Jake seorang siswa yang meninggal karna kebakaran yang membakar sekolahnya, bukanya langsung menuju alam baka, melainkan tersesat di raga seorang pemuda bernama jaeyun, yang hidupnya sangat lah menyedihkan.
Lalu apa yang terjadi? Apa jake mengubah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari baru di mulai, jaeyun memulai hari dengan merawat tanaman di depan rumahnya, yang membuat rumahnya tampak lebih asri.
Sesuatu tak terduga terjadi, hari ini banyak surat kabar cetak maupun digital, semuanya menyebarkan tentang kabar perceraian seorang park Sunghoon, orang yang sangat berpengaruh, di dalam surat kabar yang beredar, mereka bercerai karna Sunghoon di vonis mandul {tidak bisa memberi keturunan}.
Jaeyun yang membaca surat kabar itu langsung kaget tak lama kemudian dirinya tertawa terbahak bahak.
"Lah? Kan Sunghoon disini mandul? Berarti? Jaeyun hamil anak siapa dong?" Tanya jaeyun pada dirinya sendiri.
"Mau bilang bukan anak Sunghoon, tapikan jaeyun cuma nglakuin itu sama Sunghoon, setau aku sih, tapi? Kok disini Sunghoon mandul? Apa ini hoax ya?" Tanya jaeyun bingung sendiri, dan akhirnya dia memutuskan untuk bodo amat.
Jaeyun juga bingung tentang dirinya sendiri, jungwon juga ikut bingung kenapa jaeyun tidak pernah nyidam ataupun morning sickness, padahal kan dirinya hamil?.
Saat dirinya kontrol kandungan bersama jungwon, sang bidan mengatakan bahwa yang mengalami hal-hal itu adalah ayah dari bayi yang di kandung jaeyun, atau dalam artian dirinya mengalami kehaman sinpatik.
Jaeyun sangat senang, bahkan terlampau senang, dirinya membayangkan betapa susahnya Sunghoon,.
Mengingat hal itu membuat tawa jaeyun lepas seketika.
"Duhh, aku jadi pengen liat muka si bangsat itu" Ucap nya di sela tawanya.
Sedangkan disisi Sunghoon yang berada di dalam mobil setelah pulang dari pengadilan, dirinya merasa ingin sekali memakan oreo dengan pasta gigi.
"Jeno, berhenti di indodesember, beli oreo dan pasta gigi" Ucap Sunghoon pada asisten nya bernama Lee Jeno, Sunghoon hanya akan berkata panjang ketika ia bersama orang terdekat nya.
Sedangkan Jeno hanya menganguk, jujur saja Jeno bingung dengan tuan nya, kemarin nugget yang di campur dengan eskrim, makan es krim pakai cuka, selai kacang campur bawang, seperti orang nyidam saja, eh? Memang bener kok.
Selang beberapa menit Jeno memikirkan mobilnya di depan indodesember untuk membeli pesanan atasannya.
Setelah membeli apa yang di inginkan bos nya, kemudian kembali dengan menenteng plastik berisi odol dan oreo.
"Kamu buka, campuran oreo itu dengan odol, kemudian makan" Ucap Sunghoon, yang dibalas plototan Jeno, gila saja, tentu saja Jeno menolak.
"Gaji kamu saya naikin 5kali lipat"ucap Sunghoon yang di balas tatapan mengintimidasi dari Jeno.
" Bener lu hoon?"ucap Jeno, Jeno tak perlu berbahasa formal kepada Sunghoon karna Jeno merupakan teman seangkatan Sunghoon.
"Bener," Jawab Sunghoon cepat.
Dengan penuh mantap Jeno memasukan oreo dengan isian pasta gigi ke dalam mulutnya.
"Demi uang, buat modal nikah sama jaemin" Ucap Jeno dalam hati, sambil memejamkan mata mengunyah oreo rasa odol itu.
Sunghoon terseyum puas, tapi matanya menangkap siluet anak kecil yang sedang memakan cilok, itu membuat nya menelan ludah, jujur ia bingung dengan dirinya, kenapa akhir akhir ini dirinya aneh, Jeno saja mengatakan bahwa dirinya aneh seperti orang nyidam.
Fikiran itu bersarang di otak Sunghoon membuat Sunghoon pusing, mana mungkin dia nyidam, diakan dominan, apa mungkin? Tidak mungkin kan dirinya mandul, itu membuat nya sedikit bersedih karna tidak ada kemungkinan untuk kembali bersama sunoo.
"Eh, hoon, lu masih inget Shim jaeyun ngak? Yang ngaku ngaku hamil anak lu" Ucapan Jeno yang secara tiba-tiba membuat otaknya kembali bekerja mengingat seseorang yang pernah ia tidurin dan mengaku hamil anak nya.
"Cari tahu tentang dia" Sumpah Demi sempak pelangi heeseung dirinya reflek mengatakan itu.
Jano hanya menganguk santai sambil mengendarai mobil menuju mansion Sunghoon.
Sedangkan Sunghoon sendiri ,sedang memikirkan apa yang ada di pikiran.