IA 16 (Hampa)

635 17 0
                                        

Usai sholat tahajud dan solat taubat, Aira duduk bersandar ditepi kasur. Ia terus beristighfar. Memohon ampun kepada Allah. Sejujurnya hatinya tadi masih sakit karena tindakan Regan yang dengan lancang memeluknya. Namun bentakan Indra ternyata juga tak kalah menyakiti hatinya.

Namun, gadis itu juga merasa bersalah.

"Maafin hamba Ya Allah," ucapnya lirih.

Sementara di samping kamar itu, seorang pemuda tampak fokus pada layar laptop didepannya. Padahal, pikirannya kacau balau. Entah kenapa, pikirannya selalu tertuju pada Aira dan foto itu.

Sekilas terlintas bayangan Aira yang terperanjat kaget saat dirinya membentaknya. Sungguh, ada sesuatu yang membuat Indra tak tega sebenarnya. Hatinya ikut tak nyaman melihat bagaimana gadis itu terkejut dan menangis karena ulahnya. Sesuatu yang tak mau ia akui.

***
Keesokan harinya ...

Aira tetap memasak sarapan seperti biasa. Kali ini ia memasak nasi goreng spesial untuk suaminya. Gadis itu mencoba untuk upaya membujuk Indra.

Bertepatan dengan sarapan yang sudah jadi, langkah kaki terdengar.

Aira tersenyum. "Kak Indra, sarapan udah siap," panggilnya. Mencoba untuk tetap bersuara seperti biasa.

Gadis itu menghampirinya Indra yang sibuk memasukkan laptop dan barang-barang lain ke tasnya.

"Kak, ayo sarapan dulu. Aku udah masakin nasi goreng. Ada baksonya tauu," katanya.

Tanpa menatap ataupun melirik, Indra beranjak pergi. Aira tak berhenti.

"Kak sayang nasinya kalau nggak dimakan. Seenggaknya sarapan dulu. Jangan nggak sarapan." Gadis itu menyeimbangkan langkah Indra. Kemudian langkah kaki itu berhenti.

"Gue bilang apa malam tadi, hah?" tanya Indra datar.

Aira langsung diam.

"Nggak usah sok baik."

Indra langsung beranjak pergi meninggalkan Aira yang masih terdiam. Ia menyambar tasnya dengan cepat dan berjalan keluar dari apartemen itu. Menyisakan ruang sepi yang menyesakkan.

''Astaghfirullah,'' ucap Aira. Gadis itu melirik kearah ruang makan. Ada sepiring nasi goreng kesukaan suaminya yang bahkan tak disentuh olehnya. Jadi begini rasanya ketika masakan yang telah dibuat tak dimakan oleh sang suami.

Ia tersenyum pahit. Tidak, bukan saatnya untuk berpikir menyerah semudah itu. Semua ini hanya salah paham. Indra tak tahu apa yang terjadi disana sebenarnya.

''Ayo berjuang. Jangan lemah dan menyerah secepat ini.''

***

Azan maghrib berkumandang. Pas sekali Indra hampir melewati masjid As-Salam. Masjid dimana Aira dulu mengikuti kajian.

Indra memberhentikan motornya. Entah kenapa, ketika mendengar azan, ia merasa tenang.

Ketika Azan telah selesai, Indra bersiap untuk pergi.

Namun ...

"Assalamu'alaikum,"" ucap seseorang hampir mengejutkan Indra.

Indra menoleh. "Wa'alaikumussalam."

Indra AiraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang