Bab 7 - Apotek Impian

265 48 9
                                        

Pagi yang cerah dan segar menyambut hari pembukaan apotek Kayla. Semua keluarga hadir untuk merayakan momen ini. Saat mereka tiba di apotek, semua merasa sangat bangga melihat ruko yang telah mereka ubah menjadi apotek yang indah. Ruko yang dulu kosong dan sepi kini berubah menjadi tempat yang ramai dan penuh semangat. Kayla melihat dekorasi yang telah dipasang dengan teliti, menampilkan tampilan produk-produk farmasi yang mereka tawarkan dengan cantik.

Keluarga dan teman-teman yang hadir pun segera berkumpul di depan apotek. Mereka membawa karangan bunga, ucapan selamat, dan senyuman hangat untuk Kayla. Momen ini sangat berarti bagi Kayla. Dia merasa didukung dan dicintai oleh orang-orang terdekatnya.

Pukul 9 pagi, Kayla bersama dengan keluarga dan teman-temannya berkumpul di depan apotek untuk upacara pemotongan pita. Kayla memegang gunting besar yang telah disiapkan untuk momen ini. Dia merasa gugup dan senang sekaligus. Cahyo juga ada di sana, meskipun dia harus kembali ke kantor setelah momen ini berakhir.

"Terima kasih sudah datang untuk merayakan pembukaan apotek kami," ujar Kayla dengan suara gemetar karena rasa haru. "Ini adalah impian yang kami capai bersama, dan kami berharap apotek ini dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat."

Semua orang di sekitarnya bertepuk tangan dan memberikan selamat. Kayla kemudian memotong pita merah yang tergantung di pintu masuk apotek. Rasa bangga dan bahagia memenuhi hatinya saat pintu apotek pertama kali dibuka untuk pelanggan.

Setelah momen pemotongan pita, banyak tamu mulai masuk ke dalam apotek. Kayla dengan senang hati memberikan penjelasan tentang produk-produk yang mereka tawarkan dan memberikan saran kepada pelanggan yang membutuhkan. Meskipun masih pagi, apotek sudah cukup ramai dengan pengunjung yang ingin membeli obat dan produk kesehatan lainnya.

Cahyo memberikan ciuman singkat pada Kayla sebelum dia harus kembali ke kantor. "Sayang, aku sangat bangga padamu. Semoga apotek ini sukses besar," ujarnya dengan mata berbinar.

Kayla tersenyum dan memeluk Cahyo dengan erat. "Terima kasih, Sayang. Aku akan sangat merindukanmu hari ini."

Cahyo mencium kening Kayla sebelum pergi. "Aku akan kembali secepatnya. Jika ada apa-apa, telepon aku langsung, baik?"

Kayla mengangguk walau agak kecewa, dan Cahyo pun pergi dengan senyum dan doa terakhirnya.

Sementara Cahyo kembali ke kantor, Kayla mulai berfokus pada tugas-tugasnya di apotek. Dia memiliki empat pegawai yang akan membantunya dalam menjalankan apotek ini. Dua di antaranya adalah asisten apoteker, Reni dan Sisi, masing-masing berusia 21 dan 20 tahun. Sementara dua pegawai lainnya, Heru dan Toni, berusia 18 tahun dan lulusan SMK. Mereka akan masuk bergantian setiap shiftnya. Apotek buka dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam, selama enam hari dalam seminggu, dari Selasa hingga Minggu.

"Baiklah, mari kita mulai dengan perkenalan diri. Saya yakin kita semua sudah saling berpandang wajah satu sama lain, tetapi banyak hal-hal yang belum kita ketahui satu sama lain," ujar Kayla sambil duduk di depan para pegawai.

Reni, yang duduk di sebelah Kayla, memulai perkenalannya. "Saya Reni, asisten apoteker. Saya sudah berpengalaman di bidang ini selama hampir satu tahun."

