IA 33 (Ada apa?)

274 7 4
                                        

Baca kalimat basmalah dulu sebelum membaca. Sholawat juga ya.

Happy reading guys ...

***

Sejak kejadian kemarin, sikap Aira tampak berubah. Ia selalu menanyakan hal-hal yang lebih detail kepada suaminya. Seperti ...

"Habis dari kantor ini Kakak kemana?" tanya Aira sembari memakaikan jas kantor Indra.

"In syaa Allah langsung ke kafe, Sayang. Kamu kelas hari ini jam berapa?"

"Aku sampai jam sepuluh aja, Kak. Dua matkul aja hari ini," kata Aira.

Indra merasa ada yang berbeda dari wajah istrinya. Ia menahan tangannya. "Bentar, Ra. Aku perhatiin dari tadi pagi kamu pucat. Kamu sakit?" Indra langsung memegang kening Aira.

Aira menggeleng. "Enggak, Kak. Aku baik-baik aja."

"Tapi hangat, Ra."

"Emang hangat, Kak. Kalau dingin beda lagi ceritanya. Akhir-akhir ini tugas kuliah aku makin banyak. Aku juga sudah mulai mikirin judul proposal aku. Nggak tahu kenapa kayak capek aja gitu. Kakak 'kan sudah mengalami, pasti Kakak paham," ujarnya.

Indra menatap sendu. "Kamu tahu apa yang bikin aku suka kesal sama kamu?"

Mendengar itu, sontak Aira menatapnya.

"Kamu itu nyebelin," lanjutnya.

Alis Aira bertaut. "Aku nyebelin? Nyebelin gimana?"

"Aku sering perhatiin raut wajah kamu yang tiba-tiba berubah murung waktu kita lagi nggak ngobrol. Bahkan aku pernah nggak sengaja nangkap muka kamu kayak lagi nahan nangis gitu, matamu berkaca-kaca. Kamu pikir aku nggak tahu?" kata Indra.

"Cuma aku nggak mau bertanya dulu karena aku pengen kamu yang inisiatif cerita dulu," lanjutnya.

Aira menelan salivanya. Tak menyangka Indra akan mengatakan hal ini.

"Kakak mau dengar cerita aku?" tanyanya pelan.

"Ya jelaslah, Sayang. Masa kamu mesti aku paksa dulu buat cerita? Aku nggak mau maksa tapi aku juga nggak mau kamu memendam kayak gitu. Aku suami kamu, bukan orang lain," kata Indra memberikan penekanan pada setiap kata.

"Aku merasa jadi suami yang nggak berguna tahu nggak?"

Mata Aira membola. "Nggak gitu, Kak." Ia reflek menggeleng.

"Nggak gitu, tapi itu yang aku rasakan. Aku nggak tahu apa yang dirasakan istriku, aku nggak ngerti dia. Sikap kamu ini membuat aku merasa bahwa kamu emang belum nyaman sama aku. Aku overthinking, Ra," papar Indra dengan raut wajah sendunya.

Aira memegang tangan Indra. "Bukan itu. Aku nyaman. Kakak jangan berpikir gitu lagi, ya?"

"Terus kenapa nggak mau terbuka?"

Perempuan itu menunduk. "Emang udah kebiasaan, Kak."

Indra menarik tangan Aira pelan. Mengajak duduk. "Ayo duduk dulu." Keduanya duduk di sofa. "Bisa cerita sesuatu sekarang?"

Indra AiraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang