"Kenapa gue nggak suka tiap kali liat Aira interaksi sama cowok lain?"
_Indra_
Bismillaah ...
Happy Reading ...
***
Hari ini hari Ahad. Indra libur kuliah, begitu juga Aira. Ia memutuskan memasak sarapan. Aira memasak roti bakar dan sosis bakar sebagai isian. Sedangkan gadis itu memilih untuk memakan oseng sosis dengan nasi. Ia tidak begitu menyukai sarapan tanpa nasi.
Rumah sudah bersih dan wangi. Melihat Indra tak kunjung keluar, Aira berinisiatif untuk memanggilnya. Sejenak Aira memejamkan matanya kerena merasa pening. Ia segera mengatur napas dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Assalamu'alaikum, Kak. Sarapan udah siap!"
Hening.
"Apa Kakak belum bangun?"
Aira mengecek pintu yang ternyata terbuka sedikit. Entah dapat keberanian darimana, Aira masuk ke kamar Indra. Terlihat kamar yang rapi dan Indah.
Ternyata Indra masih tertidur dengan posisi kepala yang bisa saja membuat lehernya sakit. Indra tidur di sofa dengan laptop masih menyala.
Aira ingin membangunkan suaminya karena posisi kepalanya itu. Namun, sesuatu di laptop Indra mengalihkan atensinya.
"Album?"
Tangan Aira terulur untuk menggerakkan kursor. Ia menuju satu foto untuk melihatnya lebih jelas. Aira mematung melihat foto tersebut.
Dua orang lelaki dan perempuan yang saling berpegangan tangan. Dengan latar belakang taman. Keduanya saling melempar senyum kearah kamera. Senyum yang tak pernah Aira lihat dari suaminya.
Gadis itu pernah Aira lihat. Bukankah itu gadis yang pernah ia temui di kafe bersama Indra? Apa gadis itu pacarnya?
Melihat foto itu, ada sebuah perasaan aneh. Aira merasa tidak suka dengan foto itu. Ia terkejut ketika Indra bergerak. Segera ia kembali dan mematikan laptop Indra.
Belum sempat Aira keluar kamar, Indra lebih dulu bangun. Ia terkejut mendapati Aira di kamarnya.
"Ngapain lo di kamar gue?"
Aira tersenyum kikuk. "Tadi aku panggil Kakak buat sarapan. Tapi nggak ada yang jawab. Trus pintu Kakak nggak ke kunci, aku masuk mau bangunin Kakak. Maaf, Kak kalau aku lancang." Aira menunduk.
Indra melihat jam. "Keluar, gue mau mandi," kata Indra.
Aira mengangguk kemudian segera pergi.
Sembari menunggu Indra, Aira duduk di sofa sembari bersandar. Jari dan mulutnya bergerak. Ia sedang berdzikir sambil memejamkan mata.
Aira merasakan tubuhnya dingin. Kakinya terasa pegal dan ngilu. Ia sudah mulai merasakannya tadi malam, tetapi ini bertambah parah. Ditambah dengan hati yang merasa gelisah karena melihat foto tadi.
Indra keluar kamar dan mendapati Aira tengah duduk. Memilih mengabaikan, Indra langsung menuju dapur. Ia melihat sepiring roti isi dengan sepiring oseng sosis. Indra mengernyit. Apa gadis itu belum sarapan?
Indra mengambil roti dan memakannya. Tak lupa susu cokelat hangat kesukaannya.
Selesai sarapan, ia berniat kembali ke kamar. Namun ia teringat perkataan ayahnya kemarin malam. Ia menghampiri Aira.
"Aira."
Aira membuka matanya. Ia bangkit dari sandaran. "Iya, Kak?" Ia tersenyum.
Indra gagal fokus dengan wajah Aira yang terlihat pucat dan matanya tampak berair.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indra Aira
Romance"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Humaira Azzahra binti Ahmad Hidayat dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Pernikahan didasari dengan keterpaksaan. Kedua insan yang awalnya tak saling mengenal menyatu dalam ikatan suci. Indra Fadil Dirgantara...