Sisi tersenyum dan melanjutkan, "Saya Sisi, juga asisten apoteker. Saya baru di bidang ini beberapa bulan yang lalu, mohon bimbingannya."

Heru dan Toni kemudian bergantian memperkenalkan diri. Mereka menceritakan latar belakang mereka dan alasan mereka memilih bekerja di apotek Kayla. Semua cerita perkenalan itu berjalan lancar, dan suasana menjadi semakin akrab.

Kemudian, giliran Kayla untuk memperkenalkan diri. "Saya Kayla, saya yakin semua sudah tahu, pemilik apotek ini. Merangkap sebagai apoteker, keuangan, humas dan lainnya. Melelahkan tapi ini impian saya. Saya sangat senang bisa bekerja bersama kalian semua dan saya harap kita bisa bekerja sebagai tim yang solid."

Para pegawai tersenyum dan memberikan tepuk tangan sambutan. Mereka merasa senang bisa bekerja dengan pemilik yang ramah dan baik hati seperti Kayla.

Setelah perkenalan, Kayla memutuskan untuk mengadakan sesi tanya jawab ringan. Dia ingin para pegawai lebih mengenalnya secara pribadi. "Baiklah, sekarang saya akan memberikan pertanyaan kepada kalian. Jawab dengan jujur, ya?"

Reni mengangguk dan berkata, "Tentu, Bu Kayla. Apa pertanyaannya?"

Kayla tersenyum. "Pertanyaan pertama: Apa makanan favorit kalian?"

Sisi menjawab cepat, "Saya suka sushi!"

Toni menyusul, "Saya suka pizza!"

Heru dengan antusias berkata, "Saya suka jengkol!"

Semua pegawai tertawa karena pertanyaan ini membuat suasana menjadi lebih santai. Mereka melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain, seperti tempat liburan impian mereka, hobi, dan lagu favorit.

Ternyata, Kayla juga punya selera yang unik. Dia mengungkapkan bahwa dia suka berkemah di alam bebas dan mendaki gunung. Dia juga mengakui bahwa dia adalah pecinta musik klasik dan bisa duduk selama berjam-jam untuk mendengarkan konser.

"Wow, Bu Kayla, saya tidak pernah membayangkan ini!" kata Sisi dengan kagum.

Kayla tersenyum. "Terima kasih, Bu Sisi. Saya percaya kita semua memiliki sisi unik dari diri kita masing-masing. Oh iya, dan juga. Agar lebih akrab tolong panggil Kayla saja ya! Tidak perlu penghormatann seperti Bu Kayla, Kak Kayla, dan lainnya. Tapi aku kembalikan ke kalian saja lebih nyaman bagaimana."

Sesi perkenalan berlanjut dengan tawa dan obrolan yang ringan. Para pegawai merasa semakin akrab dengan Kayla, dan Kayla juga merasa lebih dekat dengan mereka. Itu adalah momen yang menyenangkan di antara pekerja keras yang sedang bekerja bersama untuk mencapai kesuksesan.

Saat acara perkenalan berakhir, Kayla memberikan ucapan terima kasih kepada para pegawai karena telah ikut serta. "Terima kasih, semuanya, telah berpartisipasi dalam sesi perkenalan ini. Aku merasa lebih dekat dengan kalian sekarang, dan saya harap kita bisa terus bekerja sebagai tim yang solid di sini."

Para pegawai berseru setuju, dan suasana penuh semangat di apotek Kayla terasa semakin erat. Mereka merasa bahwa mereka tidak hanya sebatas rekan kerja, tetapi juga teman-teman yang dapat saling mendukung dan menginspirasi satu sama lain.

Setelah acara perkenalan selesai, apotek Kayla kembali ramai dengan pelanggan yang datang untuk mendapatkan pelayanan terbaik. Para pegawai bekerja dengan semangat dan antusias, karena mereka merasa lebih terkoneksi dengan Kayla sebagai pemilik apotek.

Dear Liar [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang