Bismillah
Happy Reading ...
***
Masa skorsing sudah habis. Hari ini Aira sudah bisa masuk kuliah lagi.
Hari Senin ia ada matkul pukul tujuh. Gadis itu berjalan pelan dengan pandangan menunduk. Sadar bahwa dirinya menjadi pusat perhatian. Apalagi ketika sudah masuk kelas.
Hawanya beda. Terasa mencekam. Kelas yang sedikit riuh itu mendadak hening tatkala ia masuk. Namun, Aira mencoba untuk tak mempedulikannya. Ada yang langsung memalingkan wajah, ada yang melihat sinis bahkan ada yang menatap tajam.
Namun, mata Aira langsung terfokus pada Keysha. Teman yang selama satu minggu ini tidak membalas pesannya sama sekali. Ia segera menghampirinya.
"Assalamu'alaikum, Key," ucap Aira seraya tersenyum tipis.
"Wa'alaikumussalam," jawab Keysha datar. Ia tidak menatap Aira.
Raut wajah Aira berubah. "Apa kabar Key? Kok kamu nggak ada balas chat aku?
Keysha melirik sekilas. "Baik." Keysha langsung berdiri membawa tasnya kemudian pindah dari tampat duduknya sekarang.
Aira menghela nafas pelan. Ia menatap sekeliling. Ia baru sadar kalau semua orang memperhatikannya. Ada yang langsung pura-pura tak melihat, bahkan ada yang saling berbisik dan tertawa sambil menatap dirinya.
Aira tak sengaja bersitatap dengan Regan. Lelaki itu langsung memalingkan wajah dan menatap buku didepannya.
Regan juga berubah. Meski Aira tak mengharapkan perhatian, tetapi ia sadar kalau Regan menjauhinya. Regan juga sudah tahu kalau Aira tinggal di apartemen yang ternyata sama dengannya.
Aira duduk.
"Enak, ya. Beasiswa dicabut, tapi tetap bisa lanjut kuliah karena dibayarin," sindir perempuan yang duduk tepat dibelakang Aira.
Aira mengepalkan tangannya. Ia memejamkan mata sembari beri-istighfar.
Matanya berkaca-kaca. Tidak ia tidak boleh lemah disini.
Aira mengatur nafasnya tatkala dosen masuk ke kelasnya.
***
Indra berada di kantor ayahnya. Hampir saja ia stress karena berita itu mengancam reputasi keluarga bahkan perusahaan. Beberapa rekan bisnis Andra juga sudah ada yang membatalkan kontrak kerjasama. Ada juga yang kembali menarik saham di perusahaan Andra karena mereka tahu kalau Indra merupakan penerus tunggal.
Dengan bukti-bukti yang ada, Andra dan Indra berusaha meyakinkan rekan kerjanya. Ada yang percaya dan ada yang tidak. Tentu saja, mereka geram terhadap pelaku yang membuat ini semua.
"Kamu punya musuh, Nak?" Entah sudah berapa kali Andra menanyakan itu.
"Indra nggak tahu, Yah." Hanya itu jawaban yang terus Indra katakan.
"Kita selesaikan masalah ini pelan-pelan. In syaa Allah ada jalan." Andra menghela napas. "Gimana keadaan istrimu?"
"Dia baik-baik aja, Yah."
"Kamu nggak KDRT, kan?" gurau Andra setelah beberapa waktu ini tegang dan serius.
"Ya enggak, lah. Indra nggak begitu, Ayah," balas Indra sedikit sewot.
"Kamu yakin dia baik-baik aja?"
Kedua lelaki berbeda usia itu sedang duduk di sofa setelah tadi rapat yang memakan waktu lama.
Indra menatap Andra. "Mmm ... Indra juga kurang tau. Kelihatannya dia baik-baik aja. Hari ini dia ke kampus untuk pertama kali setelah di skors," jelas Indra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indra Aira
Romance"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Humaira Azzahra binti Ahmad Hidayat dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Pernikahan didasari dengan keterpaksaan. Kedua insan yang awalnya tak saling mengenal menyatu dalam ikatan suci. Indra Fadil Dirgantara...
