Aira meletakkan tas kecilnya diatas meja setelah mengucapkan salam. Hampir pukul sepuluh malam tapi Indra belum datang menjemputnya. Bahkan sekarang apa? Suaminya itu tisak ada di apartemen. Hal itu semakin membuatnya khawatir.
"Kamu dimana, Kak?" katanya lirih.
Gadis itu sudah mengirimi pesan. Tetapi tak dibalas bahkan tak dibaca. Di telpon tak diangkat. Raut wajahnya menunjukkan kegelisahan.
"Ya Allah lindungilah Kak Indra."
***
Pukul 23.50
Indra baru sampai di parkiran. Wajahnya sudah lebam dan kebiru-biruan akibat bogeman Regan tadi. Matanya menatap kearah depan. Tidak. Lebih tepatnya tatapan kosong.
Selang beberapa detik, Indra alihkan pandangannya kearah ponsel. Ia tahu ada seseorang yang terus menerus menghubunginya sejak tadi.
Perasaan bersalah menyeruak kedalam rongga dada.
Ceklek!
Pintu terbuka. Pandangan Indra menyapu ruang tamu itu. Dan matanya terpaku pada sosok perempuan yang tidur bersandar di sofa dengan tasbih yang berada digenggaman.
Lelaki itu bergerak menghampiri. Menatap wajah yang tampak lelah itu. Jejak air mata tampak disana. Sepertinya, Aira belum lama tertidur.
"Ra," panggil Indra pelan.
Tak ada pergerakan.
"Aira," panggilnya lagi. Kali ini dengan goyangan ringan pada bahu gadis itu.
Baru gadis itu terusik. Perlahan membuka mata. Dan ...
"Kak Indra!" Matanya seketika melebar. Ia berdiri.
"Kakak darimana aja? Kakak baik-baik aja, kan? Apa yang terjadi? Kenapa lebam-labam gitu?" tanyanya beruntun.
Indra lihat raut wajah khawatir itu.
"Tadi pulang naik apa?" tanya Indra balik bertanya.
"Taksi."
"Jam?"
"Hampir jam sepuluh. Sampai sini hampir setengah sebelas."
Indra menghela napas pelan. Matanya menatap Aira lekat.
"Jangan kemana-mana. Duduk sini. Aku ambil kompresan dulu." Tanpa menunggi jawaban Indra, gadis itu berjalan cepat menuju dapur.
Tak lama kemudian, Aira datang bersama dengan nampan berisi ice berg. Ia mendudukkan dirinya disamping Indra.
"Aku izin obatin, ya?" tanyanya ragu. Memastikan apakah lelaki itu setuju atau tidak.
Lelaki itu menangguk.
Aira langsung mengompres lebam diwajah Indra dengan pelan.
"Shh!" Indra meringis.
"Tahan, ya, Kak. Emang agak sakit. Lagian Kakak ngapain sampai lebam gini," kata Aira. Pada kalinat terakhir nada bicaranya seperti mengomel. Sontak Indra melirik dari ekor matanya.
Sebenarnya Acha sudah mengobati wajahnya. Tetapi ia membiarkan Aira mengobatinya lagi.
Indra terpaku. Wajah Aira tampak serius dan fokus pada lukanya. Ia sampai tak sadar sedang diperhatikan.
Entah kenapa tapi Indra tetap merasa bersalah. Perasaan itu tak bisa ia tepis.
"Maaf," ucap Indra lirih. Aira menatapnya.
"Maaf?"
"Karena ingkar janji."
Mendengar itu, Aira baru paham. Kembali ia lanjutkan mengompres lebam di wajah Indra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indra Aira
Romance"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Humaira Azzahra binti Ahmad Hidayat dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Pernikahan didasari dengan keterpaksaan. Kedua insan yang awalnya tak saling mengenal menyatu dalam ikatan suci. Indra Fadil Dirgantara...
