Pelangi dan Doni adalah kakak beradik yang saling menyayangi, kekuatan mereka ada pada sang ayah bernama Lucas yang selalu menjaga dan merawat mereka di saat sangat ibu pergi mengkhianati ayahnya.
***
Pelangi hanya ingin sang ayah bahagia. agama ad...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa Ayah sakit lagi?" tanya pelangi saat melihat Ayahnya gemetar memegang piring. sejenak Lucas menatap putrinya, "Tidak Nak. Ayah hanya sedikit pusing." Pelangi mengambil piring dari tangan ayahnya. "Biar aku saja yang melakukan ini! Ayah istirahatlah." ucap Pelangi berjalan menuju ke arah Doni yang sedang duduk di sofa. Lucas melangkah menghampiri kedua anaknya. "Ayah tidak sakit!" tegas Lucas sambil tersenyum menatap pada kedua anaknya. "Makanlah Dek." ucap Pelangi memberikan piring berisi makanan pada adiknya. "Ayah, benar kata nenek kita memang membutuhkan sorang pembantu. "Pelangi berjalan menghampiri ayahnya. Lucas membelai surai putrinya. "Dengar, Ayah seorang pria dengan status duda. Ayah tidak ingin ada perkataan buruk dari luar, bila ada seorang wanita tinggal di sini walaupun hanya sebagai pembantu." ucap Lucas melebarkan senyumnya.
Pelangi mengangguk pelan. "Baiklah Ayah, Apapun keputusannya. Pelangi akan selalu di sampingmu." kata Pelangi yang membuat Lucas terharu. "Terima kasih, Nak." ucap Lucas menepuk pundak putrinya.
Doni yang sedang duduk di sofa sambil makan. "Kak, aku sudah selesai makannya." ucap Doni beranjak dari duduknya menuju ke dapur lalu meletakkan piring kotornya di atas wastafel.
"Dek. Kamu masuk ke kamar jangan lupa belajar." Pelangi mengambil apron di lemari lalu memakainya sambil berjalan menuju ke arah wastafel. Pelangi mencuci piring kotor dan membereskan dapur. "Mau Ayah bantu?" ucap Lucas mengambil kain serbet. "Ayah... biarkan semua ini aku yang lakukan." jawab Pelangi dengan tangan yang masih mengusap piring kotor dengan spons. Lucas kemudian menggaruk kepalanya, "Lalu Ayah harus apa?" Pelangi menyalakan kran wastafel. "Ayah istirahat saja di kamar." ucap Pelangi sembari meletakkan piring bersih ke rak samping wastafel.
"Biarkan Ayah membantumu." ucap Lucas sambil membereskan meja makan. Setelah semuanya selesai Lucas meminta Pelangi untuk masuk ke kamarnya beristirahat.
***
Hari sudah petang memasuki jam salat Magrib. Mentari beranjak mengambil air wudu dan melaksanakan salat Magrib.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak lupa Mentari juga memanjatkan doa untuk orang tuanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pak Abdullah baru saja pulang dari kantor. Saat hendak melangkah menuju ke kamarnya, Pak Abdullah melewati kamar Mentari lalu melihat putrinya sedang berdoa untuknya. Pak Abdullah yang sedang berdiri di depan pintu kamar Mentari. "Dia selalu mendoakan ku. Apa dia akan masih mendoakan ku jika tahu kalau aku bukan Ayah kandungnya?" tanya Pak Abdullah dalam batinnya. Pak Abdullah menghela napas, membalikkan badannya lalu beranjak melangkah menuju ke kamarnya.
***
Setelah melaksanakan salat Magrib. Mentari menuju ke ruang tengah dan melihat ayahnya sedang duduk sambil membaca buku. "Ayah sudah pulang?" ucapnya sembari duduk di sofa. Pak Abdullah menatap putrinya. "Ada apa Ayah?" tanyanya. "Mentari apa kau tidak ingin menikah?" pertanyaan Ayahnya yang membuat Mentari terkejut. Lalu Mentari tersenyum pada Ayahnya. "Ayah, aku masih ingin merawat mu. Aku belum siap jika harus meninggalkanmu." jawab Mentari membuat Ayahnya terharu.
"Dengar putriku. Ayah ingin di akhir hidupku melihatmu bahagia? Ayah ingin kau menemukan penggantiku yang mampu menjagamu. Setelah itu Ayah akan tenang." kata Pak Abdullah membuat Mentari sedih.
Mentari menghampiri ayahnya dan bersimpuh di hadapan Pak Abdullah. "Ayah, sehat selalu agar kau bisa menyaksikan pernikahanku. Ayah bisa pilihkan pria untukku, Insya Allah aku akan menerimanya." ucap Mentari meneteskan airmata. Pak Abdullah menangis di hadapanmu. "Alhamdulillah, terima kasih putriku." Pak Abdullah menggenggam tangan Mentari.
Mentari juga memberitahu kepada Ayahnya kalau dia sudah mendapatkan pekerjaan. "Ayah alhamdulillah aku mendapatkan pekerjaaan. Mungkin pekerjaanku tidak ada apa-apa nya dengan jabatan yang Ayah berikan di kantor. Tapi aku bahagia Ayah, aku bisa memanfaatkan ilmuku untuk mengajari anak-anak." ucap Mentari bahagia. Pak Abdullah tersenyum. "Alhamdulillah, katakan di sekolah atau fakultas mana?" tanya Pak Abdullah. "Tidak Ayah. Aku di terima sebagai pengajar privat, tapi untuk penghasilan insya Allah setara dengan gaji mengajar di fakultas." jawab Mentari.