Chapter 4

6.3K 401 15
                                    

Rivaldo's POV

"Hei...Mau ke rumah gue?" tanya Wendy. Gue langsung membelalakkan mata dengan mulut menganga.

'Serius, nih? Bukannya dari tadi dia marah-marah gak jelas sama gue sampai kesal sendiri? Sekarang dia ngajak gue ke rumahnya? Aneh..'

Dia hanya bisa fidget saat gue menatapnya, dan gue liat sedikit semburat merah di kedua pipinya. Melihatnya seperti itu, gue mulai berpikir kalau dia manis juga. 'Wait, dia manis? Well, mungkin dia memang manis.'

"Lu yakin? Bukannya dari tadi lu kesal kepada gue? Gue sampai berasumsi kalau lu benci sama gue."

Dia menoleh ke arah gue dan gue liat sedikit kekesalan di matanya. Sedikit loh ya.

"Ka-kalau gak mau, ya udah!" teriaknya lalu berjalan pergi sambil menghentak - hentakkan kakinya. Gue menarik tangannya.

"Iya, iya, gue mau kok. Gue cuma bercanda." Gue membujuknya dengan raut wajah menyesal. Lucu. Wendy jadi kayak anak kecil.

Wendy's POV

"Iya, iya, gue mau kok. Gue cuma bercanda." kata Rivaldo dengan raut muka menyesal.

'Di..Dia megang tangan gue!!' Ok, sekarang gue jadi parnoan sendiri.
Jantung gue berdetak cepat sekali, dan gue merasa wajah gue mulai memanas.

'Kenapa? Kenapa rasanya berbeda ketika orang-orang tadi memegang tangan gue? Mungkin karena tangannya memegang gue dengan lembut dan tidak memaksa. Rasanya.....aman saat tangan gue digenggam.'

BLUSH! Mendengar kalimat gue sendiri membuat semburat merah di wajah gue makin tebal sehingga membuat Rivaldo memegang pipi gue.

"Kenapa tuh wajah lu? Merah banget. Lu sakit?" tanyanya sembari memegang pipi dan kening gue. Gue langsung menepis tangannya.

"I..Ini gara-gara kejadian tadi, tau! Lu harusnya tau betapa mengerikannya ini untuk gue! Gue juga melawan mereka sampai sesak napas, jadi jelas kalau wajah gue merah, kan?!" teriak gue kencang - kencang di telinganya. Dia hanya memasang poker face sambil menutup telinganya.

"Baik, baik, gue ngerti. Jadi, kita jadi pergi gak nih ke rumah lu?" tanyanya.

"Gak jadi! Gue berubah pikiran! Huft!" Gue menggembungkan pipi gue kesal dan berjalan pergi meninggalkan dia.

"Heeeh.....Padahal luka di pipi ini rasanya sakit sekali. Gue berjuang habis-habisan, tapi bahkan gue tidak mendapat ucapan terima kasih sekalipun. Setidaknya, kan, orang itu bisa mengobati luka gue..." kata Wendy sedang memprovokasi gue.

'Orang ini...benar-benar menyebalkan!!! Bilang aja kalau lu mau gue obati!!'

"Ya udah, kalau gitu sini ikut gue!" Gue menarik tangannya kesal. Gue gak tau kalau Rivaldo tersenyum puas saat gue tarik.

-------------------------------------------------------

Kami sampai di depan rumah gue, dan gue membukakan pintu dan mempersilakan dia masuk.

"Lepas sandal lu dan duduklah di ruang tamu. Gue mau ngambil kotak P3K dulu." Gue nunjuk ke arah sofa, lalu gue beranjak pergi ninggalin dia.

"Hmm.." gumamnya mengiyakan perintah gue lalu duduk di sofa.

Gue segera masuk ke kamar mandi dan mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Rivaldo.

Rivaldo's POV

Gue kemudian duduk sesuai perintahnya, lalu gue liat dia berjalan pergi. Sepertinya berjalan ke arah kamar mandi.

Gue melihat-lihat isi rumahnya. Dan mata gue tertuju pada sebuah foto di meja dekat TV yang terletak di pojok ruangan. Gue mendekati meja tersebut dan gue teliti foto itu.

My Handsome Model [SLOW UPDATE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang