Author's POV
Natal!! Ya, Natal!! Hari yang dimana menurut kepercayaan umat Nasrani, adalah hari Kelahiran Yesus Kristus, sang Juru Selamat. Kali ini, suasana Natal sedang ramai - ramainya. Banyak orang yang membeli hadiah, banyak juga yang cepat pulang ke rumah untuk merayakan Natal, dan juga toko - toko roti yang menjajakan kue - kue khas Natal. Tak terkecuali Wendy yang sekarang sedang menghias kelasnya.
"We wish you a Merry Christmas... We wish you a Merry Christmas.." Wendy bernyanyi kecil sambil menghias kelas. Ya, di sekolah mereka, sedang diadakan pesta Natal. Semua kelas wajib menghias kelas masing - masing dan menggunakan kostum bertema Natal. Nantinya mereka akan membuat sesuatu seperti gantungan kunci atau buku cerita untuk dijual. Uang yang didapat akan disumbangkan ke panti asuhan atau panti jompo.
Nah, sekarang sudah tanggal 24 Desember, malam Natal! Wendy sedang sibuk membetulkan letak hiasannya ketika tiba - tiba dia teringat sesuatu.
Wendy's POV
"Aneh, rasanya ada yang kurang..."
"Apanya yang kurang, Wen?" tanya anak perempuan di sebelah gue.
"Ah, Jennifer. Lo bikin kaget aja. Rasanya ada yang kurang, entah kenapa." Gue berpikir keras. Rasanya memang ada sesuatu yang kurang, tapi apa?
"Emang apa yang kurang? Hiasannya udah pas semua loh." kata Jennifer.
"Gak, gak. Bukan hiasannya." Mendadak bola lampu muncul di atas kepala gue. "Ah, iya! Gue gak liat Rivaldo dari tadi. Kemana dia?"
"Ooohh, Rivaldo. Tadi gue dapat kabar dari wali kelas, katanya dia sakit. Jadi dia izin gak ikut hari ini." kata Jennifer yang memang ketua kelas kami. Gue cuma manggut - manggut.
"Btw, gue ke sebelah situ dulu, ya. Kalau perlu bantuan, ntar minta ama Gina aja."
"Oh, iya. Thanks, Jen infonya!"
Hmm, aneh. Udah masuk musim liburan, kok bisa - bisanya dia sakit? Emang sih lagi musim hujan, tapi gak nyangka aja dia bisa sakit. Apalagi malam ini ada acara api unggun di sekolah, sambil menunggu datangnya Natal. Bel akan dibunyikan tepat jam 12 malam. Kebetulan sekolah kami juga memiliki kapel sendiri. Yah, sekolah kami sekolah swasta sih.
"Hoi! Lagi mikirin apa? Serius amat mukanya!" seru Gina di telinga gue.
"Buset dah! Jangan teriak di telinga orang! Bisa tuli gue lama - lama kena lo teriakin." Yang dimarah malah cengar - cengir dengan watadosnya.
"Ehehe, maap, maap. Habis, kening lo sampai berkerut gitu. Emang kenapa siiihh, Wendy sayaaang~?"
"Makin lama makin jijay gue ama lo. Dah ah, bukan urusan lo. Sana sana, hush hush!" usir gue.
"Aha!! Pasti Rivaldo ya?? Hayo, ngaku aja bro!" Jleb! Tepat sasaran.
"Bu-Bukan!! Gak usah sembarang ngomong!" elak gue."Ah, maca cih? Yang bener? Gue denger katanya Rivaldo sakit parah looohh~~ Gue sih mau jengukin dia nanti~~"
"Yang ada, dia bisa mati di tempat gara - gara lo. Gak usah jengukin dia. Nanti juga sembuh."
"Ah, Wendy cem-bu-ru!! Pokoknya ntar gue jengukin dia, gue bawain masakan gue biar cepet sembuh." Gina senyum - senyum gaje ke gue.
"Eeitts! Gak usah deh. Gue aja yang jengukin dia. Gue takut dia kenapa - kenapa kena masakan lo. Tau - tau besok udah gak ada kabarnya. Udah, sana balik ke habitat lu!!" perintah gue dengan nada jengkel.
"Rencana sukses!" Gina mengacungkan kedua jarinya sambil mengedipkan mata.
'Pokoknya gue fokus dulu ama kerjaan gue. Nanti gak kelar - kelar, baru gue jengukin Rivaldo habis kerjaan gue selesai.'

KAMU SEDANG MEMBACA
My Handsome Model [SLOW UPDATE]
FanfictionWendy Slyvan, seorang model dan sangat menyukai fashion. Oleh karena itu ia selalu tampak berkharisma. Rivaldo Wijaya adalah seorang gamer dan otaku yang tidak pernah mempedulikan penampilannya. Mereka berdua bertemu dan selalu bercekcok. Wendy ingi...