Indra memasuki apartemen dengan langkah pelan. Aira sudah naik terlebih dahulu tadi sebelum ia masuk. Pandangan lelaki itu mengarah ke dapur. Terdengar suara bunyi alat masak beradu. Aroma masakan juga mulai menguar, membuat perut semakin terasa keroncongan.
Namun bukan itu yang menjadi fokusnya. Istrinya hanya diam sejak tadi. Diam Aira sungguh lebih menegangkan daripada omelannya. Bukankah itu artinya ia sudah melakukan kesalahan fatal?
Indra berjalan tanpa suara. Ia menatap Aira dari belakang. Kerudung perempuan itu sudah berganti. Tangannya lincah menumis sayur di wajah.
"Sayang," panggil Indra terdengar ragu. Namun berhasil membuat Aira menoleh sekilas. "Iya?"
Indra menghampiri. Berdiri disampingnya. "Biar aku yang masak, ya?"
"Enggak perlu, Kak. Ini sudah hampir siap. Kakak bersih-bersih aja sama ganti baju. Tapi hati-hati lukanya. Nanti setelah makan aku bantu obatin lagi," paparnya. Sekilas terdengar seperti biasa. Namun Indra merasakan perbedaan itu. Nada suaranya berbeda, datar.
"Oke," finalnya. Indra beranjak pergi ke kamar.
Setelah makan malam yang diisi keheningan itu, Aira mulai membereskan peralatan makan. Indra turut membantu. Tidak ada perbincangan diantara mereka.
"Duduk dulu, ya, Kak. Aku ambilkan obat dulu." Tanpa menunggu jawaban Indra, Aira langsung beranjak menuju kamar untuk mengambil obat.
Tak lama kemudian Aira menghampiri Indra yang sudah duduk di sofa. Wajah lelaki itu tampak pucat dengan lebam dan luka-luka di wajahnya. Aira juga membawa baskom kecil berisi air dan sebuah lap bersih untuk mengompres lebam di wajah suaminya.
Perempuan itu duduk disamping suaminya. Kemudian membukakan bungkus pil obat dan menyodorkannya pada suaminya. "Ini obatnya."
Indra menerimanya. Namun matanya tak lepas dari wajah istrinya yang matanya enggan menatapnya. Ia hanya sibuk memeras kain yang basah itu.
"Aku kompres muka Kakak, ya. Kalau sakit bilang." Ia mulai menempelkan kain dingin itu.
"Shh!" ringis Indra membuat Aira menatapnya. "Sakit banget, Kak? Maaf aku bakal lebih pelan. Tahan, ya?" ujarnya kini lebih lembut.
"Aira," Indra menahan pergelangan tangan Aira, "aku minta maaf," lanjutnya dengan suara rendah.
Aira diam sejenak. Perempuan itu menghela napas pelan. "Kenapa?"
"Aku salah."
Aira tersenyum tipis. "Biarin aku lanjutin ngompres wajah Kakak. Ini sudah malam, Kak. Kondisi Kakak juga kayak gini."
Indra menggeleng pelan. "Lebih baik kamu marahin aku daripada kamu bersikap begini, Ra. Jangan gini, ayo omelin aku aja." Mata lelaki itu sudah berkaca-kaca. Aira sempat dibuat terkejut.
"Apa yang harus aku omelin?"
Indra lebih mendekat. Ia menangkup wajah Aira. "Aku tahu kamu marah. Ra, maaf, harusnya aku nggak biarin Acha sentuh aku. Harusnya aku nggak kayak gitu tadi."
Aira mengalihkan pandangan tatkala ia mulai merasakan matanya memanas. Ia tak merespon.
Tiba-tiba Indra memeluknya. Lelaki itu meletakkan kepalanya di ceruk leher Aira. Tangannya memeluk Aira begitu erat. "Maaf, maaf sayang," suaranya bergetar karena menahan tangis. Mendengar itu, Aira membulatkan matanya.
"Kak?" Ia berusaha melepaskan pelukannya namun Indra malah semakin mengeratkannya. "Jangan bersikap seolah nggak ada apa-apa. Ayo ngomong," katanya dengan suara yang semakin serak. Setetes air mata sudah jatuh dari ujung matanya.
"Marahin aku," lanjutnya.
"Lepas dulu, ya, Kak?"
Indra menggeleng cepat. "Nggak mau."
KAMU SEDANG MEMBACA
Indra Aira
Romance"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Humaira Azzahra binti Ahmad Hidayat dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Pernikahan didasari dengan keterpaksaan. Kedua insan yang awalnya tak saling mengenal menyatu dalam ikatan suci. Indra Fadil Dirgantara...
