IA 36 (Positif)

70 1 0
                                        

Sebelum baca part ini, ucapkan kalimat basmalah terlebih dahulu, ya. Pastikan tidak berada di waktu sholat. Kalau sudah masuk waktu sholat, ayo sholat dulu. Kalau belum ngaji, ayo ngaji dulu ya gess yaa.

Dan jangan lupa berdzikir serta bersholawat.

Happy Reading ...

***

Indra terpaku melihat Aira yang berada dihadapannya dengan tersenyum manis. Tangan kanannya memegang sebuah buket bunga, sementara di tangan kirinya terdapat sebuah kado kecil yang belum diketahui isinya.

Senyum perempuan itu perlahan hilang. Berganti dengan kekhawatiran lantaran melihat mata suaminya yang sudah memerah dengan linangan air mata.

"Kak? Kak Indra?"

Indra menghembuskan napas. Ia menatap istrinya tajam. "Kamu ngapain, sih?" tanyanya pelan namun terasa menusuk.

Aira menelan salivanya. "Aku ... aku mau kasih kejutan, Kak," jawabnya lebih pelan. Khawatir suaminya itu marah.

"Kejutan apa? Kamu tahu aku khawatir banget lihat kondisi rumah kayak gini. Aku pikir ... aku pikir ada orang datang ganggu kamu. Kamu nggak tahu gimana perasaan aku tadi dengar kamu nangis. Aku panik!" Indra sedikit menaikkan nada bicaranya.

Aira tak menyangka reaksi Indra seperti ini. Ia memegang tangan suaminya. "Aku minta maaf, Kak. Aku pikir ini nggak berlebihan. Maaf, ya?"

Indra melepaskan tangan Aira dan langsung mengusap matanya. "Jangan ganggu aku dulu," ucapnya dingin kemudian langsung pergi menuju kamar yang dulu ditempati Aira.

Deg!

Jantung Aira berdegup kencang. Sama sekali tak mengira respon Indra akan seperti itu. Perempuan itu menguatkan genggamannya pada buket di tangannya. Sementara matanya mulai memanas.

Suaminya marah padanya.

Malam hari ketika makan malam, Indra masih mendiami Aira. Ia duduk di kursi tanpa bicara sepatah katapun. Sepulang dari masjid, Aira langsung memanggil suaminya untuk makan malam, namun Indra tak menyahuti sama sekali. Hanya datang dan duduk. Diam.

"Segini cukup, Kak?" tanya Aira.

"Hm."

Jawaban yang dingin. Bahkan Aira terdiam dibuatnya. Lagi, makan malam itu tanpa percakapan.

Setelah selesai, Indra membantu Aira merapikan alat-alat makan mereka seperti biasa. Namun lelaki itu tak berekspresi sedikitpun.

"Kak Indra," panggil Aira ketika Indra hendak pergi.

Indra berhenti tanpa membalikkan badan.

Aira bergegas mengeringkan tangannya kemudian langsung menghampiri suaminya. "Kak, aku minta maaf," kata Aira.

Indra bergeming. Bahkan tak menatap istrinya barang sedetik. Aira memegang lengan suaminya. "Aku salah. Aku udah bikin kamu cemas. Aku minta maaf, Kak," lanjutnya.

"Kak." Suara perempuan itu terdengar sedikit bergetar. Mendengar itu, Indra mulai terusik.

"Aku tadi niatnya mau kasih Kakak kejutan. Ternyata aku keterlaluan. Maaf." Aira langsung memeluk Indra. Menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.

"Maaf, maaf, maaf," ucapnya pelan. Air matanya menetes.

Terdengar helaan napas dari lelaki itu. Ia tak membalas ataupun menolak pelukan Aira. Namun perlahan kepalanya menunduk.

"Sayangnya Aira, maafin istrimu ini, yaa."

Deg!

Apa? Tak salah dengarkah? Aira mengucapkan kalimat itu dengan nada yang terdengar menggemaskan?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 04 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Indra AiraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang