IA 2 (Tak Terduga)

947 21 0
                                        

Imam Asy Syafi'i rahimahullah berkata :

"Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruan dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja."

***

Pukul 14.00.

Aira berjalan menuju parkiran. Mata kuliah di hari itu sudah habis. Saatnya ia pulang dan mengistirahatkan diri sebelum lanjut bekerja.

Bertepatan dengan Aira yang memasang helm, matanya tak sengaja melihat seorang lelaki yang membukakan pintu mobil untuk perempuan disampingnya. Tampak senang. Ia tahu saja, itulah Indra Fadil Dirgantara yang sering ia dengar lewat teman-teman sekelasnya. Lelaki itu bersama dengan kekasihnya. Acha.

Gadis itu kembali fokus pada tujuannya.

"Mirip sinetron," gumam Aira. Ia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan. Pasalnya, kejadian tadi sama persis dengan sinetron yang tak sengaja ia tonton bersama ibu kost.

Pukul 18.00

"Udah siap, Ra?" tanya Iqbal begitu Aira sampai di kafenya.

Gadis itu menghembuskan napas pelan. "Gugup dikit, sih. Tapi gapapa. Bismillaah," jawabnya.

Iqbal tersenyum bangga. "Oke. Habis ini langsung ke meja kasir. Kamu kerjakan aja sesuai apa yang udah aku ajarin waktu itu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku, ya?"

"Siap, Kak!"

Iqbal terkekeh. "Yaudah sana. Semangat, Ai!"

***
Aira mengerjakan tugasnya dengan fokus. Sesekali ia terlihat kelimpungan karena banyaknya pelanggan di kafe itu. Terkadang ia terkena omel dari pelanggan karena lambat katanya.

Namun, gadis itu berusaha untuk tetap tenang. Lama kelamaan kakinya pegal juga karena terlalu lama berdiri.

Ketika masuk waktu isya, Aira tetap salat. Ia diberikan waktu break selama limabelas menit. Itulah yang Aira sukai dari kafe ini. Ketika tiba waktu salat, karyawan harus salat dan dipersilahkan untuk istirahat. Tidak menekan harus terus bekerja.

Waktu terus berjalan hingga tak terasa sudah pukul 22.30. Aira sudah selesai.

"Kak Iqbal," panggil Aira. Sementara yang dipanggil tengah sibuk menatap laptopnya.

"Eh? Ai. Udah selesai, ya?" Iqbal mengalihkan atensinya. Menatap Aira.

Gadis itu mengangguk. "Iya, Kak. Kafe ini belum mau tutup, ya?"

"Belum. Yaudah kamu pulang aja. Tapi sebelum pulang, bawa ini, ya?" Iqbal menyodorkan sebuah bungkusan pada Aira.

Aira menerimanya. "Ini apa?"

"Bakso tapi nggak pake mi. Suka, kan?"

Seketika mata Aira berbinar. "Makasih, ya, Kak!"

Iqbal tertawa melihat adik sepupunya ini kegirangan. "Yaudah cepet pulang. Keburu makin malam."

"Oke. Makasih, ya, Kak. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Tak lama setelah Aira keluar, Indra masuk.

"Bal."

"Hm?"

"Maaf baru dateng."

"Udah biasa," jawab Iqbal cuek. Indra menyipitkan matanya. "Lo marah?"

Iqbal mendelik sinis. "Nggak liat lagi sibuk?"

Fix, marah beneran ni orang.

"Sorry gue mesti ngajak Acha jalan-jalan karena gue udah janji sama dia kemarin."

Indra AiraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang