan telepon.
Setelah selesai menerima panggilan telepon, li mei menghampiri lieza yang duduk diujung ranjang dengan raut wajah khawatir.
"Za, gue harus cepet-cepet ke rumah sakit kayaknya,
adik gue di rawat dirumah sakit." ucap li mei. Lieza langsung berdiri tegak.
"Kalau gitu gue boleh ikut gak?" tanya lieza. Li mei sedikit tersentak kaget.
"Ke rumah sakit, za?" tanya li mei memastikan.
"Iyalah! Masa ke pasar." balas lieza. Li mei menimbang- nimbang terlebih ia takut akan ada kejadian tidak di inginkan di rumah sakit. Setelah cukup untuk berfikir, akhirnya li mei mengangguk setuju.
"Yaudah, ayo!" ajak li mei yang dibalas anggukan kepala oleh lieza.
•••
Li mei dan lieza kini ada di dalam bus. Lieza aneh dengan li mei, Kenapa dia tidak mau naik mobil pribadi saja, padahal ada beberapa mobil yang terparkir di garasi rumah li mei tadi.
"Seberapa deket lo sama zeyu, za?" tanya li mei tiba- tiba. Lieza yang sedang asik memperhatikan jalanan di luar, beralih menatap li mei.
"Gak deket-deket amat, kok. Kita barantem tiap hari, dia jutekin gue mulu, marahin gue mulu, ah dia ngeselin banget!" ujar lieza heboh, sambil memikirkan tingkah laku zeyu memang kadang menyebalkan, kadang bersikap manis, kadang juga dingin kepadanya.
"Lo penting banget, ya. Kayaknya di hidup zeyu." ucap li mei. Lieza langsung tertawa terbahak-bahak, lucu dengan perkataan li mei tadi. Li mei menatap lieza bingung. "Emang ada yang lucu?"
"Boro-boro berharga, malahan gue disuruh cepet-cepet pergi ke alam gue!" balas lieza disela-sela tawanya.
"Iya gitu?" tanya li mei bingung. Lieza mengangguk mengiyakan. Li mei masih ragu dengan apa yang dikatakan lieza, ia ingin mengeceknya sendiri seberapa pentingnya lieza dikehidupan zeyu.
Li mei membuka ponselnya lalu mengetik sesuatu diatas layar ponselnya. Kedua ujung bibir li mei terangkat, penasaran apa yang akan terjadi ke depannya.
_________________________
Tinggalkan jejak anda....
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beautiful Ghost
Diversos"Gue mohon, jangan pergi dulu." ucap zeyu sambil menghapus air matanya. Ini pertama kalinya dia menangis karena seorang wanita, kecuali ibunya. Gadis itu benar-benar akan menghilang. Zeyu merasakan hatinya sakit kali ini. Kenapa hatinya sadar saat w...
