Kayla merasa hari ini benar-benar sibuk di Apotek. Pegawainya tampaknya tidak bisa datang, dan dia harus mengurus semuanya sendirian. Obat-obatan harus disusun ulang, resep harus dicek, dan pelanggan harus dilayani. Jam-jam seperti ini membuatnya merindukan Cahyo yang selalu memberinya dukungan.
Saat tengah dalam kesibukannya, tiba-tiba datang lagi surat kaleng yang misterius. "Tanyalah mengenai kematian ayah dan ibunya," begitu isinya. Kayla merasa jantungnya berdebar kencang saat membaca surat tersebut. Ini adalah surat ketiga yang ia terima dengan isinya yang tak jelas. Meskipun sebelumnya ia sudah merasa kesal dengan pesan-pesan misterius ini, ia tetap memutuskan untuk menyimpannya, merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan ia perlu mencari tahu.
Setelah berakhirnya hari yang panjang di apotek, Kayla janji bertemu dengan Cahyo di luar. Mereka telah berjanji untuk pergi nonton bioskop malam ini, dan Kayla sangat menantikan kencan mereka yang tertunda ini. Cahyo mengajaknya makan malam di sebuah restoran ternama sebelum pergi ke bioskop, dan Kayla merasa sangat senang.
Namun, begitu mereka duduk di restoran, Cahyo segera melihat wajah Kayla yang terlihat cemas. "Kenapa wajahmu terlihat muram dan gelisah, sayang?" tanya Cahyo dengan perhatian.
Kayla akhirnya menceritakan segalanya kepada Cahyo tentang Lila yang menghilang. Cahyo mendengarkan dengan seksama, memberikan komentar yang dewasa, dan menyarankan Kayla untuk tidak terlalu banyak ikut campur dalam urusan Lila, tiap orang punya masalahnya sendiri dan tidak semua orang mau orang lain ikut campur.
Setelah membicarakan masalah itu, Cahyo tiba-tiba menanyakan hal lain. "Bagaimana dengan status rukomu, sayang? Apakah kamu masih sewa?"
Kayla menggelengkan kepala. "Tidak, semuanya sudah dimiliki oleh Ayahku. Ayah membelinya untuk hadiah kelulusanku."
Cahyo merasa lega mendengarnya. "Oh, begitu. baiklah, setidaknya kamu memiliki tempat tinggal yang stabil. Aku khawatir kamu harus pindah jika rumah itu masih dalam status sewa."
Namun, Kayla merasa ada perasaan tak enak di dalam dirinya. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan entah oleh ayahnya atau Cahyo, dan itu membuatnya khawatir. Namun, saat ini dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa menutupi perasaannya dan berharap semuanya akan baik-baik saja.
Setelah makan malam yang lezat, Cahyo dan Kayla pergi ke bioskop untuk menonton film terbaru yang mereka tunggu-tunggu. Mereka duduk di kursi yang nyaman, berpegangan tangan, dan menikmati pengalaman menonton bersama.
Ketika lampu di ruangan bioskop mulai redup, suasana semakin romantis. Mereka saling melempar senyum dan candaan saat film mulai diputar. Kayla tertawa saat Cahyo menggoda dia dengan lelucon-lelucon ringan.
Mereka terlarut dalam film, berbagi tawa, dan merasakan ketegangan dalam adegan-adegan mendebarkan. Cahyo memegang tangan Kayla dengan erat saat adegan-adegan romantis muncul di layar, dan Kayla merasa begitu bahagia.
Setelah film selesai, mereka keluar dari bioskop dengan senyum yang mengembang di wajah mereka. "Film tadi sangat bagus bukan? Selain lucu, adegan romantisnya juga sempat buat aku keluar air mata sedikit," kata Cahyo dengan penuh kebahagiaan.
Kayla mengangguk setuju. "Ya, aku benar-benar iri. Andai saja semua orang seperti di film itu. Lebih bersikap terbuka dan tidak ada yang ditutupi dibelakangku."
"Apa yang kamu bicarakan? Sudahlah ayo ikut aku!" Kata Cahyo dengan penuh kebahagiaan sembari menyeret Kayla jalan ke sebuah taman yang indah. Mereka berdua berjalan berpegangan tangan, menikmati malam yang tenang dan bercerita tentang masa kecil mereka.
Cahyo akhirnya membuka diri tentang masa lalunya. "Kamu tahu, sayang, Ibuku meninggal ketika aku masih kecil," katanya dengan nada lembut. "Aku masih ingat saat itu, Ibuku sangat sakit. Dia hamil saat itu, dan komplikasi membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Namun, mereka tidak bisa menyelamatkannya."
Kayla merasa tersentuh dengan pengakuan Cahyo. "Aku begitu menyesal, sayang. Aku tidak tahu tentang itu sebelumnya."
Cahyo tersenyum. "Tidak apa-apa, sayang. Kamu tidak bertanya, jadi aku tidak menceritakannya. Aku rasa kamu memang tidak ingin tahu masa laluku. Yang lalu biarlah berlalu. Ayahku juga sakit setelah ibuku meninggal, dan ayah meninggal tak lama setelahnya. Aku tinggal bersama kakekku sejak itu."
Mereka berjalan lebih jauh di taman, dan Cahyo melanjutkan menceritakan masa lalunya. "Kakekku adalah orang yang baik. Dia sangat menyayangi aku dan kakak perempuanku. Tapi aku merindukan ibuku setiap hari. Dia begitu perhatian dan penyayang."
Kayla mendengarkan dengan perasaan simpati. "Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, Cahyo. Itu pasti pengalaman yang sangat sulit."
Cahyo mengangguk. "Iya, tapi aku percaya semuanya telah membentuk diriku seperti sekarang. Aku beruntung memilikimu dalam hidupku, sayang."
Mereka berdua berhenti di bawah pohon besar di taman itu. Cahyo meraih tangan Kayla dengan lembut dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Kita akan bersama-sama melewati segala rintangan, sayang. Kamu tidak perlu khawatir."
Kayla tersenyum dan memeluk Cahyo erat. "Aku sangat beruntung memiliki kamu, sayang."
Malam itu, saat mereka kembali ke rumah, Kayla merasa lebih lega setelah berbicara dengan Cahyo tentang semua yang telah terjadi. Namun, misteri seputar surat-surat misterius dan keberadaan Lila yang hilang masih belum terpecahkan. Kayla merasa perlu mencari tahu lebih lanjut tentang apa yang terjadi di masa lalu keluarganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Liar [COMPLETED]
RomanceKayla memiliki keluarga yang sempurna, Ayah yang sangat mencintainya, ibu sambung yang seperti ibu kandungnya dan seorang Kakak sambung yang selalu memperhatikannya dan adik yang mengaguminya. Tumbuh di bawah pengawasan keluarganya, Kaylamenjalani k...
![Dear Liar [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/359482747-64-k696227.jpg)