IA 21 (Berjuang?)

809 20 0
                                        

Bismillah

***
Beberapa hari kemudian ...

Pukul 11.20

Indra sudah menunggu didepan gerbang kampus. Ia menunggu Aira keluar.

Karena merasa iba pada Indra, Iqbal akhirnya memberitahu bahwa Aira hari ini kuliah dan kemungkinan kelasnya selesai sebelum dhuhur. Namun ia tak memberitahu dimana Aira tinggal

Pasalnnya beberapa hari ini seperti orang yang tak memiliki semangat hidup. Selalu mencari Aira setelah sembuh, namun kembali dengan wajah pucat dan lesu karena belum berhasil menemukannya. Akhirnya membuat Iqbal iba juga.

Tetapi tenang saja. Iqbal sudah berdiskusi terlebih dahulu dengan Andra.

Biasanya, perempuan pasti tak akan menolaknya lelaki itum Terlebih menurut Indra, Aira adalah gadis yang penurut dan baik. Jadi Indra berpikir bahwa Aira mungkin saja tidak menolaknya.

Tak lama kemudian, tampak para mahasiswa keluar dari kampus. Mata Indra langsung mencari sosok yang dicarinya.

Pandangan Indra terpaku pada sosok gadis yang berjalan sendirian. Hanya sendiri. Tidak ada teman seperti orang disekelilingnya. Namun jalannya masih terlihat sedikit pincang. Kakinya pasti masih sakit.

Gadis itu berjalan menunduk sembari kedua tangan memegang tali tas yang ada di pundak.

Indra turun dari mobilnya. Ia memperhatikan Aira. Entah kenapa tetapi ia merasa gugup. Detak jantungnya berpacu lebih cepat.

Apa ini? Seorang Indra gugup karena gadis itu?

Aira berhenti sebelum keluar gerbang. Sepertinya ia tak menyadari kehadiran Indra. Tangannya sibuk mengotak-atik ponsel.

Indra menarik napas kemudian membuangnya. Ia harus bisa.

Kaki Indra melangkah mendekati Aira.

"Assalamu'alaikum, Ra," ucap Indra.

Aira yang fokus terkejut. Suara itu ...

Aira mendongak. Menatap datar Indra yang tersenyum tipis padanya. Tipis sekali.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aira pelan. Ia menatap lurus kedepan.

"Udah pulang?"

"Iya."

Indra merutuki dirinya sendiri. Untuk apa ia bertanya seperti itu?

"Bisa ngomong sebentar nggak?"

"Maaf, tapi aku sibuk, Kak" jawab Aira dingin. Ia menyimpan ponselnya di saku gamisnya begitu melihat ojek online yang dipesannya datang.

Indra terkejut dengan perubahan yang ditunjukkan Aira. Gadis itu berubah.

"Assalamu'alaikum," ucap Aira. Ia segera melangkahkan kaki.

"Tunggu, Ra!" cegah Indra. Ia menahan lengan Aira.

"Pulang sama gue, ya?"

Aira melepaskan tangan Indra. "Maaf, udah ada jemputan." Tanpa  menunggu Indra bicara, Aira kembali melanjutkan langkah.

"Aira!" panggil Indra.

"Jalan, Pak!" ucap Aira setelah naik motor.

Indra mengusap wajahnya kasar. Tidak sesuai ekspektasi. Ia kira Aira akan mau diajak bicara dan rencananya ia akan minta maaf. Tapi ternyata Aira tak seperti itu.

Indra segera menaiki mobilnya. Ia berniat mengikuti Aira.

***

Aira menghela napas. Ia mencoba untuk menetralkan detak jantung yang berpacu lebih cepat. Bukan karena gugup, melainkan karena sesak yang tiba-tiba menyergap. Ditambah ia tadi sebenarnya menahan tangis.

Indra AiraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang