IA 20 (Menyesal)

849 20 0
                                        

Bismillah

***

Indra kembali ke apartemennya. Entah kemana Ayahnya membawa Aira pergi.

"Maafin gue, Ra. Gue emang salah," lirih Indra. Ia menatap ponsel Aira yang berada di tangannya.

Ponsel itu tadi diberikan polisi sebelum membawa Acha dan Regan.

Acha dan Regan. Indra sudah tidak peduli. Acha juga terlibat dalam penculikan itu. Artinya memang ada persengkokolan diantara mereka.

Ya, Indra belajar untuk tidak langsung mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dan mencari tahu kebenarannya. Akibatnya seperti ini.

Hampa kembali dirasakannya. Selama Aira pergi, makannya kembali tak teratur. Indra lebih sering memesan makanan ketika hanya memang sudah merasa lapar.

Di semester ini, seharusnya ia lebih fokus. Tetapi malah tidak bisa.

"Pulang, Ra."

***
Keesokan paginya ...

"Kak Iqbal," panggil Aira.

"Iya?" sahut Iqbal yang tengah mengupas buah.

"Kakak marah sama Kak Indra?"

Iqbal terdiam.

"Kak Indra cuma salah paham. Kak Indra nggak pernah nyakitin Aira. Kemarin itu emang marah karena Kak Indra lihat foto-foto dan vidio itu. Siapa yang nggak marah coba?" kata Aira.

Iqbal berdiri tegak. Menatap Aira. "Katanya dia nggak cinta sama kamu. Kalau gitu, untuk apa dia marah?"

Aira diam sejenak.

"Karena aku masih berstatus istri. Emang aku juga salah," jawabnya pelan.

Iqbal menghela nafas. "Trus kamu mau balik sama dia kalau misalnya dia ngajak balikan?"

Aira terkekeh pelan. "Emang pacaran?"

"Misal, Ai. Maksudnya apa kamu bakal balik tinggal sama Indra?"

"Aku kan nggak bahas itu. Aku cuma kasih tahu Kakak. Kakak perhatiin Kak Indra, ya? Kak Indra itu sahabat Kakak, kan?" kata Aira.

Iqbal geleng-geleng kepala. "Kakak tau kamu kecewa. Tapi gini-gini peduli juga."

Aira tersenyum simpul. Memang benar dirinya kecewa. Namun saat itu memang Indra hanya salah paham.

Disisi lain, Indra berencana untuk terus mencari Aira. Ia takkan menyerah untuk menemukan gadis yang masih berstatus istrinya itu.

Bahkan ia setiap hari ke kampus untuk mencarinya.

Namun ...

Sudah tiga hari berlalu dan lelaki itu masih belum menemukan Aira. Dan sekarang Indra jatuh sakit. Sejak mencari Aira, kesehatan Indra menurun.

"Istri macam apa. Suaminya sakit malah nggak ada," gerutu Indra. Ia bilang begitu karena rindu sebenarnya. Namun masih tak ia akui.

Tiba-tiba bel berbunyi.

"Ck! Siapa, sih!" Dengan rasa ngilu di persendiannya, Indra bangkit dari sofa menuju pintu utama.

Ia sedikit terkejut dengan kehadiran Iqbal.

Tiga hari ia juga tidak ke kafe dan bertemu sahabatnya.

Indra tersenyum tipis. "Masuk, Bro."

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Nah, kan. Malah ingat Aira lagi.

Indra kembali berbaring di sofa.

"Lo sakit?" tanya Iqbal berusaha biasa saja. Ia berusaha untuk tidak mengingat masalah itu.

"Iya. Sorry, ya. Kalau lo mau minum atau apa ambil aja di dapur."

Iqbal duduk. "Sejak kapan lo sakit?"

"Tiga hari yang lalu."

Iqbal manggut-manggut. Tak tega juga melihat kondisi sahabatnya ini.

Indra menatap Iqbal. "Lo serius nggak tahu dimana dia?" Tuh, kan. Pasti ditanyain.

Iqbal menghela nafas. "Mau ngapain, sih ketemu Aira?"

Indra berusaha bangun.

"Eh, rebahan aja!" Iqbal terkejut.

Indra tetap bangun. Ia bersandar dan menatap Iqbal.

"Gue mau minta maaf. Bal, gue dihantui rasa bersalah. Gue salah, Bal. Dan gue juga pengen tau keadaan Aira gimana sekarang." Indra malah bersemangat. Ia lupakan sakitnya.

Iqbal menatap Indra miris. "Keliatan ngenes banget idup lo," batin Iqbal.

"Lo sahabat gue, kan? Dan lo Kakaknya Aira. Lo nggak bohongin gue, kan? Iqbal gue janji nggak bakal nyakitin dia lagi."

Iqbal bersandar sembari melipat kedua tangannya. "Tapi kalau misal Aira yang nggak mau ketemu sama lo?"

Deg!

Seperti ada yang menghantam dadanya. Indra tak percaya kalau Aira begitu.

Indra menelan salivanya. "Tapi gue mau ketemu dia," katanya pelan.

"Ngapain ketemu sama lo lagi? Lo juga nggak mau, kan sebenarnya sama pernikahan kalian?"

Indra menghela nafas. Ia kembali lemas. Entah apa yang ia rasakan. Tetapi fokusnya adalah ingin bertemu dengan Aira.

"Aira benci sama gue?" tanya Indra.

"Kurang tahu. Tapi Aira nggak kayak gitu. Mungkin dia masih kecewa."

Indra diam dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala. Iqbal yang melihat kondisi sahabatnya itu merasa iba. Ditinggal Acha saja Indra tidak sampai seperti ini.

Iqbal sengaja tak memberitahu Indra bahwa ia tahu dimana Aira.

"Dari kemarin gue datengin kelasnya. Dia nggak ada. Keterangannya sakit. Ya pastilah. Setelah apa yang diperbuat Regan. Tapi itu bikin gue makin khawatir." Indra terus bicara. Iqbal hanya diam mendengarkan.

Mata Indra mulai memanas dan berkaca-kaca. Mengingat kejadian dimana ketika dari kejauhan ia melihat Aira tersungkur akibat balok kayu yang dilemparkan ke kakinya, dan ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Regan mencoba menarik paksa kerudung yang dikenakan Aira.

Dan yang paling membekas dipikirannya sampai saat ini adalah, ketika ia melihat bagaimana gadis itu berteriak kesakitan, menangis histeris karena mempertahankan kerudungnya juga tatapan terluka itu.

Indra tidak akan lupa.

Dan setiap kali teringat itu, hatinya ikut sakit. Matanya memanas. Tanpa ia sadari.

"Siapa yang ngerawat Aira, Bal? Dia aman atau enggak?" tanya Indra dengan suara lirih. Tenggorokannya terasa tercekat. Untuk menelan saliva saja rasanya tak mudah.

Iqbal menghela napas. "Ayah lo yang jagain. Lo pasti paham kalau Ayah lo nggak mungkin biarin Aira terlantar gitu aja. Saran gue, lo nggak usah capek-capek mikirin Aira. Aira aman dan ada yang jaga. Gue sebagai Kakaknya juga," kata Iqbal. Berhenti sejenak untuk menatap Indra.

"Lo nggak terima pernikahan ini, kan? Lepasin aja Aira. Gue sebagai Kakaknya In syaa Allah masih sanggup jagain dia. Kalian nggak saling cinta juga, kan?" Mendengar itu sontak Indra menatap Iqbal.

"Maksud lo apa?" tanya Indra lirih. Yang sebenarnya pertanyaan itu hanya keluar untuk bersuara.

Iqbal mengendiikan bahu. "Lo harusnya ngerti maksud gue. Jujur aja gue masih nggak terima lo tuduh adik gue kayak gitu. Males juga gue samperin lo hari ini. Tapi ternyata, lo juga lagi sakit." Ia berdiri. "Gue masakin bubur."

Iqbal meninggalkan Indra yang terdiam. Memikirkan perkataannya.

Bersambung ...

Bismillah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah bisa update, yaa. Makasih yang udah baca, kalian orang baik.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Indra AiraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang