Indra memasuki apartemennya. Kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja. Setelah pertemuannya dengan Acha tadi, ada yang tak beres dengan dirinya. Ia sadar ... ada yang belum selesai dari masalalunya.
Indra akui bahwa dirinya masih tak bisa melihat gadis itu menitikkan air mata. Itu masih menjadi kelemahannya. Begitu ia memasuki apartemen ini, perasaan bersalah yang sejak tadi dirasakannya malah semakin menjadi. Sehingga ia teringat akan sesuatu.
"Astaghfirullah! Lupa jemput Aira!" pekiknya. Mendadak jantunganya berdetak lebih cepat.
Ini salah.
Namun ketika membuka pintu, Indra terkejut mendapati istrinya sudah berada didepannya dengan ekspresi yang sama terkejutnya.
"Astaghfirullah!"
"Kak Indra ngagetin." Aira memejamkan matanya saking terkejutnya.
Indra menelan salivanya. "Kok nggak nunggu aku jemput?"
Aira menghela napas. "Udah hampir jam lima sore. Aku udah selesai kelas dari jam setengah empat tadi, Kak. Ya aku pikir Kakak sibuk jadi yaudah aku pulang aja," paparnya.
Semakin dihantam rasa bersalah. Indra menatap istrinya sendu. "Maaf."
Aira yang tadi sibuk melepas sepatunya langsung menatap Indra begitu ia mengucapkan kata maaf dengan nada pelan itu. Bahkan tatapan lelaki itu tampak sedih.
"Gapapa, Kak. Kakak lupa, ya kalau dulu aku selalu kemana-mana sendiri. Jadi kalau Kakak sibuk gitu jangan dipaksain buat jemput, ya?" Gadis itu tersenyum membuat Indra ikut menaikkan sedikit kedua sudut bibirnya. "Tapi aku yang pengen jemput kamu," ujarnya sangat lirih.
"Apa, Kak?"
Lelaki itu menggeleng. Melihat Aira sudah selesai melepas sepatunya, ia menarik tangannya lembut.
***
Makan malam kali ini Indra yang memasak. Ia tak membiarkan Aira yang memasak. Katanya sekali-kali.
"Masa aku diem aja, sih, Kak?" protesnya.
"Sst! Kamu duduk aja disitu. Biarkan chef Indra yang memasak untuk Nyonya Aira," kata lelaki itu.
Aira terkekeh geli. Tak menyangka suaminya bisa begitu.
Beberapa menit kemudian ...
"Alhamdulillaah. Masakan chef Indra sudah siap." Indra meletakkan hasil masakannya diatas meja. Sup ayam.
"Alhamdulillaah. Emm wangi banget, Kak." Aira menatap Indra dengan mata berbinar.
"Kamu duduk anteng aja disitu. Biar aku yang ambilin." Indra benar-benar tak membiarkan Aira bergerak.
"Kak."
"Ga boleh protes, Sayang."
Seketika salah tingkah. Indra terkekeh.
Keduanya makan malam dengan tenang. Indra memperhatikan Aira yang fokus makan. Sesekali gadis itu tampak menatap kosong kearah lain. Kentara sekali ada sesuatu yang ia pikirkan.
Sejak pulang tadi, lelaki itu beberapa kali memperhatikan istrinya tampak melamun. Namun ketika Aira sadar bahwa Indra melihatnya, gadis itu langsung tersenyum.
Usai makan malam dan membereskan, Indra langsung mengajak Aira untuk duduk di sofa. Ia tatap mata istrinya lekat. "Hari ini ada apa?"
Aira mengernyit. "Ada apanya, Kak?"
"Nggak mau cerita?"
Terdiam sejenak. Aira menghela napas. "Sebenernya nggak kenapa-napa. Aku tahu Regan udah kuliah lagi. Tapi ...." Aira menggantung ucapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indra Aira
Romance"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Humaira Azzahra binti Ahmad Hidayat dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Pernikahan didasari dengan keterpaksaan. Kedua insan yang awalnya tak saling mengenal menyatu dalam ikatan suci. Indra Fadil Dirgantara...
