IA 31(Belum Usai)

179 12 4
                                        

Indra keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega luar biasa. Ketegangan yang tadi melanda kini mereda. Gelar Sarjana Ekonomi sudah berhasil disandangnya. Tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk wisuda.

Lelaki itu tak henti-hentinya tersenyum. Ia bahagia, terharu dan bersyukur. "Alhamdulillaah. Makasih Ya Allah."

Indra mengambil ponsel yang sedari tadi ia simpan didalam tas. Lelaki itu ingin mengabari istrinya.

Sayangnya Indra

Assalamu'alaikum, Sayang. Alhamdulillaah aku lulus🥹

Kamu masih kelas?

Harusnya jam sembilan udah kelar ya?

Aku tunggu di gazebo samping fakultas kamu ya? Kabarin kalau ada apa-apa

Centang dua namun belum terbaca. Tak mengapa, Indra berniat ke kantin dulu untuk membeli makanan. Kemudian setelah itu menuju samping fakultas Aira untuk makan bersama.

***

"Lo gimana, sih, Ra? Kacau banget pas presentasi! Kenapa bisa salah, sih!" Ratna--rekan satu kelompok Aira marah karena presentasi mereka hari ini kacau karena gadis itu. Belum lagi Aira tampak tidak fokus dan berkali-kali salah. Akhirnya nilai mereka tak maksimal. Ratna yang merupakan mahasiswi ambisius itu tak terima nilainya anjlok kali ini.

Aira menelan salivanya. "Maaf, Na."

"Lo parah banget hari ini. Sampai kita dimarahin dosen cuma gara-gara lo tahu nggak!" bentaknya lagi.

Aira ingin menjawab. Namun seseorang dengan cepat menyela. "Santai aja kali. Semua manusia bisa salah. Nggak usah segitunya. Kayak lo nggak pernah salah aja." Aira tertegun.

Keysha. Gadis itu berdiri diambang pintu. Padahal sebelumnya ia sudah terlebih dahulu meninggalkan kelas.

"Nggak usah ikut campur lo!" bentak Ratna, kini pada Keysha.

"Lo nggak usah marahin orang sampai segitunya!" balas Keysha tak kalah sengit.

Ratna berdecak kesal. Ia menyambar tasnya kasar dan pergi begitu saja dengan langkah yang dihentakkan. Aira menghembuskan napas gusar.

Keysha menatapnya. "Ada yang nungguin di gazebo samping," katanya. Belum sempat bertanya, Keysha sudah lebih dulu pergi. Aira terdiam sejenak, kemudian beranjak dan pergi menuju tempat yang dimaksud.

"Assalamu'alaikum, Kak," ucap Aira. Indra menoleh, langsung tersenyum.

"Wa'alaikumussalam. Udah selesai?"Aira mengangguk. Ia duduk disebrang Indra. Merasa sedikit ragu karena masih banyak mahasiswa.

"Kakak dari tadi disini?"

Indra menggeleng pelan. "Nggak juga. Kamu nggak baca chat-ku?"

Aira menggeleng sembari meringis. "Tadi aku dikasih tahu temanku kalau Kakak disini."

"Begituu. Coba buka dulu, deh." Aira segera menyalakan ponselnya. Matanya membola ketika membaca pesan dari Indra. "Kakak lulus, Kak! Alhamdulillaah. Selamat, ya, Kak!"

Mata gadis itu berkaca-kaca.Indra tersenyum lebar. "Alhamdulillaah. Aku bersyukur banget. Dan makasih juga karena kamu selama ini kamu bantuin aku. Sebenarnya pengen peluk cuma nggak enak sama yang lain. Nanti iri."

Mendengar itu Aira tertawa pelan. "Bisa-bisanya Kakak. Ayah sama Mama udah Kakak beri tahu?"

Indra menggeleng. "Mereka masih diluar kota. Nanti aja buat kejutan. Hari ini sama kamu, ya?" Indra mendekatkan wajahnya. "Kita dinner romantis," bisiknya. Sontak pipi Aira bersemu. Ditambah dengan tatapan itu. Ia malu.

Indra AiraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang