"Tiap manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing. Namun, yang dilihat adalah, bagaimana tiap individu dalam menyikapi setiap takdir yang Allah tetapkan dalam perjalanannya."
_Aira Humaira Az-Zahra_
Happy Reading ...
***
"Gimana? Udah dapat kerjaan belum?"
Seorang gadis bernama Aira mengangguk senang. "Alhamdulillaah, aku keterima kerja di kafe yang baru buka itu. Mereka masih butuh karyawan," jelas Aira.
Gadis yang usianya sama dengan Aira tersenyum senang. Gadis itu bernama Keysha. "Alhamdulillaah," ucap Keysha.
"Aku bilang kalau aku masih kuliah. Kan aku kuliah dari pagi sampai sore, jadi orangnya ngerti dan ngizinin aku buat kerja dari habis maghrib sampai jam sepuluh," papar Aira.
"Berarti gantian sama orang dong?"
Aira mengangguk. "By the way, makasih, ya, Kei. Kamu kemarin bantuin buat nyiapin keperluan aku. Walaupun owner-nya kakak sepupu aku, tapi dia nggak pilih kasih sama orang yang melamar kerja disana," kata Aira.
"Sama-sama. Jujur, sebenarnya aku penasaran banget kenapa kamu pengen banget buat cari kerja. Padahal tugas kita lagi banyak-banyaknya," kata Keysha meluapkan rasa penasarannya.
Aira tersenyum simpul. "Kebutuhan kita juga lagi banyak-banyaknya," guraunya.
Kedua gadis itu tertawa bersama.
***
Aira turun dari motornya. Kemudian ia memarkirkan motornya di garasi samping kost.
Aira Humaira Azzahra. Gadis berusia 20 tahun yang sedang menempuh pendidikan di Jakarta. Ia berkuliah disalah satu universitas ternama disana dan mengambil program studi pendidikan matematika.
Aira tinggal disebuah kos-kosan sederhana. Orangtuanya tinggal disebuah desa yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya tinggal sekarang. Impiannya adalah selain berkuliah, ingin diselingi dengan bekerja juga.
Gadis itu mengucapkan salam begitu memasuki kamar kostnya. Ia meletakkan tas gendong yang berukuran sedang yang berisi laptop dan alat tulis. Ia letakkan diatas kasur lantai yang ukurannya hanya muat untuk satu orang. Setelah itu lanjut membersihkan diri kemudian kembali keluar untuk ke dapur.
Sesampainya di dapur, gadis itu terdiam dan menatap sekeliling dapur. Tengah berpikir, ia makan apa?
Tiba-tiba Aira tersenyum. "Masih ada mie satu di kamar. Alhamdulillaah," ucapnya senang. Ia bergegas kembali ke kamar dan mengambil mie instant yang masih ada satu bungkus.
Dengan penuh semangat, Aira memasak mie. Ia tambahkan telur supaya ada kandungan protein. Gadis itu tidak berniat memakan mie itu dengan nasi. Ia bersyukur karena masih ada makanan.
Sebisa mungkin Aira tidak terlalu banyak menimbulkan suara. Ini sudah malam, sebagian penghuni kos-kosan sudah beristirahat.
***
Seorang lelaki tengah disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang masih menunggu untuk diselesaikan. Belum lagi, tugas dari sang ayah yang terus menyuruhnya untuk mempelajari bisnis lebih dalam. Supaya dapat melanjutkan bisnisnya
"Argh! Lama-lama gue stress kalau kayak gini!" erang lelaki itu. Ia banting pulpen ditangannya. Kamarnya serupa kapal pecah yang sudah berantakan.
"Indra?" Lelaki itu menoleh ke sumber suara. Ia menghela napas kemudian menatap sang ibu dengan senyuman.
"Boleh mama masuk?" tanya mama Anita--Ibu lelaki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indra Aira
Romance"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Humaira Azzahra binti Ahmad Hidayat dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Pernikahan didasari dengan keterpaksaan. Kedua insan yang awalnya tak saling mengenal menyatu dalam ikatan suci. Indra Fadil Dirgantara...
